Hong Myung-bo Mundur, Kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 Buka Babak Baru Reformasi Timnas

5 Min Read
Hong Myung-bo mengundurkan diri usai Korea Selatan gagal lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. (GH/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – Berakhir sudah periode kedua Hong Myung-bo sebagai pelatih Tim Nasional Korea Selatan. Senin (29/6/2026), legenda sepak bola Negeri Ginseng itu resmi mengundurkan diri sehari setelah Taeguk Warriors dipastikan gagal melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Keputusan tersebut tidak mengejutkan. Sejak Korea Selatan kehilangan peluang lolos dari fase grup, tekanan terhadap Hong Myung-bo terus meningkat. Publik dan media menilai pencapaian tim tidak sebanding dengan kualitas skuad yang dimiliki maupun target yang dipasang sebelum turnamen dimulai.

Dalam pernyataan resminya yang dikutip Yonhap News Agency, Hong lebih dahulu menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung sebelum mengumumkan pengunduran dirinya.

“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada para penggemar dan pendukung sepak bola Korea Selatan. Hari ini saya mengundurkan diri dari tim nasional sepak bola,” ujar Hong Myung-bo.

Pernyataan itu menjadi penutup perjalanan yang penuh tekanan selama hampir dua tahun memimpin kembali tim nasional senior Korea Selatan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Mengulang Kegagalan Satu Dekade Lalu

Pengunduran diri Hong Myung-bo sekaligus mengulang cerita yang pernah terjadi setelah Piala Dunia 2014. Saat itu, ia juga harus meninggalkan kursi pelatih setelah Korea Selatan gagal menunjukkan performa yang diharapkan.

Ketika kembali dipercaya menangani tim nasional pada Juli 2024, ekspektasi publik begitu tinggi. Pengalaman internasional yang dimilikinya, ditambah status sebagai salah satu legenda terbesar sepak bola Asia, diyakini mampu membawa Korea Selatan kembali bersaing di level tertinggi.

Namun realitas di Piala Dunia 2026 berkata lain.

Meski diperkuat sejumlah pemain yang tampil di liga-liga elite Eropa, Korea Selatan gagal memanfaatkan peluang lolos dari Grup A yang dihuni tuan rumah Meksiko, Afrika Selatan, dan Republik Ceko.

Dua kekalahan identik 0-1 dari Afrika Selatan dan Meksiko menjadi pukulan telak bagi ambisi Taeguk Warriors. Kemenangan 2-1 atas Republik Ceko hanya memberi tambahan tiga poin yang belum cukup untuk membawa mereka lolos melalui jalur delapan peringkat ketiga terbaik.

- Iklan -
Ad image

Harapan tersebut akhirnya pupus setelah hasil pertandingan di grup lain tidak menguntungkan Korea Selatan.

Hong Memilih Bertanggung Jawab

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Hong mengungkapkan bahwa setiap keputusan yang diambil selama menangani tim nasional selalu dilandasi satu pertanyaan mendasar.

“Selama dua tahun terakhir saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama setiap kali harus mengambil keputusan penting, memilih pemain, atau mempersiapkan sesi latihan dan pertandingan: apakah ini pilihan yang tepat untuk sepak bola Korea?”

Pernyataan tersebut mencerminkan besarnya beban yang dipikul seorang pelatih tim nasional di negara yang memiliki budaya sepak bola kompetitif serta ekspektasi publik yang tinggi.

Alih-alih menunggu evaluasi federasi, Hong memilih mengambil tanggung jawab secara langsung dengan mengundurkan diri.

Langkah itu dinilai sebagai bentuk akuntabilitas atas target yang gagal dicapai, sekaligus membuka jalan bagi Federasi Sepak Bola Korea Selatan untuk segera menentukan arah baru tim nasional.

Dari Libero Legendaris Menuju Pelatih

Terlepas dari hasil yang diperoleh sebagai pelatih, nama Hong Myung-bo tetap memiliki tempat istimewa dalam sejarah sepak bola Asia.

Semasa menjadi pemain, ia dikenal sebagai bek tengah modern dengan kemampuan membaca permainan yang luar biasa. Julukan “The Eternal Libero” lahir berkat ketenangan, visi bermain, serta akurasi distribusi bola dari lini belakang.

Hong menjadi pemain Asia pertama yang tampil pada empat edisi Piala Dunia berturut-turut, yakni 1990, 1994, 1998, dan 2002.

Puncak kariernya terjadi pada Piala Dunia 2002 ketika memimpin Korea Selatan menembus semifinal sebagai kapten tim. Prestasi tersebut membuatnya meraih penghargaan Bronze Ball sekaligus masuk dalam daftar FIFA 100 pilihan legenda Brasil, Pelé.

Selepas pensiun, Hong melanjutkan karier sebagai pelatih dan sempat membawa Timnas Korea Selatan U-23 meraih medali perunggu Olimpiade London 2012, salah satu pencapaian terbaik sepak bola Korea di level Olimpiade.

Evaluasi yang Tak Lagi Sekadar Soal Pelatih

Kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 diperkirakan akan memicu evaluasi menyeluruh, bukan hanya terhadap posisi pelatih kepala.

Sejumlah analis sepak bola Korea menilai persoalan tim nasional tidak semata berkaitan dengan strategi pertandingan, tetapi juga menyangkut regenerasi pemain, efektivitas kompetisi domestik, pengembangan talenta muda, hingga arah pembinaan jangka panjang yang dijalankan federasi.

Hong memang menjadi figur yang paling bertanggung jawab secara teknis. Namun tersingkirnya Korea Selatan sejak fase grup juga membuka kembali diskusi mengenai perlunya reformasi sistem sepak bola nasional agar mampu mempertahankan status sebagai salah satu kekuatan utama Asia.

Dengan mundurnya Hong Myung-bo, Federasi Sepak Bola Korea Selatan kini menghadapi pekerjaan besar: mencari sosok pelatih baru sekaligus membangun kembali kepercayaan publik setelah hasil mengecewakan di Piala Dunia 2026.(*)

Share This Article