Sumur Bor Bantuan Don Muzakir Selamatkan Sawah Adat Banokeling dari Kekeringan, Petani Masih Butuh 19 Titik Lagi

4 Min Read
Sumur bor bantuan Don Muzakir, sangat membantu masyarakat adat di musim kering saat ini (foto: Darno)

Bantuan dari Bapak Don Muzakir ini sangat membantu semangat masyarakat adat. Terutama karena ada perhatian dan dukungan langsung dari beliau

INIBANYUMAS – Di tengah musim kemarau yang mulai mengeringkan areal persawahan di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, sebuah sumur bor bantuan Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia (TMI), Don Muzakir, menjadi penopang harapan bagi petani adat Banokeling.
Sumur bor yang dibangun secara swadaya atas dukungan Don Muzakir tersebut kini telah mampu mengairi sekitar tiga hektar lahan sawah yang sebelumnya terancam mengalami kekeringan. Bantuan itu diperuntukkan bagi Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling yang tergabung dalam Kelompok Tani Muda Banokeling.
Ketua Kelompok Tani Muda Banokeling, Edi Sudarnoto, mengatakan keberadaan sumur bor tersebut bukan hanya menghadirkan sumber air, tetapi juga membangkitkan optimisme para petani adat untuk tetap bertanam pada musim kemarau.
“Bantuan dari Bapak Don Muzakir ini sangat membantu semangat masyarakat adat. Terutama karena ada perhatian dan dukungan langsung dari beliau. Petani di sini menjadi lebih bersemangat karena merasa ada yang memperhatikan dari tingkat pusat,” ujar Edi, Sabtu (18/7/2026).
Meski demikian, satu unit sumur bor tersebut baru mampu melayani sekitar tiga hektar lahan. Sementara itu, masih terdapat kurang lebih 40 hektar sawah tadah hujan di wilayah Banokeling yang belum memperoleh pasokan air pada musim kemarau.
Artinya, sedikitnya masih dibutuhkan sekitar 19 titik sumur bor tambahan agar seluruh lahan pertanian dapat memperoleh layanan irigasi yang memadai dan petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
Menurut Edi, pembangunan sumur bor tersebut juga memerlukan biaya yang lebih besar daripada perkiraan awal. Kedalaman sumber air tanah serta kebutuhan jaringan pipa distribusi membuat anggaran membengkak.
“Awalnya kami memperkirakan biayanya hanya sekitar Rp10 juta sampai Rp15 juta. Namun setelah pengerjaan berjalan, ternyata kebutuhan instalasi pipa cukup panjang dan kedalaman pengeboran lebih besar dari perkiraan. Total biaya akhirnya mencapai sekitar Rp24 juta,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh proses pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh warga masyarakat adat Banokeling.
“Untuk tenaga kerja tidak ada yang dibayar. Semua dikerjakan secara gotong royong oleh warga. Jadi biaya tersebut murni untuk pengeboran, instalasi pipa, pompa, dan perlengkapan lainnya,” ujarnya.
Semangat swadaya itu lahir karena selama ini wilayah pertanian adat Banokeling belum banyak tersentuh program pembangunan irigasi modern. Sebagian besar sawah masih mengandalkan air hujan, sehingga ketika musim kemarau datang produktivitas pertanian langsung menurun.
Padahal, pemerintah dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong program penyediaan air irigasi melalui pembangunan sumur bor pertanian di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya menjaga produksi pangan nasional. Program tersebut umumnya diprioritaskan pada kawasan sentra produksi yang mengalami kekurangan air.
Namun, menurut petani setempat, wilayah adat Banokeling hingga kini belum memperoleh bantuan sumur bor pemerintah dalam jumlah yang memadai. Kondisi itu membuat masyarakat memilih bergotong royong mencari solusi sendiri sambil berharap adanya perhatian lebih besar dari pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Bagi masyarakat Banokeling, air bukan sekadar kebutuhan pertanian, melainkan penentu keberlangsungan kehidupan desa. Dengan tersedianya air, musim tanam dapat terus berlangsung, hasil panen tetap terjaga, dan ketahanan pangan masyarakat adat dapat dipertahankan meski kemarau berlangsung lebih panjang.
Keberhasilan satu sumur bor ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara dukungan tokoh nasional dan semangat gotong royong masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata. Meski demikian, kebutuhan pembangunan 19 sumur bor tambahan masih menjadi pekerjaan besar agar seluruh sekitar 40 hektar lahan sawah di wilayah adat Banokeling dapat terairi secara merata pada musim kemarau.***
Share This Article
error: Content is protected !!