Lalu ia melihat tangan yang dulu pernah menggenggam poster, sekarang gemetar karena terlalu lama tidak dipakai untuk apa-apa.
DARMEDIANETWORK – Pagi itu, sebuah kursi tiba-tiba menjadi sangat penting.
Tidak ada yang tahu sejak kapan kursi itu penting. Kemarin ia cuma kursi. Kayunya biasa, sandarannya agak miring, salah satu kakinya pernah diganjal potongan kardus bekas bungkus mi instan.
Tetapi pagi ini, kursi itu dijaga dua orang. Siang hari dijaga empat. Sore hari sudah ada orang yang mengambil foto di depannya.
“Ini kursi siapa?” tanya seseorang.
“Pejabat,” jawab orang di sebelahnya.
“Pejabat siapa?”
“Belum tahu.”
“Kalau belum tahu, kok sudah pejabat?”
Orang itu mengangkat bahu.
“Begitulah.”
Malamnya, nama seseorang muncul.
Nama yang kemarin tidak pernah terdengar dalam rapat-rapat panjang. Tidak pernah terlihat ketika orang-orang berjalan kaki membawa poster. Tidak pernah ikut tidur di lantai ketika perjuangan belum menghasilkan apa-apa. Tidak pernah datang ketika pintu ditutup dari dalam dan para pejuang terpaksa berdebat dengan tembok.
Tetapi pagi itu namanya sudah dicetak tebal. Namanya ada di spanduk. Namanya disebut dalam sambutan. Namanya masuk ke grup. Namanya menjadi bahan pembicaraan. Dan, entah bagaimana, kursi itu menjadi miliknya.
“Dia pendatang,” kata seseorang.
“Pendatang dari mana?”
“Dari luar.”
“Kalau begitu dia tidak tahu jalan.”
“Justru karena tidak tahu jalan, dia diberi peta.”
“Yang menggambar petanya siapa?”
“Pejuang.”
“Yang berjalan siapa?”
“Pejuang.”
“Yang sampai duluan?”
“Dia.”
Semua terdiam. Kemudian terdengar suara tepuk tangan. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai.
Tetapi setelah tepuk tangan pertama, tepuk tangan menjadi kewajiban.
Di sebuah warung kopi, para pejuang berkumpul. Mereka duduk mengelilingi meja yang catnya mengelupas.
Ada yang membawa bekas luka di tangan. Ada yang membawa kuitansi utang. Ada yang membawa foto-foto perjuangan.
Ada yang hanya membawa cerita.
“Jadi sekarang bagaimana?” tanya seorang pejuang tua.
“Bagaimana apanya?”
“Kita kan sudah menang.”
“Menang apa?”
“Pertarungan.”
“Kalau sudah menang, kenapa kita masih duduk di sini?”
Tak ada yang menjawab.
Mereka saling pandang. Ternyata kemenangan mempunyai sifat yang aneh. Ia tidak selalu datang bersama orang yang memperjuangkannya.
Kadang kemenangan seperti ayam kampung. Dikejar ramai-ramai. Yang menangkap orang lain. Yang makan orang lain. Yang dapat bulunya orang lain.
Yang kebagian kotorannya, biasanya yang dari awal memelihara.
“Barangkali kita salah,” kata seorang pejuang muda.
“Salah apa?”
“Kita terlalu sibuk berjuang.”
Yang lain tertawa. Bukan karena lucu. Karena tidak tahu harus menangis di mana.
Beberapa hari kemudian, si pendatang datang menemui mereka. Ia memakai pakaian rapi.
Sepatunya bersih. Senyumnya sudah dilatih.
“Saya berterima kasih kepada semua pejuang,” katanya.
Para pejuang tersenyum.
“Saya tidak mungkin sampai di sini tanpa perjuangan kalian.”
Para pejuang tersenyum lebih lebar.
“Saya akan membawa semangat perjuangan ini.”
Para pejuang mengangguk.
Kemudian ia duduk di kursi.
Kursi yang dahulu diganjal kardus.
Sekarang kursi itu sudah diganti.
Kayunya baru. Catnya mengilap.
Ada ukiran kecil di sandarannya:
UNTUK PERJUANGAN.
Seorang pejuang mendekat.
“Maaf.”
“Ya?”
“Boleh saya bertanya?”
“Tentu.”
“Siapa pejuang sebenarnya?”
Si pendatang tersenyum.
Pertanyaan itu rupanya sudah diperkirakan.
“Semua orang adalah pejuang.”
“Termasuk yang baru datang?”
“Tentu.”
“Yang kemarin tidak ikut?”
“Setiap orang punya waktunya sendiri.”
“Kalau begitu, kami yang kemarin bagaimana?”
“Jangan berpikir tentang kemarin.”
“Kenapa?”
“Karena kita sedang membangun masa depan.”
Pejuang itu diam. Ia melihat kursi. Ia melihat namanya sendiri yang tidak pernah tertulis di mana-mana.
Lalu ia melihat tangan yang dulu pernah menggenggam poster, sekarang gemetar karena terlalu lama tidak dipakai untuk apa-apa.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “perjuangan itu milik siapa?”
Si pendatang berdiri.
“Perjuangan milik semua.”
“Dan hasilnya?”
Si pendatang tersenyum.
“Itu urusan nanti.”
Malam semakin larut. Para pejuang pulang satu per satu. Tidak ada kamera. Tidak ada sambutan. Tidak ada spanduk.
Di jalan, mereka berjalan melewati tembok yang dulu mereka cat bersama. Catnya mulai pudar. Seseorang berhenti. Ia menyentuh tulisan di tembok itu.
PERJUANGAN BELUM SELESAI.
Ia mengusap debu dengan telapak tangan.
Di bawah tulisan itu ternyata ada kalimat lain yang hampir hilang.
Ia membacanya pelan-pelan.
PEJUANG JUGA BELUM TENTU MENIKMATI HASIL PERJUANGANNYA.
Ia tertawa kecil.
“Kalimat siapa ini?”
“Entahlah.”
“Kenapa ditulis?”
“Barangkali orang yang tahu.”
Mereka kembali berjalan.
Di kejauhan, lampu gedung tempat si pendatang duduk masih menyala.
Kursinya tampak dari jendela.
Sangat terang. Sangat tinggi.
Sangat nyaman.
Sementara di luar, para pejuang pulang membawa satu pertanyaan yang sama:
Kalau perjuangan bisa dimenangkan tanpa pejuangnya, sebenarnya yang diperjuangkan itu apa?
Pagi berikutnya, pertanyaan itu hilang. Digantikan sebuah spanduk baru. Di atasnya tertulis:
SELAMAT DATANG, PEJUANG-PEJUANG BARU.
Di bawah tulisan itu ada nama seseorang.
Nama yang kemarin belum pernah terdengar. Dan di sudut paling bawah, dengan huruf sangat kecil, ada tulisan:
Pejuang lama harap maklum.
Aris Munandar, aktifis ’98 yang memilih jadi petani tinggal di Magelang