Ada orang yang disebut mempunyai tangan dingin.
DARMEDIANETWORK – Apa pun yang ditanamnya seperti mempunyai alasan untuk hidup. Bibit yang bagi orang lain tampak biasa saja, di tangannya tumbuh. Tanaman yang semula merana perlahan menghijau. Tanah yang tampak kering pun, setelah dirawat, seperti menemukan kembali ingatannya tentang kesuburan.
Orang lalu menyebutnya sederhana: tangan dingin.
Tetapi mungkin yang dingin bukan tangannya. Yang berbeda adalah cara ia memperlakukan kehidupan.
Berkebun lebih dari sekadar bercocok tanam. Ia adalah latihan untuk hadir. Tubuh bergerak, tangan menyentuh tanah, mata mengamati perubahan daun, batang, bunga dan buah. Pikiran yang biasanya berlari ke mana-mana dipaksa berhenti sejenak, memperhatikan sesuatu yang tumbuh perlahan.
Tanaman tidak pernah tergesa-gesa.
Ia tidak mengenal target harian sebagaimana manusia mengenal angka. Ia tidak bertanya berapa banyak pengikutnya, berapa besar penghasilannya, atau kapan harus terlihat berhasil. Ia tumbuh menurut hukum kehidupan yang tidak selalu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa manusia.
Karena itu berkebun sesungguhnya juga latihan batin.
Ketika seseorang menyiram tanaman, ia sedang belajar bahwa kehidupan membutuhkan perhatian. Ketika ia membersihkan gulma, ia belajar bahwa tidak semua yang tumbuh harus dipelihara. Ketika ia melihat daun menguning, ia belajar bahwa perubahan kecil adalah tanda yang perlu dibaca.
Di situlah kepekaan tumbuh.
Pikiran sadar diarahkan untuk memperhatikan. Bukan sekadar melihat, melainkan mengamati. Bukan sekadar menyentuh tanah, melainkan merasakan perubahan kelembapannya. Bukan sekadar melihat langit mendung, melainkan membaca kemungkinan yang dibawanya bagi tanaman.
Lama-kelamaan seseorang seperti mempunyai bahasa lain.
Bahasa yang tidak terdiri atas kata-kata.
Daun yang menggulung mempunyai pesan. Warna tanah mempunyai pesan. Serangga yang datang mempunyai pesan. Burung yang berpindah tempat mempunyai pesan. Angin yang berubah arah, embun yang lebih lama bertahan, bahkan bau tanah setelah hujan, semuanya dapat menjadi semacam kode alam.
Barangkali inilah yang oleh orang desa disebut sebagai rasa.
Rasa bukan sesuatu yang mistis semata. Ia dapat lahir dari pengalaman panjang, perhatian yang terus-menerus, dan kesediaan manusia untuk tidak merasa paling tahu.
Petani yang setiap hari berada di sawah pada akhirnya mengetahui perubahan cuaca bukan hanya dari ramalan. Ia membaca langit. Ia mengenali tanah. Ia memperhatikan perilaku hama. Ia tahu kapan air harus ditambah dan kapan justru harus dihentikan.
Pengetahuan seperti itu tidak selalu tertulis dalam buku.
Ia tersimpan dalam tubuh.
Dan tubuh yang terus berhubungan dengan alam sesungguhnya sedang belajar kembali menjadi bagian dari alam.
Di tengah kehidupan modern yang semakin banyak berlangsung melalui layar, kemampuan semacam itu menjadi semakin penting. Kita dapat mengetahui harga saham dalam hitungan detik, membaca berita dari belahan dunia lain, bahkan meminta mesin menghitung sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari.
Tetapi kita kadang kehilangan kemampuan membaca tanah di bawah kaki sendiri.
Kita tahu apa yang sedang menjadi tren, tetapi tidak tahu mengapa tanaman di halaman mulai layu.
Kita tahu kapan harga komoditas naik, tetapi tidak selalu tahu kapan tanah membutuhkan istirahat.
Kita dapat berbicara panjang tentang pembangunan, tetapi lupa bahwa semua pembangunan pada akhirnya berdiri di atas tanah.
Karena itu, berkebun sesungguhnya mempunyai dimensi yang lebih dalam daripada sekadar hobi.
Ia dapat menjadi cara manusia memulihkan hubungan dengan kehidupan.
Orang yang tekun merawat tanaman perlahan belajar bahwa kehidupan tidak dapat dipaksa. Ia dapat dibantu, dirawat, diberi ruang, tetapi tidak dapat diperintah sesuka hati.
Kesadaran seperti itu membawa ketenangan.
Dan ketenangan bukan perkara kecil.
Jiwa yang lebih tenang membuat manusia lebih mampu mengendalikan reaksinya terhadap berbagai persoalan. Tubuh pun tidak terus-menerus berada dalam keadaan tegang. Ada ruang bagi napas, bagi perhatian, bagi istirahat.
Di sini hubungan manusia dengan alam bertemu dengan tubuhnya sendiri.
Kita sering memperlakukan tubuh seolah-olah mesin yang harus terus bekerja. Padahal tubuh juga mempunyai ritmenya. Ada waktu bergerak, ada waktu berhenti. Ada saat menerima, ada saat melepaskan.
Alam mengajarkan ritme itu tanpa banyak bicara.
Padi tidak tumbuh karena petani berteriak kepadanya.
Ia tumbuh karena ada tanah, air, cahaya, udara, benih dan perawatan yang bertemu dalam keselarasan.
Mungkin kehidupan manusia juga demikian.
Kita terlalu sering mengejar kelimpahan dengan cara menaklukkan. Padahal kelimpahan bisa jadi lebih dekat dengan keselarasan.
Keselarasan bukan berarti menyerah kepada keadaan. Justru sebaliknya. Ia membutuhkan kepekaan untuk mengetahui kapan harus bergerak, kapan harus menunggu, kapan harus menanam, dan kapan harus membiarkan sesuatu tumbuh dengan caranya sendiri.
Di Magelang, ada seorang petani yang menjalani kehidupan semacam itu.
Orang mengenalnya sebagai Mbah Roso.
Ia bertani, tetapi kehidupannya tidak berhenti di sawah. Ia juga bergiat dalam dunia media. Mengelola sejumlah media online, antara lain IniKebumen.com, IniMagelangRaya.com, Dar Media Network, Borobudur Chanel dan sejumlah kanal lainnya.
Setiap hari ia bergelut dengan berita. Pada hari tertentu ia menulis editorial. Hari Minggu ia mengisi rubrik budaya.
Dunia media dan dunia pertanian sekilas seperti dua kutub yang berjauhan.
Yang satu hidup dari kata-kata dan informasi. Yang lain hidup dari tanah, air, benih dan cuaca.
Namun bagi Mbah Roso, keduanya mungkin justru bertemu pada satu hal: kepekaan.
Seorang petani harus peka terhadap tanah. Seorang penulis harus peka terhadap manusia.
Petani membaca perubahan warna daun. Penulis membaca perubahan suasana masyarakat.
Petani bertanya mengapa tanaman tidak tumbuh. Penulis bertanya mengapa sebuah persoalan muncul.
Keduanya membutuhkan kesediaan untuk memperhatikan sesuatu yang sering dilewatkan oleh orang yang hanya melihat permukaannya.
Keterlibatannya sebagai Ketua TMI Wilayah Khusus Komunitas Adat Banokeling membuat hubungan itu menjadi semakin panjang. Di sana tanah bukan sekadar benda yang dapat dihitung luasnya. Tanah mempunyai sejarah, ingatan, hubungan sosial dan kehidupan bersama.
Tanah adat tidak cukup dibicarakan dalam bahasa sertifikat dan administrasi. Ada manusia yang hidup di atasnya. Ada tradisi yang diwariskan. Ada pangan yang ditanam. Ada lumbung yang disiapkan untuk menghadapi masa sulit.
Dari sana barangkali kepekaan seorang petani memperoleh lapisan lain.
Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang dapat saya tanam di tanah ini?”
Tetapi juga, “Untuk siapa tanah ini hidup?”
Pertanyaan kedua jauh lebih besar.
Sebab pertanian pada akhirnya bukan sekadar urusan menghasilkan komoditas. Ia adalah urusan keberlanjutan kehidupan.
Benih bukan hanya benda kecil yang dimasukkan ke tanah. Ia adalah kemungkinan masa depan.
Sawah bukan sekadar hamparan yang menghasilkan beras. Ia adalah ruang tempat manusia mempertahankan kehidupan.
Lumbung bukan hanya tempat menyimpan gabah. Ia adalah cara sebuah komunitas mengatakan bahwa hari esok harus dipikirkan sejak hari ini.
Dari sinilah gagasan kreatif, mandiri, merdeka, berdaulat menemukan tanah pijaknya.
Kreatif berarti tidak menyerah kepada keterbatasan.
Mandiri berarti berusaha mempunyai kemampuan untuk memenuhi sebagian kebutuhan sendiri.
Merdeka berarti tidak sepenuhnya menggantungkan hidup kepada sistem yang berada di luar kendali kita.
Dan berdaulat berarti mempunyai kemampuan menentukan arah kehidupan sendiri, bersama komunitas dan lingkungan tempat kita hidup.
Tangan dingin, dengan demikian, mungkin bukanlah bakat yang jatuh dari langit.
Ia adalah hasil dari hubungan yang panjang.
Hubungan antara manusia dan tanah.
Antara perhatian dan kehidupan.
Antara kesabaran dan pertumbuhan.
Orang yang disebut mempunyai tangan dingin mungkin sesungguhnya adalah orang yang mau mendengarkan lebih lama daripada orang lain.
Ia tidak buru-buru mencabut tanaman yang belum tumbuh. Ia tidak lekas menyalahkan tanah ketika panen gagal. Ia mencari sebab. Ia mengamati. Ia mencoba lagi.
Barangkali itulah pelajaran paling sederhana dari berkebun.
Bahwa kehidupan tidak selalu membutuhkan manusia yang paling kuat.
Kadang-kadang kehidupan hanya membutuhkan manusia yang cukup peka untuk mendengarkan. ATM
Tanah berbicara dengan caranya sendiri.
Tanaman berbicara dengan pertumbuhannya.
Air berbicara melalui alirannya.
Dan manusia, jika bersedia diam sejenak, mungkin masih dapat mendengarnya.
Dari sanalah kesuburan bermula.Bukan hanya kesuburan tanah, melainkan juga kesuburan batin.
Sebab pada akhirnya, tangan yang dingin mungkin hanyalah tanda bahwa di balik tangan itu ada jiwa yang masih bersedia menyentuh kehidupan. Redaksi