Dialog Panas di UGM, Sudaryono Turun dari Panggung Hadapi Interupsi Mahasiswa

2 Min Read
Kopdar Sudaryono di UGM diwarnai interupsi (Fofo: istimewa)
YOGYAKARTA, DMNETWORK — Dialog kebangsaan bertema “Pancasila Pemersatu Bangsa” yang menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono di Gedung GIK Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (15/6) malam, berlangsung dinamis setelah sejumlah mahasiswa menyampaikan interupsi dan kritik secara langsung kepada pemerintah.

Acara yang dikemas dalam bentuk kopi darat (kopdar) tersebut sejak awal dirancang sebagai ruang pertemuan antara pemerintah dan mahasiswa untuk membahas berbagai persoalan kebangsaan, mulai dari penguatan ideologi Pancasila hingga tantangan pembangunan nasional.

Di tengah jalannya forum, sejumlah mahasiswa mendekati area utama kegiatan dan menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Situasi yang semula berlangsung kondusif perlahan berubah menjadi lebih ramai ketika tuntutan dialog langsung disampaikan kepada Sudaryono.

Menanggapi hal itu, Sudaryono memilih turun dari panggung dan menemui mahasiswa secara langsung. Dengan pengawalan terbatas, ia membuka ruang dialog di tengah kerumunan peserta.

Dalam suasana yang berlangsung spontan, mahasiswa menyampaikan berbagai pertanyaan terkait kebijakan pemerintah, termasuk persoalan pembukaan lahan, pembangunan, serta dampaknya terhadap masyarakat. Sudaryono berupaya menjawab berbagai pertanyaan tersebut secara langsung.

Namun dialog tidak selalu berlangsung lancar. Beberapa kali penjelasan yang disampaikan terputus oleh teriakan dan interupsi dari peserta yang berada di sekitar lokasi.

Ketika Sudaryono mengajak mahasiswa membahas persoalan berdasarkan data serta menawarkan peninjauan lapangan untuk melihat kondisi secara langsung, sebagian peserta tetap menyampaikan keberatan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Panitia bersama aparat keamanan kemudian berupaya menjaga jalannya kegiatan agar situasi tetap terkendali. Kepadatan massa di bagian depan acara sempat menyebabkan peserta lain terdorong sehingga ruang gerak menjadi terbatas.

Meski suasana berlangsung cukup tegang, dialog antara mahasiswa dan pemerintah tetap berlangsung dalam koridor penyampaian aspirasi publik. Dinamika tersebut menjadi gambaran bahwa kampus masih menjadi ruang penting bagi pertemuan gagasan, kritik, dan perbedaan pandangan dalam kehidupan demokrasi. gk
Share This Article