Becak. Sebuah benda yang kelihatannya sederhana, tetapi pada zaman itu sedang membawa persoalan sosial dan politik yang tidak sederhana.
DMNETWORK – Ternyata, AMT bukan hanya orang yang saya kenal sebagai pemikir, penggerak, dan orang yang selalu punya gagasan. Ia juga seorang yang dekat dengan dunia kesenian. Barangkali selama ini sisi yang satu ini agak luput dari cerita saya tentang dirinya.
Belum lama ini, ketika saya main ke Yogyakarta, saya kebetulan bertemu dengan Mujar Sangkerta, seorang seniman kriya yang tinggal di Bantul. Dari pertemuan yang awalnya biasa saja itu, pembicaraan kemudian berbelok kepada nama yang sudah lama akrab dalam ingatan saya: Ali Musthofa Trajutisna.
Mas Mujar ternyata mengenal AMT jauh lebih dahulu, ketika mereka masih sama-sama muda.
Ia bercerita, waktu itu dirinya masih mahasiswa Seni Rupa di FSRD-ISI Yogyakarta, yang kampusnya berada di Gampingan. Yogyakarta pada masa itu memang seperti sebuah halaman besar tempat anak-anak muda dari berbagai dunia berkumpul: seniman, mahasiswa, aktivis, pemikir, dan orang-orang yang sedang mencari jalan hidupnya masing-masing.
Di tengah suasana seperti itulah AMT datang.
Menurut cerita Mas Mujar, suatu hari AMT bersama Mas Adi Mulyo diajak Mas Badrus Zaman bersilaturahmi ke kontrakan mereka di sebuah gang di Wirobrajan, di sekitar Gang Arjuna, sebelah utara Gang Werkudoro, tidak jauh dari Kantor PPM DIY.
Tahun itu sekitar 1985.
Saya membayangkan Yogyakarta pada tahun-tahun itu. Kota yang belum seramai sekarang. Jalan-jalannya belum dipenuhi kendaraan seperti hari ini. Kontrakan mahasiswa menjadi semacam ruang kebudayaan kecil. Orang datang bukan hanya untuk bertamu, tetapi untuk berbincang, berdebat, membuat karya, membaca, dan kadang-kadang merancang sesuatu yang mungkin baru terasa maknanya bertahun-tahun kemudian.
Dan AMT berada di lingkungan itu.
Ada satu cerita Mas Mujar yang menarik perhatian saya.
Pada tahun 1985, ketika berlangsung PENAS #1 PPM di Kaliurang, Mas Mujar mendapat tugas membuat setting artistik berupa instalasi becak. Becak itu dibungkus dengan perban dan ditempatkan di sebelah panggung utama.
Becak.
Sebuah benda yang kelihatannya sederhana, tetapi pada zaman itu sedang membawa persoalan sosial dan politik yang tidak sederhana.
Jakarta ketika itu sedang melakukan penertiban besar-besaran terhadap becak. Becak-becak digusur dari jalanan ibu kota. Bahkan, menurut cerita yang berkembang saat itu, becak-becak yang telah disingkirkan dari Jakarta dibuang ke laut untuk dijadikan rumpon.
Bagi seorang seniman, sebuah becak bukan sekadar alat transportasi.
Ia adalah tubuh kecil yang membawa cerita tentang orang miskin kota, tentang pengemudi yang mencari nafkah dengan tenaganya sendiri, tentang kota yang ingin tampak modern, dan tentang orang-orang kecil yang sering kali harus menyingkir ketika sebuah kota sedang dibangun menurut ukuran mereka yang memiliki kuasa.
Maka ketika Mas Mujar membuat becak yang dibungkus perban dan meletakkannya di dekat panggung utama, saya merasa ada semacam bahasa lain yang sedang digunakan.
Bahasa seni.
Becak itu tidak perlu berpidato. Tidak perlu berteriak. Tidak perlu membuat spanduk panjang. Tubuh becak yang terbungkus perban sudah cukup menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang “sakit” dalam kehidupan kota.
Dan di sekitar pekerjaan artistik itu ada orang-orang yang membantu Mas Mujar: almarhum Edy, Sudono Yoso, Kumbo Adiguno, dan Mas Hendro, teman-temannya sesama penghuni kontrakan.
Saya tidak tahu sejauh mana AMT terlibat langsung dalam pembuatan instalasi itu. Mas Mujar dalam ceritanya sedang mengingat masa ketika mereka masih muda, ketika perjumpaan antara mahasiswa seni dan aktivis menjadi sesuatu yang wajar.
Tetapi justru di situlah saya melihat kembali sosok AMT.
Ia seperti tidak pernah benar-benar berada hanya dalam satu dunia.
Ia bisa berbicara tentang gagasan Islam, pendidikan, ekonomi rakyat, koperasi, kebudayaan, politik, dan organisasi. Tetapi pada saat yang sama ia juga berada di antara anak-anak muda seni rupa, para seniman, penyair, pemain drama, dan orang-orang yang menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari perjuangan hidup.
Mungkin itu sebabnya AMT sulit ditempatkan dalam satu kotak.
Ia bukan sekadar aktivis.
Bukan sekadar pemikir.
Bukan pula sekadar orang organisasi.
Ada sisi kesenian dalam dirinya, sebuah sisi yang barangkali ikut membentuk cara pandangnya terhadap manusia dan masyarakat.
Saya kemudian berpikir tentang becak yang dibungkus perban itu.
Perban biasanya dipakai untuk membungkus luka.
Dan sebuah becak yang dibungkus perban, diletakkan di dekat panggung utama, terasa seperti menghadirkan tubuh rakyat kecil ke tengah sebuah perhelatan kebudayaan.
Becak itu seperti sedang berkata tanpa suara: ada kehidupan yang terluka di balik pembangunan kota.
Barangkali seni memang bekerja dengan cara seperti itu. Ia tidak selalu memberikan jawaban. Kadang ia hanya membuat kita berhenti sejenak, menatap sebuah benda yang sebenarnya setiap hari kita lihat, lalu tiba-tiba menyadari bahwa benda itu menyimpan cerita manusia.
Dari cerita Mas Mujar Sangkerta itu saya semakin memahami AMT.
Ia hidup pada masa ketika batas antara aktivisme, pemikiran, kesenian dan gerakan sosial belum dipisahkan oleh pagar-pagar yang terlalu tinggi.
Orang bisa berdiskusi tentang Al-Qur’an pada sore hari, berbicara tentang ekonomi rakyat malam harinya, lalu esok pagi ikut memikirkan sebuah pertunjukan seni.
Dan mungkin AMT memang tumbuh dari ruang semacam itu.
Ruang yang membuat seseorang tidak hanya bertanya, apa yang harus saya lakukan?
Tetapi juga bertanya, manusia macam apa yang sedang kita perjuangkan?
Becak yang dibungkus perban itu kini tinggal cerita.
Tetapi setelah puluhan tahun berlalu, saya merasa justru dari benda yang tampaknya sederhana itulah kita bisa melihat satu potongan kecil dari zaman AMT.
Sebuah zaman ketika seni tidak hanya dipajang di galeri.
Ia bisa berada di pinggir panggung, di halaman kampus, di kontrakan mahasiswa, di gang sempit Wirobrajan, dan di antara percakapan anak-anak muda yang sedang mencari bentuk masa depannya.
Dan di sana, nama AMT ternyata pernah hadir.
Aris Munandar, petani tinggal di Magelang