Bayangkan sebuah gagasan yang pada awalnya mungkin hanya dibicarakan di sebuah ruang kantor kecil di Pandeyan, kemudian menjelma menjadi ribuan
DMNETWORK – Belum lama ini saya bertemu dengan Heri Mulyantoro. Pertemuan itu adalah bagian dari upaya membuka memori lama seperti membuka kembali satu laci dalam ingatan tentang AMT, terutama tentang masa-masa awalnya di Yogyakarta.
Heri adalah salah seorang sahabat AMT sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA. Persahabatan itu kemudian berlanjut ketika AMT kuliah di Universitas Gadjah Mada, mengambil jurusan Sospol.
Dari cerita Heri, saya kembali melihat sosok AMT bukan hanya sebagai seorang aktivis mahasiswa, tetapi sebagai anak muda yang sejak awal sudah memiliki naluri untuk membaca perubahan sosial sekaligus mencari jalan agar gagasan itu bisa menjadi sesuatu yang nyata.
AMT ketika itu sudah aktif di organisasi mahasiswa, termasuk di DEMA. Tetapi aktivitas organisasi tidak membuatnya berhenti berpikir tentang bagaimana mendapatkan penghasilan. Sehari-hari, salah satu cara yang dilakukannya adalah membuka usaha sablon.
Di situlah mungkin watak AMT mulai terbentuk: aktivisme dan ekonomi tidak pernah ia lihat sebagai dua dunia yang harus dipisahkan.
Ia bisa menjadi aktivis, tetapi tetap harus memikirkan bagaimana hidup. Ia bisa bicara tentang masyarakat, tetapi juga harus memahami bagaimana masyarakat mencari nafkah.
Menurut cerita Heri, sebuah kantor paling awal pertama kali membikin lembaga sosial kemasyarakatan adalah dengan nama Panterai Tetra Tiwikrama di Yogyakarta. Berada di kawasan Pandeyan. Dari lingkungan dan aktivitas inilah kemudian lahir berbagai pembicaraan tentang usaha dan pelayanan masyarakat. Salah satu gagasan yang menarik perhatian saya adalah gagasan tentang warung telekomunikasi, atau wartel, yang pada akhirnya proposal besar itu disetujui oleh Telkom.
Pada zaman itu, telepon bukan barang yang mudah dimiliki masyarakat. Telepon rumah masih merupakan fasilitas yang relatif mahal dan tidak semua keluarga mempunyai sambungan telepon. Telepon umum pun belum tersebar secara merata.
Maka gagasan wartel sesungguhnya sederhana: kalau masyarakat belum mampu memiliki telepon sendiri, mengapa tidak dibuat tempat bersama agar masyarakat dapat menggunakan telepon dengan membayar sesuai kebutuhan?
Tetapi justru gagasan-gagasan sederhana seperti itulah yang kadang mempunyai umur panjang.
Secara sejarah, perkembangan wartel memang tidak bisa dilepaskan dari Telkom. Kamar Bicara Umum atau KBU menjadi salah satu cikal bakalnya. Kios telepon pertama disebut mulai muncul di Kuta, Bali, pada 1982. Kemudian pada periode 1984-1988, jumlah wartel masih sekitar 48 buah. Setelah pembangunan wartel digencarkan, jumlahnya meningkat menjadi 128 pada 1989 dan mencapai sekitar 1.190 pada 1993.
Angka-angka itu memberi gambaran betapa cepat kebutuhan komunikasi masyarakat berkembang.
Wartel kemudian bukan sekadar tempat orang menelepon. Ia menjadi sebuah model usaha rakyat.
Orang membuka wartel di rumah, di kios kecil, di pinggir jalan, di dekat kampus, pasar, terminal, permukiman, bahkan di gang-gang kecil. Masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses telepon dapat menikmati layanan komunikasi dengan cara yang jauh lebih sederhana.
Dalam perkembangan berikutnya, ledakan wartel semakin terasa. Pada akhir 1990-an, ketika telepon seluler belum menjadi barang yang dimiliki semua orang, jumlah wartel di Indonesia bahkan dilaporkan telah mencapai sekitar 15 ribu unit, dengan sekitar 1.120 di kawasan Jabotabek.
Bayangkan sebuah gagasan yang pada awalnya mungkin hanya dibicarakan di sebuah ruang kantor kecil di Pandeyan, kemudian menjelma menjadi ribuan titik komunikasi di berbagai daerah.
Di sinilah saya melihat salah satu sisi AMT yang sering luput dari pembicaraan tentang dirinya. AMT bukan hanya orang yang suka membuat konsep besar. Ia juga mempunyai kepekaan terhadap gagasan yang bisa bekerja di tingkat masyarakat bawah.
Bagi saya, wartel menjadi salah satu contoh awal dari cara berpikir ekonomi kerakyatan yang ada dalam diri AMT. Ia melihat bahwa teknologi tidak harus selalu menjadi milik perusahaan besar. Teknologi bisa dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat dan kemudian menjadi sumber penghidupan bagi orang banyak.
Memang, saya tidak hendak mengatakan bahwa sejarah wartel nasional adalah sejarah AMT seorang diri. Tidak demikian. Telkom mempunyai peran penting dalam merumuskan, mengatur dan mengembangkan sistem wartel. Bahkan sejak akhir 1980-an pembangunan wartel digencarkan secara nasional dan swasta kemudian dilibatkan sebagai agen penyedia layanan komunikasi.
Tetapi yang menarik dari cerita Heri adalah bagaimana AMT sudah menangkap nilai sosial dan ekonominya sejak awal.
Gagasan itu kemudian hidup di masyarakat. Dan ketika sebuah gagasan sudah diterima masyarakat, ia tidak lagi sepenuhnya menjadi milik orang yang pertama kali memikirkannya. Ia menjadi milik zaman.
Mungkin karena itu AMT tidak pernah terlalu sibuk dengan soal apakah sebuah gagasan harus diberi nama dirinya, apakah harus ada hak intelektual atas namanya, atau apakah orang harus mengingat siapa yang pertama kali membicarakannya.
Yang penting baginya, gagasan itu bekerja. Masyarakat mendapatkan manfaat. Orang memperoleh kesempatan membuka usaha. Dan sebuah kebutuhan sosial mendapatkan jalan keluar.
Wartel akhirnya memang kalah oleh zaman. Ketika telepon seluler semakin murah dan jaringan semakin luas, orang tidak lagi perlu berjalan ke bilik wartel untuk menelepon. Bahkan kemudian telepon pintar dan internet membuat wartel hampir seluruhnya menjadi bagian dari sejarah.
Tetapi hilangnya wartel tidak berarti gagasannya kehilangan arti. Justru di situlah saya melihat pelajaran penting dari AMT.
Gagasan yang baik tidak harus abadi dalam bentuknya. Yang harus bertahan adalah manfaatnya.
Hari ini bentuknya mungkin wartel. Besok bisa berubah menjadi koperasi, usaha kecil, platform digital, atau model ekonomi baru yang belum kita kenal.
AMT tampaknya memahami hukum perubahan itu lebih awal. Ia tidak terlalu terpaku pada bentuk. Ia mengejar kemungkinan.
Dan Yogyakarta, dengan kampus, aktivisme mahasiswa, komunitas seniman, percetakan, usaha kecil dan kehidupan intelektualnya, menjadi salah satu laboratorium awal bagi cara berpikir tersebut.
Dari Pandeyan, dari lingkungan pergaulannya dengan Heri Mulyantoro dan sahabat-sahabatnya, dari aktivitasnya di DEMA, dari usaha sablon untuk menyambung hidup, AMT perlahan sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar karier seorang aktivis.
Ia sedang belajar membaca masyarakat. Dan kelak, kemampuan membaca masyarakat itulah yang menjadi salah satu ciri paling kuat dalam perjalanan pemikirannya.
Wartel mungkin sudah hilang dari sudut-sudut gang. Tetapi pertanyaan yang melahirkannya masih tetap hidup:
Bagaimana sebuah kebutuhan rakyat bisa diubah menjadi peluang, dan bagaimana peluang itu bisa kembali memberi manfaat kepada rakyat?
Bagi saya, pertanyaan itulah yang lebih penting daripada sekadar siapa pemilik sebuah gagasan.
Dan mungkin, di situlah AMT sebenarnya berdiri. (Rist)