Tetapi kebudayaan rupanya tidak selalu mati ketika bentuk lamanya menghilang
Yogyakarta, DMNETWORK – Catatan kecil dari panggung yang pernah berjalan kaki
Ada suatu masa ketika sebuah panggung tidak perlu menunggu gedung. Ia justru berjalan.
Panggung itu dibongkar ketika penonton sudah habis, gamelan diangkut, kain-kain dekorasi dilipat, lampu dilepas, dan para pemain bersiap menuju tempat lain. Esok atau lusa, di tanah yang berbeda, panggung itu berdiri lagi.
Orang menyebutnya tobong.
Di dalam tobong, ketoprak bukan hanya tontonan. Ia adalah cara hidup. Para pemain datang bersama keluarganya, membawa gamelan, kostum, properti, bahkan urusan dapur. Di mana panggung berdiri, di situlah untuk sementara sebuah dunia kecil ikut tumbuh.
Barangkali karena itu, menyebut ketoprak tobong sekadar sebagai “pertunjukan tradisional” terasa terlalu pendek.
Ia pernah menjadi kampung yang bisa dibongkar. Dan mungkin juga kampung yang bisa dipindahkan. Yogyakarta mengenal sejarah itu.
Di kota dan daerah sekitarnya, ketoprak pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Cerita raja-raja, peperangan, asmara, pengkhianatan, pun kelucuan para abdi dalem keluar dari panggung sederhana. Penonton duduk berhadapan dengan dunia yang sebenarnya mereka kenal: manusia dengan segala kerakusan, cinta, tipu daya, kesetiaan dan kebodohannya.
Hanya pakaiannya yang berbeda. Raja memakai mahkota. Patih membawa wibawa. Punokawan membawa tawa.
Sementara penonton, diam-diam, membawa pulang cermin.
Ketoprak memang punya kebiasaan aneh. Ia bercerita tentang masa lampau tetapi sering kali membuat orang merasa sedang melihat dirinya sendiri.
Mungkin karena itulah ia pernah begitu dekat dengan masyarakat.
Kemudian televisi datang. Lalu bioskop berubah.
Kemudian internet, YouTube, TikTok dan segala macam layar yang sekarang dapat dibawa ke dalam saku celana.
Panggung menjadi semakin besar, tetapi perhatian manusia justru semakin kecil.
Tobong pun pelan-pelan kehilangan tanah tempat berpijak.
Tetapi kebudayaan rupanya tidak selalu mati ketika bentuk lamanya menghilang. Kadang ia hanya berganti pakaian.
Itulah yang menarik dari Opera Tobong: Ati Segara, Mataram Love Story, yang dipentaskan di Purawisata Yogyakarta, Selasa malam, 22 September 2026.
Dari poster pertunjukannya saja kita sudah melihat sebuah percakapan: masa lalu dan masa kini duduk di satu bangku.
Ada nama Mataram. Ada tokoh-tokoh bergaya wayang dan tradisi Jawa. Ada kisah cinta. Ada kata “opera”.
Dan ada kata yang terasa seperti datang dari jalan panjang kesenian rakyat: tobong.
Di sini kita boleh berhenti sebentar. Sebab tobong bukan sekadar dekorasi. Ia mempunyai sejarah. Ia mempunyai tubuh.
Dan, kalau boleh memakai istilah yang agak nakal, ia mempunyai pengalaman berpindah rumah berkali-kali.
Dulu, tobong datang kepada penonton. Sekarang penonton datang kepada panggung.
Dulu panggung menunggu sebidang tanah. Sekarang panggung telah memiliki alamat.
Dulu kelompok kesenian membawa dunianya dari satu tempat ke tempat lain. Sekarang dunia itu mungkin harus dibawa ke dalam gedung pertunjukan modern.
Perubahannya besar. Tetapi pertanyaannya sederhana: Apa yang sebenarnya hendak diselamatkan?
Apakah panggung bambunya? Apakah kelilingnya? Apakah musiknya? Apakah ceritanya?
Atau sesuatu yang lebih sulit dilihat: cara kesenian tradisional berbicara kepada masyarakat?
Sebab melestarikan kebudayaan bukanlah pekerjaan menyimpan benda di lemari kaca.
Kalau kebudayaan hanya disimpan, lama-lama ia menjadi benda museum.
Indah. Bersih. Tidak bergerak.
Dan yang paling berbahaya: tidak lagi dipertanyakan oleh siapa pun.
Karena itu, inovasi dalam kesenian tradisi selalu membawa persoalan sendiri.
Ketika ketoprak diberi bentuk opera, apakah ia masih ketoprak? Ketika tobong tidak lagi berpindah-pindah, apakah ia masih tobong?
Pertanyaan semacam itu mungkin penting bagi para pengkaji kebudayaan. Tetapi bagi penonton biasa, barangkali ada pertanyaan lain.
Apakah cerita itu masih mampu membuat kita duduk lebih lama?
Apakah tokoh-tokohnya masih membuat kita tertawa? Apakah konflik mereka masih terasa dekat dengan kehidupan kita?
Dan setelah lampu panggung padam, apakah ada sesuatu yang ikut pulang bersama kita?
Itulah ujian sebenarnya. Bukan apakah bentuknya murni. Melainkan apakah roh pertunjukannya masih bernapas.
Tobong dahulu membawa cerita dari satu desa ke desa lain. Ia tidak membawa kemewahan.
Ia membawa manusia. Pemain. Penabuh gamelan. Penjual makanan. Anak-anak. Keluarga. Penonton. Dan di antara semuanya, cerita.
Cerita tentang kerajaan yang sebenarnya sering kali bukan hanya cerita kerajaan. Di balik perang antarbangsawan, orang kampung mungkin sedang membaca kehidupan mereka sendiri. Di balik cinta seorang putri, ada urusan hati manusia biasa. Di balik kelucuan abdi, kadang ada sindiran yang lebih tajam daripada pidato pejabat.
Itulah kecerdikan kesenian rakyat. Ia tidak perlu berteriak bahwa dirinya kritis. Ia cukup membuat penonton tertawa.
Lalu ketika tawa berhenti, barulah orang sadar bahwa yang ditertawakan tadi adalah dirinya sendiri.
Mungkin itu pula yang perlu dibawa oleh Ati Segara. Bukan sekadar Mataram sebagai masa lalu.
Sebab Mataram akan cepat menjadi jauh jika hanya diperlakukan sebagai kumpulan nama raja, tahun, perang dan silsilah.
Mataram harus kembali menjadi manusia. Ada cinta di sana. Ada ambisi. Ada kehilangan. Ada perebutan kuasa.
Ada orang kecil yang mungkin hanya ingin hidup tenang tetapi selalu terseret ke dalam urusan orang-orang besar.
Dengan demikian, sejarah tidak lagi berdiri seperti patung.
Ia berjalan. Ia berbicara. Ia jatuh cinta. Ia bertengkar. Ia bahkan mungkin membuat kita tertawa.
Dan pada malam tertentu di Yogyakarta, ia naik ke panggung lagi.
Barangkali inilah nasib kesenian tradisi: selalu dicurigai ketika berubah, tetapi juga akan ditinggalkan jika tidak berubah.
Dilema itu sudah lama ada.
Ketoprak tobong pernah berjalan mengikuti zaman. Kini zaman berjalan jauh lebih cepat daripada gerobak panggung.
Maka yang perlu dipikirkan bukan bagaimana membuat tobong kembali persis seperti masa lalu.
Tidak mungkin. Dan mungkin juga tidak perlu.
Yang lebih penting adalah bagaimana membuat ingatan tentang tobong tetap mempunyai masa depan.
Sebab kebudayaan yang hidup bukan kebudayaan yang tidak berubah.
Kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang masih sanggup bernegosiasi dengan zaman tanpa kehilangan alasan mengapa ia dilahirkan.
Malam ini, ketika lampu Purawisata menyala dan para pemain memasuki panggung, barangkali yang sedang kita saksikan bukan sekadar kisah cinta Mataram.
Bisa jadi kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih tua dari pertunjukan itu sendiri:
sebuah kesenian yang sedang mencari cara baru untuk tetap hidup.
Dulu ia berjalan dari kampung ke kampung. Kini mungkin ia berjalan dari generasi ke generasi. Tobong telah berubah alamat.
Tetapi selama cerita masih dimainkan, gamelan masih dipukul, pemain masih menghafalkan dialog, dan penonton masih bersedia duduk untuk mendengarkan, barangkali perjalanan itu belum selesai.
Panggungnya boleh berubah.
Lampunya boleh semakin terang. Namanya boleh diberi tambahan “opera”. Tetapi satu hal jangan sampai hilang: keinginan untuk membuat manusia bertemu dengan manusia lain melalui cerita.
Sebab pada akhirnya, mungkin itulah rumah terakhir sebuah kebudayaan.
Bukan tobong. Bukan gedung. Bukan panggung. Melainkan ingatan manusia.
Aris Munandar, petani tinggal di Magelang