Apa arti kemerdekaan jika setiap musim kemarau masyarakat masih harus berjuang mendapatkan air bersih?” ujarnya.
YOGYAKARTA, DMNETWORK — Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menyalurkan 81.000 liter air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bantuan tersebut disalurkan melalui 16 truk tangki ke sejumlah wilayah, yakni Kalidadap, Selopamioro, Imogiri, Bantul, serta Gubar, Gumbeng, dan Sumur di Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Gunungkidul.
Kegiatan bakti sosial itu digelar bersama Komunitas KNS Keluarga Nusantara Sejati dan BEM PTNU Yogyakarta. Penyaluran air bersih menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menyambut Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35.
Ketua Umum PNIB AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas kepada masyarakat yang setiap tahun menghadapi persoalan kekeringan saat musim kemarau.
“Air adalah kebutuhan dasar manusia. Bukan hanya untuk minum dan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk pertanian, perkebunan dan peternakan,” kata Gus Wal dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, persoalan kekeringan di sejumlah wilayah seperti Bantul dan Gunungkidul bukan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Kekeringan telah berulang setiap musim kemarau sehingga seharusnya dapat diantisipasi melalui kebijakan jangka panjang.
“Apa arti kemerdekaan jika setiap musim kemarau masyarakat masih harus berjuang mendapatkan air bersih?” ujarnya.
Gus Wal menilai, distribusi air bersih ketika terjadi kekeringan memang diperlukan. Namun, langkah tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya pola penanganan pemerintah.
Ia mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah memperkuat infrastruktur penyediaan air bersih di wilayah rawan kekeringan.
Sejumlah langkah yang dapat dilakukan, kata dia, antara lain membangun dan mengoptimalkan sumber air, embung, jaringan perpipaan, serta sistem distribusi yang mampu menjangkau masyarakat di wilayah rawan kekeringan.
“Negara tidak boleh hanya hadir ketika masyarakat sudah mengalami krisis. Pemerintah harus mampu membaca persoalan berdasarkan pola bencana yang berulang dan melakukan mitigasi sebelum dampaknya semakin luas,” katanya.
Gus Wal juga meminta kementerian terkait, termasuk Kementerian Sosial dan Kementerian Pekerjaan Umum, bersama pemerintah daerah mengevaluasi pola penanganan kekeringan yang selama ini dilakukan.
Menurut dia, ketersediaan air berkaitan langsung dengan kehidupan dan perekonomian masyarakat. Ketika sumber air menghilang, aktivitas rumah tangga hingga pertanian dan peternakan ikut terdampak.
“Kalau musibah kekeringan yang datang setiap tahun saja pemerintah masih terkesan abai dan minim solusi permanen, lantas bagaimana jika menghadapi musibah atau bencana alam yang datang secara mendadak dan skalanya lebih besar?” ujar Gus Wal.
Ia menegaskan, kegiatan bakti sosial PNIB tidak dimaksudkan untuk menggantikan kewajiban pemerintah. Penyaluran air bersih tersebut, kata dia, merupakan bentuk kepedulian sekaligus pengingat agar pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi perhatian bersama.
Adapun 81.000 liter air bersih yang disalurkan PNIB berasal dari iuran internal para anggota dan pendukung kegiatan tersebut. Air didistribusikan menggunakan 16 truk tangki dengan kapasitas yang bervariasi, yakni 3.000, 6.000, dan 9.000 liter.
“PNIB hadir untuk membantu masyarakat sekaligus menyampaikan pesan kepada pemerintah. Kemerdekaan harus dirasakan sampai ke kebutuhan paling dasar rakyat,” katanya.
Gus Wal berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Muktamar NU ke-35 dapat memperkuat semangat gotong royong serta kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
“Rakyat Indonesia harus merdeka dari berbagai persoalan, termasuk korupsi, radikalisme, anarkisme, premanisme, dan krisis air bersih,” pungkasnya.***