Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling Berduka, Den Baguse Ngarso Tinggalkan Pesan tentang Desa dan Petani

3 Min Read
Keluarga besar Tani Merdeka Indonesia Wilayah Adat Banokeling ikut berduka atas meninggalnya den Baguse Ngarso (foto: DMNetwork)

Petani tidak hanya membutuhkan produksi yang meningkat, tetapi juga membutuhkan perhatian, pendampingan, air, pupuk, akses pasar dan penghargaan terhadap kehidupan desa.

BANYUMAS, DMNETWORK — Menjelang peringatan Hari Tani Nasional, keluarga besar Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling turut menyampaikan duka atas berpulangnya seniman Yogyakarta, Susilo Nugroho, yang dikenal luas melalui karakter Den Baguse Ngarso.

Ketua Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling, Aris Munandar, mengatakan kepergian Susilo bukan hanya kehilangan bagi dunia seni, tetapi juga kehilangan sosok yang pernah membawa kehidupan desa dan persoalan pertanian ke ruang publik melalui kesenian.

Menurut Aris, Mbangun Deso memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat. Program tersebut tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa persoalan kehidupan desa, pertanian dan pembangunan dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat.

“Menjelang Hari Tani Nasional ini, kami dari Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling ikut berduka atas berpulangnya Den Baguse Ngarso. Beliau telah ikut menghidupkan cerita tentang desa melalui kesenian. Mbangun Deso mengingatkan kita bahwa kehidupan petani dan desa sebenarnya memiliki ruang yang sangat penting untuk terus dibicarakan,” ujar Aris Munandar.

- Iklan -
Ad imageAd image

Aris menilai pesan tentang desa yang pernah dibawa melalui Mbangun Deso masih relevan dengan kehidupan petani saat ini.

“Petani tidak hanya membutuhkan produksi yang meningkat, tetapi juga membutuhkan perhatian, pendampingan, air, pupuk, akses pasar dan penghargaan terhadap kehidupan desa. Dulu persoalan itu bisa disampaikan melalui humor dan kebudayaan. Sekarang kita harus meneruskannya melalui kerja nyata di lapangan,” katanya.

Ia menyebut momentum Hari Tani Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Hari Tani, menurutnya, merupakan kesempatan untuk kembali melihat posisi petani sebagai bagian penting dari masa depan pangan Indonesia.

“Den Baguse Ngarso telah meninggalkan karya. Kami para petani mempunyai tugas melanjutkan kerja di sawah, menjaga tanah, air dan pangan. Itu cara kami menghormati orang-orang yang sepanjang hidupnya ikut membawa cerita tentang desa,” ujar Aris.

Bagi Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling, kepergian Susilo Nugroho menjadi pengingat bahwa desa bukan sekadar latar cerita pembangunan. Desa adalah tempat pangan diproduksi, kebudayaan dirawat dan kehidupan masyarakat berlangsung dari generasi ke generasi.

- Iklan -
Ad image

Di tengah persiapan menyambut Hari Tani Nasional, Aris mengajak petani tidak kehilangan semangat untuk terus bekerja dan menjaga kemandirian pangan dari tingkat desa.

“Selamat jalan Den Baguse Ngarso. Sugeng kondur. Semoga karya panjenengan tentang desa dan kehidupan masyarakat tetap hidup dalam ingatan kami,” kata Aris. ***

Share This Article
error: Content is protected !!