Ia tumbuh dalam lingkungan sosial yang dahulu mempunyai tata pemerintahan dan kebudayaan sendiri.
BANJARNEGARA, DMNETWORK — Sejarah kadang tidak ditulis menggunakan tinta.
Di Gumelem, sebagian sejarah justru ditulis menggunakan malam.
Tangan perempuan menggerakkan canting perlahan di atas kain. Ujung canting mengeluarkan malam panas, membentuk garis, lengkung dan titik. Dari pekerjaan yang tampak sederhana itu, sebuah identitas desa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Itulah Batik Gumelem.
Sentra batik ini berada di Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mencatat terdapat puluhan industri rumahan yang mengembangkan batik tulis Gumelem.
Namun cerita batik Gumelem tidak cukup dibaca sebagai cerita tentang industri rumahan.
Ada sejarah kademangan di belakangnya.
Dari lingkungan demang ke kain
Dalam kajian sejarah Makam Ki Ageng Gumelem, Tim Ahli Cagar Budaya Banjarnegara mencatat bahwa ketika Udhakusuma datang ke wilayah Gumelem, ia membawa pengawal dan para abdi yang mempunyai kemampuan di bidang budaya, seni dan keterampilan lainnya.
Dokumen itu menghubungkan keberadaan batik dan keterampilan tradisional Gumelem dengan latar sejarah tersebut.
Karena itu, batik di Gumelem tidak berdiri sendirian.
Ia tumbuh dalam lingkungan sosial yang dahulu mempunyai tata pemerintahan dan kebudayaan sendiri.
Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, terdapat pula tradisi membatik untuk kebutuhan lingkungan keluarga demang.
Jika cerita tersebut dibaca bersama keberadaan kademangan, muncul gambaran menarik: kain bukan hanya barang yang dipakai untuk menutup tubuh, melainkan bagian dari tata sosial.
Siapa yang memakai kain tertentu. Kapan kain digunakan.
Bagaimana motif dikenakan.
Semua bisa menjadi penanda kedudukan dan identitas. Motif yang menjadi tanda
Batik Gumelem mempunyai karakter visual yang cukup mudah dikenali.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyebut udan liris dan rujak senthe sebagai dua corak khas yang diproduksi secara turun-temurun. Warna tradisionalnya banyak menggunakan cokelat, hitam dan kuning, meskipun perkembangan selera pasar kemudian membuat warna dan ragam motifnya semakin beragam.
Belakangan, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara juga mendorong pendaftaran Indikasi Geografis Batik Gumelem.
Dalam sosialisasi pendaftaran tersebut, pemerintah daerah menyebut motif seperti salak, dawet dan candi sebagai bagian dari karakter Batik Gumelem. Tradisi membatik disebut telah berlangsung ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun, terutama melalui para perempuan di desa.
Di sini terlihat bagaimana sebuah tradisi lama sedang memasuki dunia baru.
Dulu kain dibuat untuk kebutuhan sosial dan budaya masyarakat. Sekarang kain juga harus berhadapan dengan pasar.
Dari rumah ke pasar
Batik Gumelem tumbuh terutama dari rumah-rumah warga.
Ruang tamu bisa berubah menjadi ruang pamer.
Kain-kain digantung.
Canting dan malam bekerja di ruang produksi.
Pembeli datang bukan hanya untuk membeli kain, tetapi juga bisa melihat bagaimana kain itu dibuat. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bahkan mendorong pengalaman membatik langsung sebagai bagian dari wisata budaya Gumelem.
Di sinilah persoalan pelestarian menjadi menarik.
Tradisi tidak mungkin hidup hanya karena diminta untuk dilestarikan.
Ia harus tetap mempunyai alasan ekonomi bagi orang yang mengerjakannya.
Seorang pembatik harus bisa mendapatkan penghasilan.
Anak muda harus melihat bahwa keterampilan membatik bukan pekerjaan yang hanya pantas dilakukan nenek mereka.
Dan pasar harus mengenali bahwa Batik Gumelem bukan sekadar kain bermotif.
Kain sebagai arsip
Bila makam Ki Ageng Gumelem menyimpan sejarah dalam batu bata, kayu dan nisan, batik menyimpan sejarah dalam motif.
Keduanya sama-sama menjadi arsip. Bedanya, makam tidak bergerak.
Kain bergerak dari satu tubuh ke tubuh lain. Ia dibawa ke pasar. Dipakai menghadiri acara. Disimpan dalam lemari. Dijual ke luar daerah.
Bahkan bisa menyeberang jauh dari Gumelem tanpa membawa orang yang membuatnya.
Karena itu, ketika Batik Gumelem didorong memperoleh Indikasi Geografis, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan bukan hanya nama dagang.
Ada identitas wilayah di sana.
Ada pengetahuan membatik.
Ada karakter motif. Ada teknik produksi.
Dan ada hubungan antara kain dengan masyarakat yang selama ratusan tahun mewarisinya.
Perempuan yang menjaga ingatan
Tradisi membatik di Gumelem banyak diwariskan melalui perempuan.
Mereka mungkin tidak pernah menulis buku sejarah.
Tidak pernah menyusun kronologi kademangan.
Tidak pernah menulis nama Ki Ageng Gumelem dalam sebuah naskah akademik.
Tetapi setiap kali canting menyentuh kain, ada pengetahuan yang dipindahkan.
Dari tangan ibu kepada anak.
Dari pengrajin tua kepada pembatik yang lebih muda.
Dari rumah ke rumah.
Pengetahuan semacam itu mudah hilang jika tidak ada generasi yang bersedia meneruskannya.
Karena itu, menjaga Batik Gumelem sesungguhnya bukan hanya menjaga motif.
Yang dijaga adalah cara membuat, cara membaca, cara memakai, dan alasan mengapa kain itu dianggap penting oleh masyarakatnya.
Ketika masa lalu masuk ke masa depan
Gumelem sekarang tidak lagi menjadi kademangan. Status tanah perdikan tinggal sejarah.
Tetapi jejak masa lalu tidak sepenuhnya lenyap. Ia muncul dalam makam. Ia muncul dalam masjid tua.
Ia muncul dalam Nyadran Gedhe. Ia muncul dalam cerita para leluhur.
Dan ia muncul dalam selembar kain yang dibuat perlahan dengan canting.
Mungkin itulah alasan Batik Gumelem layak dibaca lebih dari sekadar produk kerajinan.
Sebab setiap motif membawa sesuatu dari tempat asalnya.
Dan ketika kain itu keluar dari Gumelem, ia membawa sepotong kecil cerita tentang sebuah wilayah yang pernah menjadi kademangan, pernah mempunyai hubungan dengan Mataram, dan sampai sekarang masih berusaha menjaga ingatannya melalui tangan para pembatik.
Di Gumelem, sejarah rupanya tidak selalu dikisahkan.
Kadang ia dicanting. (Redaksi)