Petani Banokeling Kekurangan Air, Lahan Dua Bulan Menganggur

3 Min Read
Ritam, ketua yayasan Dharma Putra Banokeling dan petani sukses di Banokeling (foto: rist/DMNetwork)

Sebagian lahan pertanian masyarakat masih mengandalkan hujan sehingga ketika kemarau datang, pilihan petani menyempit: menanam dengan risiko gagal panen atau membiarkan tanah kosong.

BANYUMAS, DMNETWORK– Musim kemarau membuat sejumlah lahan pertanian di wilayah adat Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, menganggur. Petani tidak bisa menanam karena sumber air untuk mengairi sawah dan kebun terbatas.

Kondisi itu terlihat ketika Ketua Tani Merdeka Indonesia (TMI) Wilayah Adat Banokeling, Aris Munandar, mengunjungi sejumlah lahan pertanian masyarakat. Sawah tadah hujan, kebun cabai, hingga lahan tembakau menghadapi persoalan yang sama: air.

Ketua Yayasan Dharma Putra Banokeling, Ritam, mengatakan sebagian lahan sudah dua bulan tidak digarap.

“Jadi sudah dua bulan ini tanah dibiarkan nganggur karena nggak ada air. Sempat kemarin ditanam kacang hijau, tetapi hasilnya nggak bagus,” kata Ritam.

- Iklan -
Ad imageAd image

Menurut dia, tanaman kacang hijau memang sempat tumbuh dengan daun yang rimbun. Namun, produksi buahnya minim.

“Istilahnya tidak rekomendasi untuk kacang hijau ditanam di tanah Banokeling. Meskipun daunnya rimbun, tetapi buahnya sangat jarang sekali,” ujarnya.

Masalahnya bukan semata jenis tanaman. Ketersediaan air menjadi pembatas utama. Sebagian lahan pertanian masyarakat masih mengandalkan hujan sehingga ketika kemarau datang, pilihan petani menyempit: menanam dengan risiko gagal panen atau membiarkan tanah kosong.

Ritam mengatakan masyarakat masih membutuhkan sejumlah titik pompa air untuk mengairi lahan pertanian.

“Karena kami masih membutuhkan beberapa titik untuk pompa air pertanian,” katanya.

- Iklan -
Ad image

Bantuan pompa sebenarnya pernah diterima masyarakat. Namun, menurut Ritam, penyalurannya belum menyelesaikan persoalan pengairan lahan masyarakat secara umum.

“Memang ada beberapa kali bantuan pompa air, tetapi jatuhnya bukan ke masyarakat, hanya sampai ke tanah pribadi, bukan ke masyarakat umum,” ujarnya.

Aris mengatakan kebutuhan pompa air telah beberapa kali disampaikan kepada pihak berwenang. Namun, permintaan itu belum membuahkan hasil.

“Saya sudah beberapa kali meminta bantuan kepada pihak yang berwenang, tetapi hasilnya nihil,” kata Aris.

Ia berharap pemerintah pusat memperhatikan persoalan pengairan di wilayah adat Banokeling. Aris bahkan berharap Menteri Pertanian Amran Sulaiman dapat melihat langsung kondisi lahan masyarakat.

“Mungkin kalau Bapak Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, berkenan hadir, baru ada bantuan pompa air,” ujar Aris.

Persoalan air di Pekuncen bukan hanya menyangkut sawah. Lahan kebun yang ditanami cabai dan tembakau juga membutuhkan pasokan air agar produksi tidak terhenti selama kemarau.

Bagi petani, pompa air menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Bantuan yang datang ke wilayah pertanian, kata mereka, diharapkan tidak sekadar berupa alat, tetapi ditempatkan pada titik yang dapat mengairi lahan masyarakat secara bersama.

Tanpa tambahan sumber air, sebagian lahan pertanian hanya akan menjadi tanah yang menunggu hujan. Sementara petani tidak bisa menunggu terlalu lama.***

Share This Article
error: Content is protected !!