Bukan Cek Kosong, Massa di GBK Dukung Prabowo Sambil Minta Program Pemerintah Dikawal

7 Min Read
Orator sedang menyuarakan aksinya dukung program Prabowo (foto: mata)

Bagi Don, keduanya tidak harus dipertentangkan. Masyarakat dapat mendukung pemerintahan Prabowo sekaligus mengkritik program yang dianggap belum berjalan sebagaimana mestinya.

JAKARTA, DMNETWORK – Dukungan politik terhadap Presiden Prabowo Subianto ditunjukkan ribuan orang di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Massa yang berkumpul di depan Gedung TVRI membawa pesan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo sekaligus menyampaikan sejumlah tuntutan agar program pemerintah berjalan lebih efektif dan manfaatnya dirasakan masyarakat.
Sekitar 10.000 orang disebut menghadiri aksi tersebut. Massa terdiri atas petani, pedagang, nelayan, dan sejumlah elemen organisasi pendukung pemerintah.
Aksi berlangsung ketika Presiden Prabowo mengikuti Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan.
Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir menjadi salah satu tokoh yang menyampaikan orasi.
Yang menarik dari aksi tersebut adalah pesan yang disampaikan tidak berhenti pada dukungan terhadap Presiden.
Don secara terbuka mengatakan bahwa dukungan kepada pemerintah bukan berarti memberikan cek kosong.
Menurut dia, masyarakat tetap harus mengawasi jalannya pemerintahan.
Pernyataan itu menjadi penting di tengah situasi politik ketika dukungan terhadap pemerintah sering kali ditempatkan berhadapan dengan kritik terhadap pemerintah.
Bagi Don, keduanya tidak harus dipertentangkan. Masyarakat dapat mendukung pemerintahan Prabowo sekaligus mengkritik program yang dianggap belum berjalan sebagaimana mestinya.

“Kritik adalah hak rakyat,” kata Don.
Namun, ia meminta kritik disampaikan berdasarkan fakta dan data. Sebaliknya, informasi palsu, fitnah, provokasi, kekerasan, dan upaya memecah persatuan bangsa harus ditolak.
Pesan tersebut disampaikan di tengah semakin derasnya pertukaran informasi di ruang digital. Menurut Don, masyarakat perlu lebih berhati-hati terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.
Perbedaan pandangan politik tidak semestinya menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
Aksi di GBK tersebut juga memperlihatkan bagaimana program pemerintah menjadi alasan utama kelompok pendukung turun ke jalan.
Program ketahanan pangan menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian.
Bagi kelompok petani, swasembada pangan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan mereka. Petani tidak hanya membutuhkan slogan tentang kedaulatan pangan. Mereka membutuhkan pupuk yang mudah diperoleh, irigasi, teknologi, mekanisasi, harga panen yang layak, dan kepastian pasar.
Karena itu, dukungan kepada pemerintah dibarengi dengan permintaan agar kebijakan pangan benar-benar menyentuh persoalan di lapangan.
Program Makan Bergizi Gratis juga mendapat perhatian. Program tersebut dipandang memiliki dua sisi. Pertama, pemenuhan kebutuhan gizi anak. Kedua, potensi menciptakan pasar bagi hasil produksi masyarakat.
Petani dapat memasok bahan pangan. Peternak dapat memasok telur dan daging. Nelayan dapat memasok hasil perikanan. Pedagang dan UMKM dapat ikut bergerak dalam rantai pasok.
Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila tata kelolanya baik.
Karena itu, massa meminta agar pelaksanaan MBG tetap diawasi. Pengadaan bahan pangan harus transparan. Kualitas makanan harus memenuhi standar keamanan pangan. Distribusi harus tepat sasaran. Anggaran harus digunakan secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, dukungan terhadap MBG bukan berarti menutup mata terhadap persoalan yang mungkin muncul dalam pelaksanaannya. Hal serupa berlaku pada Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Koperasi diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat desa.
Jangan sampai koperasi hanya lahir sebagai nama baru tanpa aktivitas ekonomi yang nyata.
Koperasi harus mampu membantu petani, pedagang, UMKM, dan masyarakat desa dalam memperoleh akses pasar dan pembiayaan. Persoalan nelayan juga masuk dalam perhatian peserta.
Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih dinilai harus disertai penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
Infrastruktur penting, tetapi akses terhadap pasar dan sarana produksi juga tidak kalah penting. Begitu pula pendidikan.
Kelompok peserta aksi menilai anak-anak dari keluarga miskin, termasuk anak petani, nelayan, buruh, dan pedagang, harus mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama.
Pendidikan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati kelompok tertentu.
Dalam aksi tersebut, peserta juga membawa spanduk bertuliskan “Jaga Prabowo, Jaga Indonesia”.
Slogan itu menjadi simbol dukungan mereka terhadap Presiden Prabowo.
Namun, jika dilihat dari isi orasi, menjaga Prabowo tidak dimaknai sebagai membenarkan semua tindakan pemerintah.
Sebaliknya, pemerintah justru diminta terus memperbaiki program. Pernyataan Don memperlihatkan adanya upaya membangun definisi dukungan yang berbeda.
Dukungan bukan berarti membungkam kritik. Dukungan justru berarti mengawal program agar tidak menyimpang dari tujuan awal. Ketika program berjalan baik, masyarakat harus ikut menjaga. Ketika program bermasalah, masyarakat harus mengingatkan. Ketika ada penyimpangan, masyarakat meminta aparat bertindak.
Dalam konteks itulah aksi di GBK menjadi lebih dari sekadar demonstrasi dukungan politik.
Ia menjadi panggung bagi kelompok masyarakat yang ingin menunjukkan bahwa mereka berada di belakang pemerintahan Prabowo, tetapi tetap meminta pemerintah bekerja lebih baik.
Aksi berlangsung sekitar tiga jam.
Massa tetap berada di lokasi hingga Presiden Prabowo meninggalkan Kompleks Parlemen.
Saat melintas di depan Gedung TVRI, Prabowo menyapa peserta aksi dari kendaraan yang ditumpanginya. Presiden melambaikan tangan kepada massa yang berbaris di sepanjang jalan. Sapaan tersebut disambut antusias peserta. Setelah itu massa membubarkan diri secara bertahap.
Bagi kelompok pendukung pemerintah, aksi tersebut merupakan bentuk ekspresi politik yang sah dalam demokrasi.
Pada saat yang sama, keberadaan aksi tersebut menunjukkan bahwa ruang publik Indonesia tidak hanya diisi oleh kelompok yang mengkritik pemerintah.
Ada pula masyarakat yang memilih turun ke jalan untuk menyampaikan dukungan.
Perbedaan itu merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.
Yang menjadi pekerjaan rumah justru bagaimana dukungan maupun kritik dapat tetap berjalan berdasarkan fakta, bukan hoaks atau provokasi.
Dari GBK, pesan yang dibawa massa sebenarnya sederhana.
Mereka mendukung Prabowo. Mereka mendukung program pemerintah yang dinilai berpihak kepada rakyat. Tetapi mereka juga meminta program tersebut dikawal.
Sebab, bagi masyarakat yang berada di lapangan, keberhasilan pemerintah pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya spanduk dukungan.
Ukuran sesungguhnya berada di tempat lain: apakah petani memperoleh kehidupan yang lebih baik, apakah nelayan memiliki pasar, apakah pedagang semakin kuat, apakah anak-anak memperoleh makanan bergizi dan pendidikan, serta apakah ekonomi desa benar-benar bergerak.
Di situlah dukungan politik akhirnya bertemu dengan kehidupan sehari-hari rakyat.

Share This Article
error: Content is protected !!