DMNETWORK – Yang pertama kali meledak bukan kasus. Yang meledak adalah koper.
Njebluk! Kuncinya terpental. Isinya berhamburan.
Bukan uang. Kertas. Kuitansi. Proposal. Fotokopi. Daftar nama. Nomor rekening. Stempel. Dan sebuah foto lurah yang sedang tersenyum sambil mengangkat tangan.
“Kenapa bukan uang?”
“Karena uangnya sudah pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Kalau tahu, namanya bukan pergi.”
Di kampung itu, pemilihan lurah sudah selesai. Jagonya menang.
Maka pesta pun selesai.
Orang-orang menganggap persoalan selesai. Padahal persoalan tidak pernah selesai hanya karena pemenang sudah diumumkan.
Persoalan hanya berganti pakaian. Semula ia memakai kaus bergambar calon. Sesudah pemilihan ia memakai batik.
Sesudah pelantikan ia memakai jas.
Sesudah diperiksa ia memakai pakaian yang berbeda lagi.
Semua orang bilang tidak tahu.
Semua orang memang tidak tahu. Tetapi anehnya semua orang tahu sedikit.
“Mana sisa uangnya?” Pemodal bertanya.
Ketua tim sukses pura-pura tidak dengar.
“Mana?”
“Sebentar.”
“Sebentar itu berapa lama?”
“Ya sebentar.”
“Sebentar menurut siapa?”
“Menurut waktu.”
“Jangan bercanda.”
“Saya tidak bercanda.”
“Uang saya ada berapa?”
“Dua puluh koper.”
“Yang dipakai?”
“Sebagian.”
“Sisanya?”
“Masih ada.”
“Di mana?”
“Di tempat aman.”
“Tempat aman itu di mana?”
Ketua tim sukses tersenyum.
“Kalau saya bilang, nanti tidak aman.”
Pemodal berdiri. Wajahnya merah.
“Jangan macam-macam.”
“Saya tidak macam-macam.”
“Jago saya menang karena uang itu!”
“Betul.”
“Berarti uang itu harus kembali.”
“Betul.”
“Kenapa tidak kembali?”
Ketua tim sukses diam. Pemodal menunggu. Lama.
Kemudian ketua tim sukses berkata pelan:
“Karena uang yang sudah beredar punya kaki.”
Malam itu pemodal tidak tidur. Ia menghitung.
Satu koper. Dua koper. Tiga. Empat. Sampai dua puluh.
Tetapi setiap kali sampai angka dua puluh, pikirannya berhenti.
Ia mengambil kalkulator.
Dua puluh dikurangi delapan.
Dua belas. Dua belas dikurangi lima. Tujuh. Tujuh dikurangi tiga. Empat. Empat dikurangi empat. Nol.
Ia tersenyum.
“Nol.”
Lalu ia teringat:
Masih ada yang belum kembali.
Ia menghitung lagi. Kali ini bukan koper. Ia menghitung orang.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Sampai jumlahnya lebih banyak daripada koper.
Ia mulai berkeringat.
Besok paginya berita itu muncul.
Bukan tentang uang. Tentang perkara lama. Tentang pungutan. Tentang proposal. Tentang pertemuan. Tentang dana kegiatan.
Tentang sejumlah orang yang pernah menerima sesuatu dari seseorang yang katanya tidak pernah memberi apa-apa.
Kampung mendadak seperti pasar malam. Semua orang punya cerita.
“Katanya dia menerima.”
“Katanya dia memberi.”
“Katanya ada bukti.”
“Bukti apa?”
“Katanya ada.”
“Mana?”
“Belum boleh dilihat.”
“Kenapa?”
“Karena masih diperiksa.”
“Siapa yang memeriksa?”
“Orang yang memeriksa.”
“Siapa orangnya?”
“Jangan banyak tanya.”
Maka semua diam.
Karena di kampung itu, pertanyaan kadang lebih berbahaya daripada jawaban.
Ketua tim sukses dipanggil.
“Anda menerima uang?”
“Untuk apa?”
“Untuk memenangkan lurah.”
“Menang.”
“Berarti berhasil?”
“Berhasil.”
“Uangnya kembali?”
“Sebagian.”
“Sebagian berapa?”
“Sebagian dari sebagian.”
“Jangan bermain kata.”
“Saya tidak bermain.”
“Anda siapa?”
“Tim sukses.”
“Tim sukses siapa?”
“Yang menang.”
“Kalau kalah?”
“Tim sukses yang kalah.”
Pemeriksa memandangnya lama.
“Anda tahu masalah Anda?”
“Tidak.”
“Anda terlalu banyak tahu.”
Ketua tim sukses terdiam.
“Dan terlalu banyak orang menganggap Anda tidak tahu.”
Ia menelan ludah.
“Jadi?”
“Jadi Anda cocok.”
“Cocok untuk apa?”
“Untuk dijadikan contoh.”
Begitulah tumbal dilahirkan.
Tidak dengan upacara. Tidak dengan sesaji. Tidak dengan doa. Cukup dengan satu kalimat:
“Dia tahu.”
Kalimat itu seperti korek api. Sekali dinyalakan, apa saja bisa terbakar.
Uang. Proposal. Jabatan. Pertemanan. Bahkan kenangan.
Orang-orang kemudian mulai mengingat masa lalu.
“Oh, dulu dia pernah datang.”
“Oh, dulu dia pernah minta.”
“Oh, dulu saya pernah kasih.”
“Oh, dulu dia pernah bilang…”
Masa lalu yang tadinya tidur mendadak bangun. Semuanya ingin menjadi saksi. Semuanya ingin menjadi korban.
Tidak ada yang mau menjadi pelaku.
Pada hari ketujuh, koper terakhir ditemukan. Koper itu kecil. Tidak seperti dua puluh koper sebelumnya.
Hanya cukup untuk menyimpan beberapa berkas. Ketika dibuka, tidak ada uang. Hanya satu amplop.
Di atasnya tertulis:
UNTUK ORANG YANG PALING TAHU.
Semua mundur.
Tidak ada yang mau mengambil.
“Kenapa?”
“Takut.”
“Takut apa?”
“Kalau saya buka, saya tahu.”
“Kalau tahu?”
“Nanti saya ditanya.”
“Kalau tidak buka?”
“Juga ditanya.”
Akhirnya seorang lelaki tua mengambil amplop itu. Ia membukanya. Di dalamnya hanya ada selembar kertas.
Tulisan tangan. Pendek. Uang itu tidak hilang.
Uang itu pulang kepada pemiliknya.
Yang hilang adalah orang-orang yang merasa bukan pemiliknya.
Semua terdiam. Lalu terdengar suara dari belakang.
“Siapa yang menulis?”
Tidak ada yang menjawab.
“Siapa?”
Tiba-tiba semua menunjuk satu sama lain.
Njebluk!
Lampu padam.
Ketika lampu menyala kembali, koper itu sudah tidak ada.
Begitu pula kertasnya. Yang tersisa hanya lantai.
Dan di lantai itu ada sebuah amplop kosong.
Bertahun-tahun kemudian, anak-anak kampung masih memainkan permainan bernama Koper-Koperan.
Satu anak menjadi pemodal.
Satu menjadi lurah.
Beberapa menjadi tim sukses.
Satu menjadi pemeriksa.
Yang lain menjadi saksi.
Mereka memasukkan daun-daun kering ke dalam koper.
Lalu membagikannya.
“Ini uang.”
“Berapa?”
“Seratus.”
“Ini buat apa?”
“Menang.”
“Kalau menang?”
“Kembalikan.”
“Kalau tidak dikembalikan?”
“Jebluk.”
Mereka tertawa.
Lalu salah satu anak bertanya:
“Kalau semua orang salah, siapa yang benar?”
Permainan berhenti. Tidak ada yang menjawab.
Dari rumah paling ujung terdengar suara koper jatuh.
Njebluk!
Anak-anak berlari ke sana. Di dalam koper itu tidak ada uang.
Tidak ada dokumen.
Tidak ada nama. Hanya sebuah cermin. Mereka menatap ke dalam.
Dan untuk pertama kalinya mereka melihat bahwa di balik semua koper, semua uang, semua perkara, semua tumbal, dan semua orang yang mengaku tidak tahu…
selalu ada seseorang yang sedang melihat dirinya sendiri.
Koper itu kemudian ditutup.
Tetapi suara dari dalam masih terdengar:
“Jangan buka.”
Anak-anak bertanya:
“Siapa?”
Suara itu menjawab:
“Yang punya koper.”
“Siapa?”
Hening.
Kemudian:
“Kalian.”
Njebluk.
Aris Munandar, petani tinggal di Magelang