Spanduk itu dipasang di depan balai desa.
Sore harinya, orang-orang yang membaca spanduk mulai muntah.
DMNETWORK – Pagi itu, empat orang muntah. Siangnya menjadi delapan. Sorenya enam belas. Malamnya seratus dua belas.
Besok pagi, kepala desa mengumumkan jumlah korban sudah dua ratus tiga puluh tujuh.
“Padahal yang muntah baru empat,” kata dokter. Kepala desa mengangguk.
“Justru itu.”
“Justru apa?”
“Kalau yang muntah cuma empat, berarti sisanya menular.”
Dokter menatap kepala desa cukup lama.
“Menular apa?”
Kepala desa tidak menjawab. Ia sedang muntah.
Semuanya bermula dari nasi kotak. Setidaknya begitu kata orang. Nasi kotak itu dibagikan setelah rapat desa.
Ada nasi. Ada ayam. Ada sambal. Ada sayur. Ada kerupuk. Ada pisang.
Tidak ada yang aneh. Kecuali satu hal.bAyamnya terlalu enak.
“Itu mencurigakan,” kata seorang warga.
“Mengapa?”
“Kalau ayam enak di rapat desa, pasti ada sesuatu.”
“Apa?”
“Tidak tahu.”
Tetapi sejak saat itu, orang mulai curiga. Empat orang yang makan ayam muntah. Lima orang yang tidak makan ayam ikut muntah. Tiga orang yang belum datang ke rapat juga muntah.
Seorang bayi muntah hanya karena melihat ibunya muntah.
Seorang nenek muntah karena mendengar suara muntah.
Seorang pemuda muntah setelah membaca berita bahwa orang-orang sedang muntah.
Dan seorang lelaki tidak muntah sama sekali. Ia justru marah.
“Saya juga ingin muntah!”
Dokter memeriksanya.
“Kenapa?”
“Supaya saya dianggap korban.”
Kabar menyebar lebih cepat daripada penyakit. Itulah kesimpulan pertama dokter. Tetapi kepala desa punya kesimpulan lain.
“Kabar bukan penyakit.”
“Lalu?”
“Kabar adalah penyakit yang tidak perlu bukti.”
Dokter menulis sesuatu.
Kepala desa melihat.
“Apa yang dokter tulis?”
“Psikologi.”
Kepala desa mengernyit.
“Jangan pakai istilah asing.”
“Ini bukan asing.”
“Kalau saya tidak mengerti, berarti asing.”
Dokter menghapus kata itu.
Ia menulis: TAKUT.
Kepala desa tersenyum.
“Nah. Itu saya paham.”
Hari kedua, ambulans datang.
Bukan untuk membawa orang sakit. Ambulans datang karena orang-orang sudah menunggu ambulans.
Begitu suara sirene terdengar, tiga puluh orang langsung muntah.
Petugas turun.
“Siapa yang sakit?”
Semua menunjuk tetangga.
“Dia.”
“Dia.”
“Dia.”
“Dia.”
Petugas menghitung. Tidak ada satu pun yang menunjuk dirinya sendiri.
“Kalau begitu,” kata petugas, “siapa yang sakit?”
Semua diam.
Tiba-tiba seorang anak mengangkat tangan. “Saya.”
“Kenapa?”
“Saya takut.”
Petugas berlutut.
“Takut apa?”
“Takut tidak sakit.”
Petugas terdiam.
Ia kemudian ikut muntah.
Hari ketiga, pemerintah kecamatan mengirim spanduk.
WASPADA KERACUNAN.
Spanduk itu dipasang di depan balai desa.
Sore harinya, orang-orang yang membaca spanduk mulai muntah.
Kepala desa segera menyuruh spanduk diturunkan. Diganti dengan:
JANGAN PANIK.
Lebih banyak orang muntah.
Diganti lagi:
SEMUA AMAN.
Orang-orang menangis. Akhirnya kepala desa menyerah.
Spanduk terakhir berbunyi:
TIDAK ADA APA-APA.
Malamnya, seluruh kampung tidak tidur. Karena kalau tidak ada apa-apa, pikir mereka, mengapa sampai dibuat spanduk?
Dokter akhirnya mengadakan pertemuan. Ia berdiri di depan warga.
“Saudara-saudara, keracunan itu bisa menular.”
Warga ribut.
“Bagaimana caranya?”
“Melalui makanan?”
“Melalui air?”
“Melalui udara?”
Dokter menggeleng.
“Melalui pikiran.”
Semua diam.
Seorang lelaki di pojok bertanya.
“Kalau begitu pikiran bisa menular?”
“Ya.”
“Kalau saya berpikir tentang kambing?”
“Belum tentu.”
“Kalau tetangga saya berpikir tentang kambing?”
“Belum tentu.”
“Kalau kami berdua berpikir tentang kambing?”
Dokter mengusap kening.
“Sudah. Jangan kambing.”
Tetapi terlambat.
Sepuluh menit kemudian seluruh warga membicarakan kambing.
Lima belas menit kemudian mereka mulai membayangkan kambing.
Setengah jam kemudian seorang warga berdiri.
“Kambing saya hilang.”
Yang lain ikut berdiri.
“Kambing saya juga.”
Tiga orang berlari pulang.
Mereka menemukan kambingnya sedang makan rumput.
Tetapi mereka tetap menangis.
“Kenapa menangis?”
“Kami tadi sudah merasa kehilangan.”
Dokter menutup buku.
Ia mulai takut pada manusia.
Hari keempat, tepuk tangan mulai menyebar. Tidak jelas siapa yang pertama.
Mungkin seorang anak. Mungkin kepala desa. Mungkin dokter.
Mungkin tidak ada yang pertama. Mungkin tepuk tangan memang sudah ada sejak manusia pertama kali melihat manusia lain melakukan sesuatu.
Plak.
Satu orang.
Plak-plak.
Dua orang.
Plak-plak-plak.
Sepuluh orang.
Kemudian semua.
Mereka bertepuk tangan tanpa alasan.
“Untuk apa?” tanya dokter.
Tidak ada jawaban.
“Siapa yang menyuruh?”
Tidak ada.
“Kenapa?”
Seorang perempuan menjawab:
“Karena yang lain bertepuk tangan.”
Dokter memandangnya.
“Itu bukan alasan.”
Perempuan itu tersenyum.
“Di kampung ini, itu alasan.”
Tepuk tangan berubah menjadi tawa.
Tawa berubah menjadi nyanyian.
Nyanyian berubah menjadi tangisan. Tangisan berubah menjadi tepuk tangan lagi.
Orang-orang tidak lagi bisa membedakan perasaan mereka sendiri.
Seorang lelaki menangis sambil tertawa. Seorang perempuan tertawa sambil berduka.
Seorang anak bertepuk tangan di pemakaman. Semua orang memarahinya.
Kemudian beberapa orang ikut bertepuk tangan. Tidak lama kemudian seluruh pemakaman bertepuk tangan.
Keluarga almarhum marah. Lalu ikut bertepuk tangan.
“Kenapa kita tepuk tangan?” tanya seorang anak.
Ayahnya menjawab:
“Entahlah.”
“Sedih?”
“Sedih.”
“Bahagia?”
“Entahlah.”
“Takut?”
Ayahnya diam.
“Takut.”
Malam kelima, kepala desa memanggil dokter secara diam-diam.
“Dok.”
“Ya.”
“Saya kira kita harus menghentikan ini.”
“Bagaimana?”
“Larangan.”
“Melarang apa?”
“Menular.”
Dokter tertawa.
Kepala desa tidak.
“Serius.”
“Bagaimana caranya melarang manusia tertawa?”
“Dilarang tertawa.”
“Menangis?”
“Dilarang.”
“Berbicara?”
“Dilarang.”
“Berpikir?”
Kepala desa terdiam. Dokter menatapnya.
“Kalau sampai berpikir dilarang, penyakitnya bukan lagi keracunan.”
“Apa?”
“Negara.”
Kepala desa menelan ludah.
Dari luar terdengar suara tepuk tangan.
Mereka berdua terdiam.
Plak. Plak. Plak. Semakin dekat.
Pagi keenam, seluruh warga datang ke balai desa. Mereka membawa sesuatu.
Ada yang membawa nasi. Ada yang membawa ayam. Ada yang membawa sambal. Ada yang membawa air. Ada yang membawa obat. Ada yang membawa spanduk. Ada yang membawa batu.
Kepala desa berdiri di depan mereka.
“Untuk apa batu itu?”
Seorang warga menjawab:
“Untuk berjaga-jaga.”
“Melawan siapa?”
“Belum tahu.”
“Kenapa membawa nasi?”
“Untuk dimakan.”
“Kenapa membawa obat?”
“Kalau sakit.”
“Kenapa membawa spanduk?”
“Supaya orang tahu.”
“Tahu apa?”
Warga itu melihat tulisan di spanduk. Kosong. Tidak ada tulisan. Ia baru sadar.
“Entahlah.”
Kepala desa mulai merasa pusing. Kemudian seorang anak berteriak:
“Keracunan!”
Semua orang muntah.
Serempak.
Kepala desa muntah. Dokter muntah. Petugas muntah. Orang yang membawa batu muntah. Orang yang membawa nasi muntah. Orang yang membawa obat muntah.
Bahkan orang yang tidak ikut muntah pun pura-pura muntah karena malu.
Hanya satu orang yang tidak muntah. Seorang perempuan tua. Ia berdiri tenang. Dokter menghampirinya.
“Ibu tidak apa-apa?”
“Baik.”
“Tidak mual?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Perempuan itu tersenyum.
“Karena saya sudah tahu.”
“Tahu apa?”
“Yang sakit bukan perut mereka.”
Dokter terdiam.
“Kalau begitu apa?”
Perempuan itu menunjuk kepala mereka.
“Kepala.”
Kemudian menunjuk dada.
“Dan hati.”
Kemudian menunjuk kerumunan.
“Dan yang paling parah…”
Ia berhenti.
“Apa?”
“Mereka saling menunggu.”
Hari ketujuh tidak ada lagi yang muntah. Tetapi tidak ada yang berani makan.
Hari kedelapan tidak ada yang menangis. Tetapi semua orang takut menangis.
Hari kesembilan tidak ada yang tertawa. Tetapi semua orang menunggu ada yang tertawa.
Hari kesepuluh seseorang tepuk tangan. Tidak ada yang mengikuti.
Ia tepuk tangan lagi.
Tidak ada.
Ia berhenti.
Wajahnya merah.
Kemudian seorang anak kecil bertepuk tangan.
Plak.
Satu kali.
Seorang ibu ikut.
Plak.
Seorang bapak.
Plak.
Kemudian seluruh kampung.
Plak. Plak. Plak.
Kali ini mereka tahu untuk apa.
Mereka bertepuk tangan karena lega.
Tetapi dokter justru menangis.
“Kenapa dokter menangis?”
Dokter menjawab:
“Karena sekarang saya tahu penyakit ini belum selesai.”
“Kenapa?”
“Karena kalian sudah mulai sadar bahwa kalian bisa menulari satu sama lain.”
“Jadi?”
Dokter mengusap air matanya.
“Besok kalian akan mulai berhati-hati.”
“Bagus, kan?”
“Tidak selalu.”
“Kenapa?”
“Karena manusia yang terlalu takut menulari orang lain akhirnya berhenti menjadi manusia.”
Semua diam.
Malam turun.
Lampu-lampu rumah menyala.
Di salah satu rumah, seorang bayi menangis.
Tangis itu terdengar ke rumah sebelah.
Bayi lain ikut menangis.
Kemudian ibu-ibu mulai keluar.
Mereka menenangkan anak-anak.
Tangisan semakin banyak.
Lalu seorang lelaki tertawa.
Entah mengapa.
Tawanya terdengar sampai ke ujung kampung.
Seorang perempuan ikut tertawa.
Kemudian yang lain.
Tangis bercampur tawa.
Tawa bercampur tangis.
Di tengah keributan itu, dokter berdiri sendirian di jalan.
Ia membuka buku catatan.
Menulis kalimat terakhir:
Yang menular bukan keracunan.
Ia berhenti.
Memandang kampung.
Menghapus kalimat itu.
Menulis lagi:
Yang menular adalah manusia.
Ia berpikir lama.
Kemudian menghapusnya juga.
Karena kalimat itu terlalu berbahaya.
Kalimat yang benar-benar berbahaya adalah kalimat yang membuat orang lain percaya.
Dokter memasukkan pensil ke saku.
Dari kejauhan terdengar tepuk tangan.
Plak. Plak. Plak.
Ia menutup telinga. Tetapi tepuk tangan itu sudah berada di dalam kepalanya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, dokter sadar:
Tidak semua yang menular membutuhkan suara.
Aris Munandar, petani yang suka menulis