Cerpen Aris Munandar: Instruktur, dan Air Dari Sebatang Bambu

20 Min Read
Ilustrasi gambar cerpen, "Instruktur, dan air dari sebatang bambu"

Namun, saya ingat bahwa setiap orang mempunyai tugas, setiap tugas mempunyai konsekuensi, dan setiap konsekuensi kelak akan dibicarakan dalam evaluasi. 

DARMEDIANETWORK | Nama saya Aris Munandar, dan saya pernah belajar bahwa menjadi instruktur tidak selalu berarti mengetahui jawaban atas semua pertanyaan. Kadang-kadang, menjadi instruktur justru berarti harus sanggup bertahan ketika tidak ada jawaban, tidak ada air, dan dua belas orang dewasa harus tetap berpikir jernih meskipun tubuh mereka sudah menyerah sejak tiga hari sebelumnya.

Tetapi itu terjadi jauh sesudah saya melewati Batra, Mentra, PKP, Brigade, dan akhirnya Advance. Sebelum sampai ke sana, saya pernah menjadi peserta training yang percaya bahwa orang-orang yang berdiri di depan kelas pasti mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Mereka berbicara dengan suara mantap, mengajukan pertanyaan yang membuat kami gelisah, lalu mencatat kegelisahan itu seolah-olah merupakan barang bukti.

Belakangan saya tahu, beberapa dari mereka juga sedang gelisah.

PII mempunyai jalan panjang untuk membentuk seorang kader. Mula-mula Forpadi, Forum Pacu Studi. Kemudian Batra. Lalu Mentra, PKP atau Perkampungan Kerja Pelajar, Brigade PII, dan pada ujungnya Advance. Setiap jenjang seperti anak tangga yang tidak selalu tampak dari bawah. Orang yang baru berada di anak tangga pertama sering mengira bahwa tangga itu berakhir di langit-langit. Padahal di atasnya masih ada anak tangga lain, dan di atas anak tangga lain itu masih ada orang yang menyuruh kita naik.

- Iklan -
Ad imageAd image

Tidak semua orang bisa mengikuti Advance.

Pengurus Wilayah PII, yang wilayah kerjanya setingkat provinsi, menentukan siapa yang layak mendapatkan undangan. Undangan itu bukan sekadar selembar kertas. Di beberapa daerah, kertas itu bisa lebih sulit diperoleh daripada tiket perjalanan ke Jakarta. Ada kader yang menjadi pengurus wilayah, tetapi belum pernah mengikuti Advance. Ada yang pandai berbicara dalam rapat, menguasai istilah organisasi, hafal keputusan-keputusan, dan mampu membuat forum berlangsung sampai tengah malam. Namun, tanpa Advance, ia belum bisa masuk ke dalam tim instruktur.

Organisasi rupanya mempunyai cara sendiri untuk membedakan orang yang bisa memimpin rapat dengan orang yang boleh membentuk manusia.

Sesudah Advance pun belum selesai.

Masih ada Coaching Instruktur, tiga hari tiga malam, untuk mempersiapkan kader menjalankan tugasnya sebagai instruktur. Di kalangan kami, proses itu dikenal dengan istilah terbang.

- Iklan -
Ad image

Saya selalu menyukai istilah itu. Terbang terdengar membebaskan, seakan-akan seseorang yang telah menuntaskan semua jenjang akan dilepaskan ke udara dan dibiarkan mencari arah sendiri. Padahal, sebelum benar-benar menjadi instruktur utama, seseorang masih harus menjalani dua tahap pendampingan. Ia mesti ikut sekurang-kurangnya dua kali training sebagai observer, atau pendamping instruktur.

Dua kali menjadi saksi sebelum dipercaya menjadi pelaku utama.

Begitulah kira-kira.

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali merumuskan aturan itu. Mungkin seseorang yang pernah membuat kesalahan, kemudian menyadari bahwa pengalaman tidak bisa diturunkan melalui ceramah. Seseorang harus melihat sendiri bagaimana kelas berjalan, bagaimana peserta bereaksi, bagaimana sebuah pertanyaan sederhana bisa membuat seseorang marah, dan bagaimana seorang instruktur yang merasa paling benar justru dapat merusak seluruh suasana.

Kesempatan pertama saya menjadi pendamping instruktur datang tanpa upacara.

Saya langsung dipasangkan dengan Ketua Umum PW PII Yogya, dokter Imron. Setidaknya, begitulah saya mengingatnya sekarang. Ingatan manusia tidak selalu bekerja seperti notulen rapat. Beberapa nama tertinggal, beberapa tanggal lenyap, tetapi ada peristiwa yang justru melekat karena hal-hal kecil yang tidak pernah dianggap penting oleh orang lain.

Tempat training itu berada di kawasan sekitar Gunung Sumbing, di sebuah sekolah yang jauh dari permukiman.

Kami datang bersama sepuluh instruktur lain. Dua belas orang seluruhnya, termasuk saya dan Imron. Sebagian sudah berpengalaman, sebagian lain masih membawa semangat yang terlalu besar untuk ukuran tubuh yang harus tidur hanya beberapa jam sehari.

Nama-nama mereka kini tidak semuanya dapat saya panggil kembali dengan tepat. Namun, saya ingat bahwa setiap orang mempunyai tugas, setiap tugas mempunyai konsekuensi, dan setiap konsekuensi kelak akan dibicarakan dalam evaluasi. Tidak ada yang benar-benar bisa bersembunyi di balik jabatan. Bahkan orang yang sepanjang hari terlihat paling tenang bisa mendadak menjadi bahan pembicaraan ketika evaluasi dimulai.

Saat itu musim kemarau.

Air di sekolah tempat kami menyelenggarakan training sama sekali tidak mengalir.

Pada siang hari, keadaan tersebut masih bisa dianggap sebagai gangguan teknis. Orang bisa membeli air, meminta bantuan penduduk, atau menunda mandi dengan alasan yang dibuat-buat. Tetapi malam hari mempunyai cara sendiri untuk memperbesar persoalan. Ketika tenggorokan kering, badan lelah, dan mata mulai berat, ketiadaan air bisa terasa seperti persoalan ideologi.

Malam itu saya hendak menunaikan salat Isya.

Saya mencari air ke sana kemari. Sekolah itu sepi, jauh dari rumah penduduk. Di luar, pegunungan menyimpan dinginnya sendiri. Saya berjalan sendirian, menyusuri bagian belakang bangunan, berharap menemukan keran yang masih berfungsi atau bak penampungan yang belum kosong.

Saya tidak menemukan keduanya.

Yang saya temukan justru sebatang bambu yang menjulur dari tebing.

Orang Jawa menyebutnya padasan, atau pancuran. Bambu itu melintang dari tempat yang lebih tinggi, dengan ujung mengarah ke bawah, seolah-olah seseorang sengaja memasangnya untuk menolong siapa pun yang membutuhkan air.

Tetapi tidak ada air.

Saya mendekat. Saya pegang bambu itu, lalu mengetuknya tiga kali.

Tok.

Tok.

Tok.

Saya tidak sedang melakukan ritual. Saya hanya mencoba sesuatu yang, dalam keadaan normal, mungkin tidak akan pernah saya lakukan. Kalau sebuah keran tidak mengeluarkan air, kita memutarnya. Kalau sebuah mesin tidak menyala, kita memeriksanya. Kalau sebuah bambu tidak mengeluarkan air, entah mengapa, malam itu saya memilih mengetuknya.

Dan air pun mengalir.

Saya sempat terdiam.

Air itu keluar dari ujung bambu, mula-mula sedikit, kemudian cukup deras untuk menampung air wudu. Saya segera membasuh anggota badan wudhu satu demi satu. Air pegunungan itu dinginnya bukan main. Ketika menyentuh muka, rasanya seperti ada seseorang yang membangunkan saya dari dalam tubuh sendiri.

Saya membasuh muka. Kepala. Tangan. Kaki.

Saya tidak tahu apakah air itu berasal dari mata air yang baru saja menemukan jalannya, dari sumbatan yang terlepas karena ketukan, atau dari sesuatu yang tidak perlu saya jelaskan malam itu. Saya hanya tahu airnya ada, dan saya membutuhkannya.

Sesudah selesai, saya kembali ke lokal.

Imron masih berada di depan kelas.

Ia sedang menyampaikan materi kepada peserta training. Wajahnya serius. Para peserta duduk menghadapnya, sebagian menatap penuh perhatian, sebagian lain berjuang melawan kantuk. Saya masuk dan duduk di tempat yang tidak mengganggu jalannya kelas.

Tidak ada yang bertanya dari mana saya datang.

Tidak ada yang perlu saya ceritakan.

Di depan kelas, Imron terus berbicara. Di luar, malam terus berjalan. Dan saya, yang beberapa menit sebelumnya berdiri di depan pancuran tanpa air, kembali menjadi seorang observer yang harus memperhatikan bagaimana seorang instruktur menjalankan tugasnya.

Saya mulai memahami bahwa pekerjaan instruktur tidak hanya berlangsung ketika ia berbicara.

Ada instruktur yang mengajar di dalam lokal. Ada instruktur yang mengajar ketika berjalan ke kamar mandi, ketika membagikan makanan, ketika mengingatkan peserta yang melanggar kesepakatan, atau ketika ia sendiri hampir tidak sanggup membuka mata. Ada pula instruktur yang mengajar tanpa mengetahui bahwa seseorang sedang memperhatikannya.

Malam itu saya memperhatikan Imron.

Saya tidak lagi hanya mendengar isi materinya. Saya memperhatikan bagaimana ia menjaga irama kelas, bagaimana ia merespons peserta, dan bagaimana ia bertahan di depan orang-orang yang juga sedang kehabisan tenaga.

Saya mulai mengerti mengapa seorang calon instruktur harus menjadi observer lebih dahulu.

Sebab seseorang yang hanya belajar berbicara belum tentu belajar mendengarkan. Orang yang terbiasa memimpin belum tentu sanggup melihat dirinya sendiri. Dan orang yang merasa sudah selesai belajar biasanya justru paling sulit diajari.

Training berlangsung tujuh hari tujuh malam.

Kalimat itu terdengar sederhana jika ditulis dalam laporan kegiatan. Tujuh hari tujuh malam. Tetapi tubuh manusia tidak membaca laporan. Tubuh menghitung jam tidur yang hilang, punggung yang nyeri, perut yang lapar, dan kepala yang harus tetap bekerja ketika seluruh bagian tubuh lain meminta berhenti.

Kami tidur sebentar, lalu bangun untuk menjalankan tugas berikutnya. Persediaan vitamin dan makanan tambahan menjadi bagian penting dari perlengkapan instruktur. Bukan karena kami sedang mengikuti perlombaan ketahanan tubuh, melainkan karena jadwal training hampir tidak menyediakan ruang kosong.

Kelas selesai sekitar pukul dua belas malam.

Sesudah itu, kami tidak langsung tidur.

Evaluasi dimulai.

Kami membicarakan jalannya kelas, perilaku peserta, cara instruktur menyampaikan materi, ketepatan metode, dan berbagai hal yang mungkin tidak disadari ketika kegiatan berlangsung. Evaluasi dapat berjalan sampai pukul tiga dini hari.

Lalu subuh datang.

Pukul setengah lima, kami sudah kembali memasuki kegiatan. Ada tadarus, ada persiapan kelas, ada mandi, berganti pakaian, sarapan, kemudian kembali ke lokal. Siang hari menyisakan sedikit waktu untuk makan dan salat. Setelah itu, kelas lagi.

Jam-jam berputar seperti roda yang tidak mengenal rem.

Kadang-kadang saya berpikir, barangkali inilah cara sebuah organisasi menguji apakah kadernya benar-benar menginginkan sesuatu yang selama ini diucapkannya dengan penuh semangat. Bukan dengan menanyakan kesediaan di atas kertas, melainkan dengan mempertemukannya dengan kenyataan yang tidak romantis: mata merah, pakaian lembap, perut kosong, dan kewajiban untuk tetap memperlakukan orang lain dengan baik.

Sebab mudah sekali berbicara tentang kepemimpinan ketika tubuh masih segar.

Jauh lebih sulit melakukannya ketika seseorang telah tidur hanya beberapa jam, lalu harus menghadapi peserta yang mengajukan pertanyaan menyebalkan dengan wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah.

Saya pernah melihat instruktur kehilangan kesabaran karena hal-hal kecil. Saya juga pernah melihat orang yang biasanya banyak bicara memilih diam, lalu kembali bekerja setelah beberapa menit. Dalam keadaan semacam itu, watak manusia keluar tanpa perlu dipanggil. Ia muncul dari cara seseorang memegang gelas, menutup pintu, menanggapi pertanyaan, atau memandang orang yang dianggapnya tidak becus.

Tidak semua yang muncul menyenangkan.

Tetapi barangkali itulah gunanya evaluasi.

Training selesai setelah tujuh hari tujuh malam, tetapi kami tidak langsung pulang.

Masih ada satu tahap yang harus dituntaskan: evaluasi instruktur.

Dan evaluasi ini bukan acara penutup yang diselenggarakan agar laporan kegiatan terlihat lengkap. Ia bisa berlangsung tiga hari tiga malam. Kami duduk bersama, membicarakan apa yang terjadi selama training, menelusuri kesalahan, mengoreksi metode, dan membongkar persoalan yang mungkin sebelumnya hanya disimpan dalam hati.

Yang dibicarakan bukan semata-mata keberhasilan program.

Kami juga membicarakan orang.

Cara seorang instruktur berbicara di lokal. Cara ia memperlakukan peserta di luar lokal. Cara ia bekerja ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan kelakuan kecil di tengah keserimpungan kegiatan, ketika seseorang mengira tidak ada orang yang memperhatikannya, bisa kembali muncul di hadapan forum.

Tidak ada yang benar-benar kebal.

Orang yang merasa dirinya paling berpengalaman bisa mendapat kritik paling keras. Orang yang biasanya mengkritik orang lain bisa mendadak duduk gelisah ketika gilirannya tiba. Jabatan tidak selalu menyelamatkan seseorang dari pertanyaan. Pengalaman pun tidak selalu menjadi pembelaan yang meyakinkan.

Dalam evaluasi itu, kami saling membantah.

Kadang-kadang suara meninggi. Kadang-kadang sebuah persoalan kecil melebar menjadi pembicaraan panjang. Kami bisa memperdebatkan keputusan yang dibuat hanya dalam beberapa detik, tetapi akibatnya terasa berjam-jam. Kami bisa membicarakan satu kalimat yang diucapkan seorang instruktur, lalu memeriksa mengapa kalimat itu menyakitkan, apakah memang diperlukan, dan apakah ada cara lain untuk menyampaikan maksud yang sama.

Di hadapan forum, niat baik tidak otomatis membatalkan akibat buruk.

Kalimat itu tidak pernah saya lihat tertulis di papan. Tetapi saya belajar memahaminya sedikit demi sedikit.

Ada kalanya seseorang berkata bahwa ia melakukan sesuatu demi kepentingan training. Orang lain menjawab bahwa kepentingan training tidak bisa dijadikan alasan untuk memperlakukan manusia sesuka hati. Ada yang membela diri dengan mengatakan bahwa peserta harus ditempa. Ada pula yang bertanya, siapa sebenarnya yang sedang ditempa, peserta atau ego instrukturnya?

Pertanyaan seperti itu tidak selalu memperoleh jawaban yang memuaskan.

Namun, ia harus tetap diajukan.

Saya, yang pada training pertama itu masih berstatus observer, lebih banyak mendengarkan. Saya sedang belajar bahwa menjadi instruktur bukan berarti memiliki kekuasaan untuk menjelaskan segala sesuatu. Menjadi instruktur berarti bersedia mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan, termasuk hal-hal yang mungkin tidak kita sadari.

Sepuluh instruktur lain mempunyai pengalaman dan pembelaannya masing-masing. Imron juga menjadi bagian dari forum yang sama. Orang yang selama berhari-hari berdiri di depan kelas itu kini duduk bersama kami, mendengarkan kritik, memberikan penjelasan, dan menerima penilaian.

Di luar forum, ia adalah Ketua Umum PW PII Yogya.

Di dalam evaluasi, ia adalah seorang instruktur yang harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya.

Bagi saya, di situlah organisasi menunjukkan wajahnya yang lain. Bukan wajah ketika seseorang dilantik, bukan wajah ketika pidato disambut tepuk tangan, melainkan wajah ketika orang-orang yang sama-sama lelah harus berani mengatakan kepada kawannya bahwa ia keliru.

Tiga hari tiga malam bukan waktu yang sebentar untuk duduk menghadapi kritik. Namun, anehnya, setelah semua persoalan dibicarakan, setelah semua orang menyampaikan keberatan, setelah kesalahan dibuka satu demi satu, kami berjabat tangan.

Kami tertawa lagi.

Orang yang tadi membantah saya dengan suara keras kembali menjadi kawan yang menawarkan makanan. Orang yang kritiknya membuat saya ingin membela diri justru menepuk bahu saya. Orang yang selama evaluasi terlihat paling serius mendadak melontarkan lelucon yang membuat semua orang tertawa.

Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Padahal sesuatu telah terjadi.

Mungkin itulah yang membuat saya terus mengingat pengalaman tersebut. Kami tidak harus sepakat dalam segala hal untuk kembali duduk bersama. Kami tidak harus berpura-pura bahwa tidak ada kesalahan demi menjaga perasaan. Kami boleh saling membantah, bahkan saling membantai dalam evaluasi, selama sesudahnya kami bersedia kembali menjadi kawan dan bekerja bersama.

Tentu saja, tidak semua kritik otomatis benar. Tidak semua evaluasi otomatis adil. Orang bisa keliru ketika menilai orang lain, dan sebuah forum bisa saja berubah menjadi tempat untuk melampiaskan kejengkelan. Karena itu, evaluasi membutuhkan keberanian sekaligus kerendahan hati. Keberanian untuk berbicara dan kerendahan hati untuk menerima bahwa orang lain mungkin melihat sesuatu yang tidak sanggup kita lihat sendiri.

Saya tidak tahu apakah saya langsung menjadi instruktur yang baik setelah training itu.

Mungkin tidak.

Menjadi observer hanya memberi saya kesempatan untuk melihat. Pengalaman berikutnya baru akan mengajari saya bagaimana menggunakan apa yang telah saya lihat. Saya masih harus belajar, masih harus melakukan kesalahan, dan masih harus menerima koreksi dari orang-orang yang mungkin lebih muda atau kurang berpengalaman daripada saya.

Sebab umur tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mendengarkan.

Dan jabatan, betapapun pentingnya, tidak pernah menjamin bahwa seseorang sanggup mengakui kesalahan.

Bertahun-tahun kemudian, saya masih mengingat bambu di tebing itu.

Saya tidak pernah benar-benar mengetahui mengapa airnya berhenti, mengapa saya mengetuknya tiga kali, dan mengapa sesudah itu air mengalir. Saya tidak ingin memaksakan sebuah penjelasan. Bisa jadi ada sumbatan yang terlepas. Bisa jadi ada sesuatu yang sederhana, yang tidak saya pahami karena malam itu saya terlalu lelah untuk memeriksanya.

Tetapi ada satu hal yang saya ingat dengan jelas.

Saya membutuhkan air, lalu air itu datang.

Dalam kehidupan organisasi, kebutuhan kita sering kali berbeda. Kita membutuhkan keberanian, tetapi yang datang justru rasa takut. Kita membutuhkan kejujuran, tetapi yang muncul adalah pembelaan diri. Kita membutuhkan seorang pemimpin yang bersedia mendengar, tetapi yang kita temui justru orang yang sibuk menjelaskan mengapa dirinya selalu benar.

Mungkin karena itu, sesekali kita perlu mengetuk sesuatu.

Bukan untuk memanggil keajaiban, melainkan untuk menguji apakah kita masih bersedia mencoba.

Ketukan pertama bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa.

Ketukan kedua mungkin hanya membuat tangan kita sakit.

Ketukan ketiga, siapa tahu, membuat air mengalir.

Atau membuat kita sadar bahwa yang perlu diperbaiki bukan pancurannya, melainkan cara kita melihatnya.

Saya tidak tahu.

Saya hanya seorang mantan observer yang pernah mendampingi Imron di sebuah sekolah dekat Gunung Sumbing, pada musim kemarau, ketika air tidak mengalir dan kelas tidak boleh berhenti.

Saya ingat Imron masih mengajar ketika saya kembali ke lokal malam itu.

Saya ingat tujuh hari tujuh malam yang terasa seperti tujuh puluh hari.

Saya ingat tiga hari tiga malam evaluasi yang membuat kami saling membantah, lalu berjabat tangan.

Dan saya ingat, ketika semuanya selesai, kami tertawa bersama.

Barangkali itulah pelajaran pertama saya tentang menjadi instruktur.

Bahwa orang yang berdiri di depan kelas tidak selalu menjadi guru bagi orang-orang yang duduk di hadapannya. Kadang-kadang, ia justru sedang belajar dari mereka. Dan orang yang sedang belajar tidak boleh terlalu sibuk menjaga wibawanya sampai lupa bahwa dirinya juga manusia.

Sebab kelak, ketika ia harus menilai orang lain, ia perlu mengingat bagaimana rasanya dinilai.

Ketika ia harus menegur, ia perlu mengingat bagaimana rasanya ditegur.

Dan ketika ia merasa paling benar, ia perlu mengingat bahwa bahkan sebatang bambu pun pernah mengajarinya sesuatu yang tidak tercantum dalam modul training.

Air tidak mengalir karena saya seorang instruktur.

Air mengalir setelah saya mengetuknya.

Di luar itu, saya tetap harus belajar.

Aris Munandar, seorang petani yang tinggal di Magelang

Share This Article
error: Content is protected !!