Cerpen Aris Munandar: Yu Hayati dan Sebuah Podium

11 Min Read
Ilustrasi cerpen Minggu Aris Munandar

Garung, sekitar 1992

 
DARMEDIANETWORK | “Saya masih belum siap menjadi instruktur!”
Begitu jawabanku ketika Muhammad Arifin, yang biasa kami panggil Teko, bertanya apakah aku bersedia menjadi instruktur dalam training Batra di Garung.
Teko adalah tim koordinator instruktur. Ia punya kebiasaan mengajukan pertanyaan yang sebetulnya sudah mengandung keputusan. Maka, ketika ia bertanya kenapa, aku tahu jawabanku mungkin tidak akan mengubah apa-apa.
“Kenapa?”
“Ya, belum siap saja. Yang lain saja. Masih banyak kawan yang lebih mumpuni daripada saya.”
Teko memandangku. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin ia sedang menghitung berapa banyak orang yang sudah menolak sebelum akhirnya bertanya kepadaku.
Hari itu kami akan berangkat. Dalam istilah kami, terbang.
Ada sekitar sepuluh orang dalam rombongan instruktur. Peserta yang akan datang kabarnya mencapai 150 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah di wilayah Yogbes, Yogyakarta Besar, sebuah wilayah yang meliputi seluruh DIY dan sebagian Jawa Tengah bagian selatan: Magelang, Purworejo, Wonosobo, Kebumen, dan Cilacap.
Aku tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana pembagian wilayah itu dibuat. Mengapa Banyumas tidak masuk Yogbes, misalnya. Barangkali ada pertimbangan organisasi yang tidak pernah sampai ke telingaku. Atau mungkin ada garis batas yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu dalam struktur organisasi.
Aku tidak bertanya. Saat itu pikiranku lebih sibuk dengan satu persoalan: bagaimana caranya agar aku tidak perlu menjadi instruktur?
Akhirnya aku kembali menjadi observer.
Ini kali ketiga. Sebelumnya di Bambanglipuro, Bantul, aku juga menjadi observer. Dalam dunia perkaderan, menjadi observer bukan pekerjaan yang sepenuhnya ringan. Ada tahapan, ada penilaian, ada proses untuk belajar memahami bagaimana sebuah training berlangsung. Tetapi, bagiku, posisi itu juga semacam tempat persembunyian yang terhormat.
Aku bisa berada di dalam training tanpa harus berdiri di depan peserta.
Kali ini aku mendampingi Yu Hayati.
Yu Hayati bukan orang baru dalam urusan training. Ia sudah berkali-kali ikut menjadi bagian dari tim instruktur, sejak zaman Imron menjadi Ketua PW. Belasan kali, kalau tidak salah. Ia tahu banyak hal tentang perkaderan. Ia mengenal suasana training, memahami peserta, dan tahu kapan harus bergerak.
Tetapi ada satu hal yang selalu membuatku heran.
Yu Hayati tidak pernah mau menjadi instruktur.
Bukan karena tidak mampu. Setidaknya menurut pengamatanku, ia jauh lebih siap daripada beberapa orang yang setiap kali training justru sibuk mencari-cari bahan untuk mengisi materi.
Ada sesuatu yang seperti hijab, dinding tak terlihat, yang membuatnya tidak bersedia berbicara di depan peserta laki-laki.
Waktu itu kampung-kampung di Yogyakarta sedang dilanda demam halaqah. Banyak kawan PII mengikuti kegiatan-kegiatan semacam itu. Aku tidak tahu apakah Yu Hayati termasuk di dalamnya. Tetapi, barangkali, ada pengaruh dari suasana keagamaan yang sedang berkembang saat itu. Ada batas-batas pergaulan yang dijaga, ada keyakinan tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan menempatkan diri.
Aku tidak pernah menanyakannya.
Maka, ketika akhirnya aku harus menjadi instruktur, Yu Hayati menjadi pendampingku.
Kami berada dalam satu lokal.
Sialnya, aku memang tidak terlalu menguasai materi.
Silabus sudah tersedia. Hari pertama materi apa, hari kedua apa, hari ketiga apa, semuanya sudah tersusun. Tetapi silabus tidak pernah menjamin bahwa seseorang sanggup menjelaskan apa yang tertulis di dalamnya.
Aku sering merasa seperti orang yang sedang membaca peta di tengah hutan, sementara peserta menunggu ditunjukkan jalan keluar.
Ketika materi akhlak, misalnya, aku kadang lebih banyak mengandalkan gagasan peserta. Begitu juga ketika membahas sejarah perjuangan umat Islam Indonesia. Aku membuka diskusi, membiarkan mereka mengemukakan pendapat, lalu berusaha menyusun kesimpulan.
Kadang kesimpulanku benar.
Kadang salah.
Bahkan, sesekali, aku baru menyadari kesalahan itu setelah melihat wajah peserta yang saling berpandangan.
Tiga hari tiga malam adalah waktu yang cukup panjang bagi seseorang yang sebenarnya tidak ingin menjadi instruktur.
Yu Hayati selalu ada di sampingku.
Ia lebih banyak diam. Kadang membantu menjelaskan sesuatu, kadang memberikan tambahan, kadang sekadar tersenyum ketika aku mulai kehilangan arah.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya setiap kali melihatku kebingungan di depan kelas.
Mungkin ia kasihan.
Mungkin ia juga sedang menahan tawa.
Atau mungkin ia berpikir bahwa seorang observer yang gagal menghindar akhirnya memang harus menerima nasibnya sendiri.
Pada hari ketiga, ketika suasana training mulai terasa melelahkan, aku mengajak peserta menyanyikan Mars PII.
Aku pikir menyanyi akan lebih mudah daripada menjelaskan materi sejarah perjuangan umat Islam Indonesia.
Setidaknya, kalau aku salah lirik, tidak ada yang perlu membuat kesimpulan.
Aku berdiri di depan lokal, mencoba mengajari peserta menyanyikan lagu itu. Ada yang mengikuti dengan suara keras, ada yang masih terbata-bata, ada pula yang hanya menggerakkan bibir. Suasana agak gaduh. Beberapa peserta tertawa karena tidak hafal lirik.
Lalu sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.
Yu Hayati tiba-tiba mengambil alih podium.
Aku tertegun.
Ia berdiri di depan peserta. Tanpa aba-aba. Tanpa permisi. Tanpa meminta persetujuanku.
Kemudian ia mulai menyanyikan Mars PII.
Suaranya merdu. Jernih. Tidak ada keraguan. Ia mencontohkan lagu itu dengan begitu baik, seolah-olah selama ini memang ada sesuatu yang sedang menunggu kesempatan untuk keluar dari dirinya.
Aku masih berdiri beberapa langkah dari podium.
Tidak percaya.
Perempuan yang selama ini tidak pernah bersedia menjadi instruktur, yang bahkan untuk berbicara di hadapan peserta laki-laki seperti memiliki pagar tak kasatmata, kini berdiri di sana. Ia menyanyi dengan penuh percaya diri. Ia mengajari peserta. Ia membuat suasana lokal yang semula terasa kering mendadak hidup.
Aku melihat wajah-wajah peserta.
Mereka memperhatikan Yu Hayati. Ada yang tersenyum. Ada yang ikut menyanyi. Ada yang tampak terkejut, mungkin sama terkejutnya denganku.
Aku sendiri merasa bahagia.
Ada semacam kelegaan yang sulit dijelaskan. Selama tiga hari tiga malam aku seperti orang yang dipaksa berenang di laut yang tidak kukenal. Tiba-tiba seseorang datang dan menunjukkan bahwa ternyata ada perahu di dekatku.
Aku keluar ruangan.
Kubiarkan Yu Hayati berada di podium.
Awalnya kukira ia hanya akan mengambil alih urusan menyanyi. Tetapi ternyata tidak.
Satu materi ia pegang.
Kemudian materi berikutnya.
Lama-lama, tanpa pernah ada pembicaraan resmi, podium itu seperti sudah menjadi miliknya.
Aku tidak lagi banyak bicara. Aku duduk, mengamati, sesekali membantu jika diperlukan. Ada sesuatu yang terasa ganjil sekaligus menyenangkan. Orang yang sejak awal menolak menjadi instruktur justru akhirnya mengisi training dengan baik.
Sementara orang yang sejak awal menolak menjadi instruktur karena merasa tidak siap, ternyata bisa menemukan alasan untuk mundur tanpa merasa bersalah.
Hari terakhir training tiba.
Aku melihat Yu Hayati dengan wajah yang berbeda. Ia lebih ceria. Senyumnya lebih sering muncul. Ada semacam kebebasan yang terpancar dari gerak-geriknya.
Aku tidak tahu apakah ia menyadari perubahan itu.
Mungkin baginya, ia hanya sedang membantu seorang kawan yang kesulitan mengisi materi. Mungkin ia merasa tidak sedang melakukan sesuatu yang istimewa.
Tetapi bagiku, hari itu ada sesuatu yang lebih penting daripada selesainya sebuah training.
Aku melihat seseorang menemukan dirinya sendiri.
Selama ini ia berada di sekitar podium, tetapi tidak pernah benar-benar berdiri di atasnya. Ia ikut mengurus training, menemani instruktur, memastikan kegiatan berjalan, tetapi selalu membiarkan orang lain yang berbicara.
Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berani.
Apakah karena lagu?
Apakah karena suasana?
Ataukah karena ia melihat seorang instruktur yang begitu kebingungan sampai-sampai mengajari peserta menyanyi pun tampak seperti sedang mencari jalan pulang?
Aku tidak pernah tahu.
Yang kutahu, ada sesuatu yang berubah pada Yu Hayati hari itu.
Dan mungkin ada sesuatu yang berubah juga pada diriku.
Sebelum berangkat ke Garung, aku merasa menjadi instruktur adalah perkara kesiapan. Harus menguasai materi, punya pengetahuan, sanggup berbicara di depan orang banyak, dan memiliki kemampuan memimpin diskusi.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Ada orang yang merasa tidak siap, tetapi akhirnya berdiri di podium karena keadaan memaksanya.
Ada orang yang sebenarnya mampu, tetapi bertahun-tahun memilih duduk di belakang karena sesuatu yang tidak mudah dijelaskan.
Dan ada saat ketika seseorang tiba-tiba berdiri, lalu menemukan bahwa suara yang selama ini disimpannya ternyata bisa menghidupkan sebuah ruangan.
Aku pulang dari Garung dengan membawa banyak pelajaran.
Sebagian berasal dari silabus.
Sebagian dari kesalahan-kesalahanku sendiri.
Tetapi satu pelajaran yang paling kuingat justru tidak pernah tertulis dalam silabus Batra.
Bahwa kadang-kadang, untuk membuat seseorang berani berdiri di depan, kita tidak perlu menyuruhnya naik ke podium.
Cukup beri dia sebuah lagu.
Lalu biarkan ia menyelesaikannya dengan suaranya sendiri.
Dan sampai hari ini, kalau aku mengingat training di Garung, yang pertama muncul bukanlah materi akhlak, bukan sejarah perjuangan umat Islam Indonesia, bukan pula nama-nama peserta yang datang dari berbagai daerah.
Yang muncul justru seorang perempuan bernama Yu Hayati.
Seorang perempuan yang selama tiga hari tiga malam menjadi pendamping seorang instruktur yang tidak siap.
Sampai akhirnya, tanpa pernah merencanakannya, ia sendiri menjadi instruktur.
Barangkali, itulah salah satu cara perkaderan bekerja.
Kita datang untuk mengajari orang lain.
Tetapi kadang-kadang, justru orang lainlah yang mengajari kita.
Dan podium itu, pada hari itu, bukan lagi milikku.
Ia milik Yu Hayati.
Magelang, 31 Oktober 2026
Aris Munandar, seorang petani yang tinggal di Magelang
Share This Article
error: Content is protected !!