Rekomendasi Izin Sempat Dicabut, Konser Andrea Bocelli Tetap Digelar di Borobudur

6 Min Read
Candi Borobudur dalam konser Andrea Bocelli, malam ini 31 Oktober 2026

Pencabutan rekomendasi oleh Polresta Magelang tidak dapat disamakan dengan pembatalan izin final penyelenggaraan konser.

MAGELANG, DARMEDIANETWORK – Konser penyanyi tenor dunia asal Italia, Andrea Bocelli, tetap digelar di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (31/10/2026) malam ini, meskipun sebelumnya menuai penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kontroversi konser bertajuk Romanza 30th Anniversary World Tour tersebut bahkan sempat merembet ke persoalan perizinan setelah Polresta Magelang mengumumkan pencabutan rekomendasi kegiatan konser.

Pencabutan rekomendasi itu disampaikan Wakapolresta Magelang AKBP Bim Rekoaji dalam audiensi bersama kelompok masyarakat yang menolak konser di kantor Unit Taman Wisata Borobudur, Selasa (13/10/2026).

Saat itu, Bim menyatakan pihaknya telah mencabut satu bendel surat rekomendasi kegiatan konser Andrea Bocelli yang sebelumnya disampaikan kepada panitia penyelenggara.

- Iklan -
Ad imageAd image

Pernyataan tersebut disambut positif oleh massa yang hadir dalam audiensi.

Namun, dua hari kemudian, Kapolda Jawa Tengah Irjen Roy Hardi Siahaan memberikan penjelasan berbeda. Ia menyatakan tidak ada pembatalan izin konser.

Menurut Roy, rekomendasi perizinan dari tingkat daerah diteruskan ke Polda hingga Mabes Polri. Adapun kewenangan penerbitan izin berada pada Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri.

Dengan demikian, pencabutan rekomendasi oleh Polresta Magelang tidak dapat disamakan dengan pembatalan izin final penyelenggaraan konser.

Siapa Andrea Bocelli?

Andrea Bocelli bukan penyanyi biasa. Pria kelahiran Lajatico, Italia, 22 September 1958, itu dikenal sebagai salah satu penyanyi tenor paling populer di dunia.

- Iklan -
Ad image

Namanya dikenal luas melalui perpaduan musik klasik, opera, dan pop. Sejumlah karyanya menjadi lagu internasional, antara lain Con te partirò, yang kemudian populer dalam versi duet Time to Say Goodbye bersama Sarah Brightman, serta The Prayer bersama Céline Dion.

Bocelli mengalami kebutaan total ketika berusia 12 tahun setelah mengalami kecelakaan saat bermain sepak bola. Sebelumnya, ia memiliki gangguan penglihatan akibat glaukoma kongenital.

Keterbatasan penglihatan tidak menghentikan perjalanan kariernya. Ia justru berkembang menjadi penyanyi dengan jutaan penggemar di berbagai negara.

Konser di Indonesia kali ini merupakan bagian dari tur dunia untuk memperingati 30 tahun album Romanza, yang dirilis pada 1997.

Mengapa Konsernya Ditolak?

Kontroversi yang menyertai kedatangan Bocelli ke Indonesia bukan berkaitan dengan kualitas musiknya, melainkan rekam jejak keterlibatannya dalam sejumlah kegiatan yang berhubungan dengan Israel.

MUI melalui Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Sudarnoto Abdul Hakim meminta pemerintah membatalkan konser tersebut.

Dalam pernyataan sikap pada 10 Oktober 2026, MUI menyoroti dua hal, yakni keterlibatan Bocelli dalam acara penggalangan dana Friends of Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles pada 2010 dan penampilannya dalam konser di Tel Aviv, Israel, pada 2022.

MUI menilai rekam jejak tersebut menjadi alasan untuk mempertanyakan kelayakan memberikan panggung kepada Bocelli di Indonesia, terutama di tengah situasi kemanusiaan di Gaza.

MUI juga meminta pemerintah konsisten dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina dan menentang penjajahan.

Penolakan itu kemudian berkembang menjadi gerakan masyarakat. Sejumlah kelompok menggelar audiensi dan demonstrasi untuk mendesak pembatalan konser.

Namun, perlu dibedakan bahwa keterlibatan Bocelli sebagai penampil dalam sebuah acara penggalangan dana tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ia secara pribadi menyumbangkan dana kepada militer Israel. Hal tersebut merupakan bagian dari kontroversi yang menjadi dasar keberatan MUI.

Promotor Tetap Melanjutkan Konser

Di tengah penolakan tersebut, penyelenggara melalui Shoemaker Live memastikan konser tetap berlangsung sesuai jadwal.

Pendiri Shoemaker Live, Prajna Murdaya, menyatakan penyelenggaraan konser telah melalui konsultasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

Promotor juga menyampaikan bahwa Bocelli ingin membawa pesan kemanusiaan dan perdamaian melalui penampilannya, terutama bagi anak-anak dan masyarakat yang terdampak konflik.

Bahkan, penyelenggara mengumumkan kampanye sosial berupa komitmen penyediaan 100.000 pasang sepatu bagi anak-anak di Tanah Suci dan wilayah lain yang terdampak konflik.

Konser di Borobudur pada 31 Oktober merupakan pertunjukan pertama dari dua rangkaian konser Bocelli di Indonesia. Pertunjukan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.

Untuk mengamankan kegiatan di Borobudur, Polda Jawa Tengah mengerahkan 3.229 personel gabungan dari unsur Polri, TNI, pemerintah daerah, dan instansi terkait.

Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Muhammad Aldian mengatakan pengamanan difokuskan pada kelancaran lalu lintas, kepadatan pengunjung, serta kemungkinan adanya kelompok masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi.

Polisi menyatakan tetap memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dengan menyiapkan lokasi tertentu agar tidak mengganggu jalannya kegiatan.

Antara Aspirasi, Kebebasan Berkesenian, dan Diplomasi

Penyelenggaraan konser Andrea Bocelli di Borobudur memperlihatkan bagaimana sebuah pertunjukan seni dapat bersinggungan dengan persoalan politik internasional dan solidaritas kemanusiaan.

Di satu sisi, masyarakat memiliki hak menyampaikan keberatan terhadap figur publik yang rekam jejaknya dinilai bertentangan dengan prinsip solidaritas terhadap Palestina.

Di sisi lain, penyelenggara kegiatan juga memiliki kepentingan untuk menjalankan kegiatan seni dan budaya sepanjang memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena konser berlangsung di kawasan Candi Borobudur, salah satu warisan budaya dunia yang menjadi kebanggaan Indonesia.

Pada akhirnya, penyelenggaraan konser bukan hanya menyangkut penampilan seorang penyanyi kelas dunia, tetapi juga bagaimana negara mengelola perbedaan pandangan, menjamin kebebasan menyampaikan pendapat, serta menjaga ketertiban dan penghormatan terhadap warisan budaya.

Editor: Aris Munandar 

Share This Article
error: Content is protected !!