Cerpen Galuh Kurniawan: Cuci Piring di Meja Makan Istana

6 Min Read
Cuci piring istana

Tidak naik kereta. Tidak pula membawa bendera.Tetapi langkahnya panjang. Sampai juga ke istana.

DMNETWORK – Piring itu menangis. Tidak keras. Hanya bunyi kecil, seperti sendok yang tanpa sengaja menyentuh bibir gelas.
Ting.
Tak seorang pun mendengarnya. Kecuali seorang pelayan tua yang sudah puluhan tahun bekerja di dapur istana. Ia berhenti mengelap meja.
“Piring juga bisa menangis?” gumamnya.
Piring itu diam. Tetapi noda yang melekat di permukaannya seperti sedang berbicara.
Dapur istana tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan ketika ayam belum sempat berkokok, tungku sudah menyala. Pisau beradu dengan talenan. Panci mengembuskan uap. Orang-orang berlari membawa keranjang sayur, daging, susu, telur, buah, rempah.
Semua tampak sibuk. Sangat sibuk. Saking sibuknya, orang sering lupa bertanya untuk siapa semua kesibukan itu. Padahal jawabannya sederhana. Untuk rakyat.
Begitulah titah Sang Raja pada suatu pagi.
“Masaklah makanan terbaik. Jangan ada anak yang lapar. Jangan ada tubuh yang tumbuh dengan kekurangan. Apa yang ada di meja istana, biarlah sampai pula ke meja rakyat.”
Semua menunduk.
“Siap, Paduka.” Jawaban itu serempak. Serempak pula mereka berpaling ketika Raja meninggalkan ruangan. Sesudah itu, meja rapat digelar.
Bukan untuk membicarakan gizi.
Bukan untuk membicarakan kesehatan. Yang dibicarakan justru angka.
“Kalau dagingnya dikurangi sedikit?”
“Tak akan ketahuan.”
“Telurnya?”
“Yang kecil saja.”
“Sayurnya?”
“Perbanyak kuah.”
“Buah?”
“Potong lebih tipis.”
Lalu seseorang tertawa. Yang lain ikut tertawa. Tawa itu bergulung memenuhi dapur, masuk ke dalam panci, meresap ke nasi, menempel pada minyak goreng.
Tak ada yang sadar bahwa makanan bisa mengingat siapa yang memasaknya.
Hari-hari berlalu. Anak-anak makan. Ada yang tersenyum. Ada yang diam. Ada pula yang muntah.
Di sebuah desa, seorang ibu memegang kepala anaknya yang panas.
Di kota lain, seorang ayah memandangi kotak makanan yang masih utuh.
Di tempat berbeda, seorang guru menghitung murid yang izin pulang karena sakit. Keluhan berjalan kaki.Ia tidak naik kuda.
Tidak naik kereta. Tidak pula membawa bendera.Tetapi langkahnya panjang. Sampai juga ke istana.
Raja tidak langsung marah.
Ia meminta semua makanan yang selama ini dibagikan. Ia mencicipinya. Sekali. Dua kali.
Lalu meletakkan sendok. Sunyi.
Semua orang menunggu.
Bahkan api di tungku seperti mengecil.
“Panggil semua yang bertanggung jawab.”
Mereka datang. Wajahnya bersih. Pakaiannya rapi. Laporannya lebih rapi lagi.
Grafik naik. Angka indah.
Presentase memuaskan.
Raja tidak melihat grafik. Ia melihat piring. Piring-piring itu penuh noda. Bukan noda kari.
Bukan noda minyak.
Melainkan noda yang tidak bisa dibersihkan dengan sabun. Noda ketamakan.
“Kalian memberi makan siapa?” tanya Raja.
“Rakyat, Paduka.”
“Benarkah?”
Tak ada yang menjawab.
“Kalau benar untuk rakyat, mengapa keuntungan kalian lebih gemuk daripada tubuh anak-anak itu?”
Sunyi menjadi lebih sunyi.
Seekor lalat berhenti terbang.
Jam dinding seperti lupa berdetak.
Esok paginya, beberapa kursi kosong. Tak ada lagi pemiliknya.
Nama mereka dicabut dari papan. Stempel mereka dikembalikan.Tak seorang pun menangis.Kecuali piring-piring.
Ting…
Ting…
Ting…
Seorang pelayan tua mengumpulkannya.
“Paduka,” katanya.
“Piring-piring ini kotor.”
“Aku tahu.”
“Harus dicuci?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Yang harus dicuci bukan porselennya.”
Pelayan tua mengangkat wajah.
“Lalu apa?”
“Tangan.”
“Tangan?”
“Ya.”
“Tangan siapa?”
“Semua tangan yang pernah menghidangkan makanan dengan niat yang salah.”
Beberapa hari kemudian datang seorang punggawa muda.
Usianya belum banyak.
Langkahnya biasa saja. Tidak membawa pidato. Tidak membawa janji. Ia hanya membawa celemek dapur.
Orang-orang saling berpandangan.
“Dia kok masuk dapur?”
“Bukankah pejabat?”
Punggawa muda itu mengambil satu piring. Lalu mencucinya.
Sungguh-sungguh. Satu. Dua.
Seratus. Seribu.
Orang-orang mulai tertawa.
“Pejabat kok jadi tukang cuci piring.”
Ia tidak menjawab. Ia terus mencuci. Karena ia tahu yang sedang dibersihkan bukan kerak nasi. Melainkan kerak kebiasaan. Hari-hari berikutnya berubah pelan-pelan. Bahan makanan datang dengan kualitas yang lebih baik.
Orang yang curang mulai takut.
Yang jujur mulai berani. Dapur menjadi lebih tenang. Api menyala tanpa bisik-bisik. Pisau memotong tanpa menghitung untung. Sendok tidak lagi gemetar.
Piring tidak lagi menangis.
Pelayan tua suatu pagi mengangkat sebuah piring yang mengilap. Ia tersenyum.
“Piring ini akhirnya bersih.”
Punggawa muda menggeleng.
“Belum.”
“Masih kurang?”
“Piring akan selalu bisa dicuci.”
“Lalu apa yang sulit?”
Punggawa muda memandang ke arah meja makan yang sangat panjang.
“Paling sulit menjaga agar tangan yang menyentuhnya tetap bersih.”
Pelayan tua terdiam. Ia mengerti.
Air mampu membersihkan lemak. Sabun mampu membersihkan kerak.
Tetapi hanya kejujuran yang mampu membersihkan amanah.
Dan sejak hari itu, setiap kali sebuah piring diletakkan di hadapan seorang anak di pelosok negeri, orang-orang di dapur selalu saling mengingatkan dengan suara pelan, nyaris seperti doa.
“Jangan kotori meja makan ini lagi.”
Karena meja makan istana, sesungguhnya, tidak pernah berada di dalam istana.
Ia berada di rumah-rumah rakyat.
Di sanalah sebuah kerajaan dinilai.
Bukan dari emas di mahkota rajanya, melainkan dari kebersihan sepiring makanan yang sampai ke tangan anak-anaknya.

  • 24 Juli 2026
  • Pendopo agung, Muntilan 
Share This Article
error: Content is protected !!