Gerbang menuju makam Ki Ageng Gumelem menggunakan kayu jati berukir.
BANJARNEGARA, DMNETWORK — Ada makam yang hanya menjadi tempat orang beristirahat setelah kematian. Ada pula makam yang justru membuat sebuah wilayah terus mengingat siapa dirinya.
Makam Ki Ageng Gumelem berada di antara keduanya.
Letaknya di Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, di kawasan persawahan dan di bawah Bukit Girilangan. Dari jalan raya, kawasan itu sekilas tampak seperti ruang pedesaan biasa. Namun semakin mendekat ke kompleks makam, suasananya berubah.
Gerbang kayu, pagar bata, cungkup dan makam-makam para demang menyimpan cerita panjang tentang sebuah wilayah yang dahulu bukan sekadar desa.
Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Banjarnegara pada 2 Desember 2024 merekomendasikan Makam Ki Ageng Gumelem sebagai Situs Cagar Budaya peringkat kabupaten. Luas situs yang dikaji mencapai sekitar 8.556 meter persegi.
Di balik rekomendasi itu terdapat persoalan sejarah yang jauh lebih panjang.
Siapa sebenarnya Ki Ageng Gumelem?
Dokumen kajian TACB menyebut sejumlah nama yang merujuk pada tokoh yang sama: Udhakusuma, Hasan Besari, atau Ki Ageng Gumelem.
Dalam tradisi sejarah setempat, Udhakusuma disebut sebagai panglima yang diutus Panembahan Senopati untuk menjaga petilasan Ki Ageng Giring di Bukit Girilangan.
Dari tugas menjaga petilasan itu, jalan sejarahnya kemudian berbelok. Ia menetap di wilayah tersebut. Kemudian memperoleh kedudukan sebagai Demang Gumelem.
Dan, menurut kajian TACB, Panembahan Senopati memberikan status Demang Nggumelem sekaligus membebaskan wilayah tersebut dari kewajiban upeti atau pajak kerajaan.
Di sinilah istilah tanah perdikan memperoleh maknanya. Gumelem bukan sekadar wilayah yang mempunyai kepala pemerintahan lokal. Ia memiliki hubungan khusus dengan kekuasaan Mataram.
Namun sejarah Gumelem tidak berhenti pada jabatan seorang demang. Ia menjelma menjadi tata kehidupan.
Di antara makam dan kekuasaan
Kompleks makam Ki Ageng Gumelem bukan hanya berisi satu makam. Di kawasan itu juga terdapat makam para Demang Gumelem dan keluarga demang. Tradisi pemakaman tersebut membuat kompleks makam berubah menjadi semacam arsip genealogis yang tidak ditulis dalam buku.
Nama-nama orang disimpan dalam tanah.
Hubungan keluarga disimpan dalam letak makam.
Dan sejarah pemerintahan disimpan dalam ingatan para penjaga makam. Ada pula bentuk fisik yang membuat situs ini mempunyai karakter berbeda.
Pagar kompleks makam tersusun dari bata tanpa semen. Gerbang menuju makam Ki Ageng Gumelem menggunakan kayu jati berukir. Beberapa bagian memang telah mengalami penggantian karena usia dan kerusakan, tetapi bentuk lama masih dapat dibaca.
Bagi seorang peziarah, benda-benda itu mungkin hanya tampak sebagai bagian dari bangunan lama.
Bagi seorang peneliti sejarah, justru di situlah pertanyaannya bermula.
Mengapa pagar dibuat seperti itu?
Siapa yang membangunnya?
Mengapa makam para demang ditempatkan di kawasan yang sama?
Dan mengapa masyarakat mempertahankan tempat tersebut selama beberapa generasi?
Sejarah yang masih diziarahi
Setiap tahun, makam ini kembali menjadi pusat kegiatan masyarakat Gumelem.
Menjelang Ramadan, warga menjalankan Nyadran Gedhe atau Sadran Gedhe. Tradisi tersebut dilakukan oleh masyarakat Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus menyambut datangnya Ramadan.
Di dalamnya ada kirab, hasil bumi, makanan dalam tenong, doa dan ziarah.
Pada titik ini batas antara sejarah dan kehidupan sehari-hari menjadi tipis.
Orang tidak datang ke makam hanya untuk membaca masa lalu.
Mereka datang karena masa lalu masih dianggap mempunyai hubungan dengan kehidupan hari ini.
Itulah sebabnya makam Ki Ageng Gumelem lebih tepat dibaca sebagai ruang ingatan masyarakat, bukan sekadar bangunan tua.
Di bawah Bukit Girilangan
Letak makam ini juga tidak bisa dilepaskan dari Bukit Girilangan.
Di kawasan tersebut terdapat petilasan yang berkaitan dengan Ki Ageng Giring, tokoh yang dalam tradisi sejarah Mataram mempunyai hubungan dengan Sutawijaya.
Kisah mengenai hilangnya jasad Ki Ageng Giring bahkan melahirkan nama Girilangan. Dalam cerita yang hidup di masyarakat, giri berarti gunung dan lilang atau ilang merujuk pada hilangnya jasad tersebut.
Benar atau tidaknya kisah itu secara historis tentu membutuhkan pembuktian lebih lanjut.
Tetapi sebagai tradisi tutur, ia menunjukkan satu hal penting: masyarakat Gumelem memahami sejarah wilayahnya melalui hubungan antara makam, leluhur, Mataram dan tanah yang mereka tempati.
Itu pula yang membuat makam Ki Ageng Gumelem penting.
Ia adalah satu titik dalam jaringan sejarah yang jauh lebih besar.
Makam yang meminta kita berhenti sejenak
Hari ini Gumelem sudah menjadi desa.
Kademangan telah menjadi bagian dari sejarah. Tanah perdikan tidak lagi menjadi sistem pemerintahan.
Tetapi ketika seseorang berdiri di depan gerbang makam Ki Ageng Gumelem, sejarah itu seperti belum sepenuhnya selesai.
Di sana masih ada bata yang disusun tanpa semen. Masih ada kayu jati yang menahan gerbang. Masih ada makam para demang.
Masih ada warga yang datang membawa doa.
Dan masih ada nama Udhakusuma, Hasan Besari, Ki Ageng Gumelem yang terus disebut.
Mungkin begitulah cara sebuah masyarakat menjaga sejarah. Bukan dengan membekuknya dalam museum. Melainkan dengan terus mendatanginya. (Rist)