Ibu Jari Ekalaya dan Suara yang Datang dari Kegelapan

5 Min Read
Mujar Sangkerta berdiri paling kanan (foto: Mujar/DMNetwork)

Musik Mujar Sangkerta menangkap wilayah semacam itu

DMNETWORK – Ada saat ketika musik dalam teater berhenti menjadi musik.
Ia berubah menjadi suasana. Menjadi napas. Menjadi sesuatu yang tidak kelihatan tetapi terasa bergerak di antara pemain dan penonton.
Hal semacam itu terasa kuat dalam pementasan Bambang Ekalaya oleh Teater Alam. Tata musik yang digarap Mujar Sangkerta tidak ditempatkan sekadar sebagai latar bagi dialog dan gerak para pemain. Musik justru ikut membangun dunia tempat Ekalaya hidup.
Mujar seperti memahami satu perkara sederhana dalam teater: tidak semua yang ada dalam naskah harus diucapkan.
Sebagian cukup dibunyikan. Di situlah musiknya bekerja.
Bunyi-bunyi yang hadir dari tata musik Mujar seperti membuka ruang lain di dalam panggung. Ada bisikan-bisikan yang terasa mistis, tetapi tidak jatuh menjadi sekadar hiasan suasana. Ia seperti suara yang datang dari tempat yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan, suara yang membuat hutan tempat Ekalaya berlatih terasa bukan sekadar latar geografis.

Hutan menjadi ruang batin.
Di sana Ekalaya berbicara dengan patung gurunya. Di sana ia belajar tanpa guru yang hadir secara fisik. Di sana pula batas antara guru dan bayangan guru, antara kenyataan dan keyakinan, menjadi kabur.
Musik Mujar Sangkerta menangkap wilayah semacam itu.
Ia membunyikan sesuatu yang sebenarnya sudah tersimpan di dalam naskah, tetapi belum tentu terdengar kalau hanya mengandalkan dialog. Ada semacam suara dari balik kata-kata. Sesuatu yang bergerak pelan, kadang seperti bisikan, kadang seperti gema yang datang dari kejauhan.
Karena itu musik dalam pementasan ini tidak boleh dibaca sebagai tempelan.
Ia menjadi bagian dari dramaturgi.
Ketika Ekalaya berdiri di hadapan patung Drona, misalnya, yang hadir bukan hanya seorang pemuda dengan keyakinan kepada gurunya. Ada dunia yang sedang dibangun di sekelilingnya. Musik membantu penonton mempercayai bahwa patung tanah itu, bagi Ekalaya, bukan benda mati.
Ia telah menjadi guru.
Di sinilah kerja musik menjadi menarik. Musik tidak menjelaskan cerita. Musik membuat penonton merasakan cerita.
Perbedaannya kecil, tetapi penting.
Dialog mengatakan sesuatu kepada telinga. Musik kadang mengatakan sesuatu kepada bagian diri kita yang lain.
Dan Bambang Ekalaya membutuhkan wilayah semacam itu. Sebab kisah ini bukan hanya cerita tentang kemampuan memanah. Ia berbicara tentang keyakinan, pengabdian, hubungan murid dan guru, serta pengorbanan yang pada akhirnya menyisakan pertanyaan besar.
Ketika ibu jari Ekalaya diminta sebagai guru dakshina, persoalannya bukan lagi sekadar apakah seorang murid harus patuh kepada gurunya.
Ada sesuatu yang lebih gelap di sana.
Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pengakuan.
Ada kekuasaan yang bekerja melalui sebuah permintaan.
Dan ada seorang murid yang begitu percaya kepada gurunya sampai-sampai tubuhnya sendiri menjadi persembahan.
Pada titik semacam itu, musik yang terlalu ramai justru akan mengganggu. Mujar tampaknya memilih jalan lain. Ia memberi ruang kepada bunyi untuk tumbuh sebagai atmosfer. Bisikan-bisikan mistis itu membuat tragedi Ekalaya tidak berhenti sebagai peristiwa di atas panggung. Ia terasa seperti sesuatu yang masih menggantung setelah adegan selesai.
Mungkin di situlah kekuatan tata musik pementasan ini.
Mujar Sangkerta tidak berusaha merebut panggung dari para pemain. Ia justru bekerja dari belakang, tetapi pengaruhnya terasa di depan. Seperti seseorang yang meniupkan angin dari tempat yang tidak terlihat: daun bergerak, tetapi kita tidak melihat siapa yang meniupnya.
Teater yang baik memang membutuhkan kerja semacam itu.
Panggung bukan hanya perkara aktor yang berbicara, tubuh yang bergerak, kostum yang terlihat, atau cahaya yang jatuh tepat pada wajah pemain. Ada bunyi yang bekerja di bawah kesadaran penonton.
Dan pada Bambang Ekalaya, bunyi itu menemukan jalannya melalui tangan Mujar Sangkerta.
Maka ketika pertunjukan selesai, barangkali yang dibawa pulang penonton bukan hanya gambar Ekalaya yang kehilangan ibu jarinya.
Ada pula sisa bunyi yang masih terngiang.
Seperti suara dari sebuah hutan yang belum benar-benar ditinggalkan.
Hutan tempat seorang murid belajar kepada seorang guru yang sebenarnya tidak pernah mengajarinya.
Hutan tempat sebuah patung tanah berubah menjadi guru.
Dan hutan tempat sebuah ibu jari akhirnya menjadi harga dari kesetiaan.

Aris Munandar, penggemar teater tinggal di Magelang 

- Iklan -
Ad imageAd image
Share This Article
error: Content is protected !!