Pemkab Demak dan Kemenko Pangan Optimistis Swasembada Beras, Panen Raya Jadi Indikator Positif

3 Min Read
Don Muzakir bersama Bupati Demak Eisti'anah, saat panen raya (foto: Istimewa)

DEMAK, DMNETWORK — Pemerintah Kabupaten Demak bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan menilai panen raya padi seluas lebih dari 100 hektare di Desa Jatirejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, menjadi indikator positif menuju target swasembada pangan nasional.
Bupati Demak Eisti’anah mengatakan hasil panen yang baik menunjukkan bahwa berbagai program pemerintah di sektor pertanian mulai memberikan dampak nyata bagi petani.
Ia mengapresiasi meningkatnya produktivitas pertanian sekaligus mendorong petani untuk terus mengoptimalkan pengelolaan lahan.
“Ini bisa menjadi penyemangat bagi petani untuk terus meningkatkan produksi pertanian dan menarik minat generasi muda agar mau terjun ke sektor pertanian,” kata Eisti’anah.
Meski demikian, menurut dia, sektor pertanian di Demak masih menghadapi tantangan berupa ancaman banjir akibat kondisi sejumlah sungai yang melintasi wilayah tersebut.
Eisti’anah menyebut pemerintah telah melakukan berbagai upaya penanganan pascabanjir, termasuk normalisasi alur sungai setelah jebolnya tanggul Sungai Wulan beberapa waktu lalu.
Ia juga berharap pemerintah pusat dapat mempercepat normalisasi Sungai Tuntang yang hampir setiap tahun mengalami kerusakan tanggul dan berdampak pada lahan pertanian masyarakat.
“Kami berharap normalisasi Sungai Tuntang dapat menjadi prioritas karena sangat berpengaruh terhadap produktivitas pertanian di Demak,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Usaha Pangan Pertanian Kemenko Pangan Widiyastuti mengatakan pemerintah terus melakukan sinkronisasi kebutuhan sektor pertanian mulai dari benih, pupuk, teknologi, hingga penguatan sumber daya manusia.
Menurut dia, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan target swasembada pangan nasional pada 2027.
“Kami memastikan kebutuhan benih, pupuk, teknologi, dan SDM pertanian berjalan selaras agar produktivitas terus meningkat,” kata Widiyastuti.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan swasembada pangan akan menjadi fondasi menuju kedaulatan pangan nasional pada 2029 dan mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Widiyastuti juga menilai kebijakan harga gabah minimal Rp 6.500 per kilogram memberikan perlindungan bagi petani sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Karanganyar, sebagai salah satu kawasan pertanian penting di Kabupaten Demak, selama ini dikenal memiliki lahan sawah yang produktif dengan dukungan jaringan irigasi dari daerah aliran Sungai Wulan dan Sungai Tuntang. Namun, ancaman banjir dan perubahan iklim masih menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama.
Pemerintah berharap sinergi antara pemerintah daerah, kementerian, Bulog, kelompok tani, dan organisasi petani dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di tingkat akar rumput. (Rist)

Share This Article