Wawan Pramono: Panen Raya Demak dan Tantangan Menjaga Surplus Beras

3 Min Read
Ketua DPW TMI Jawa Tengah ketika berada di Demak, panen Raya padi (foto: istimewa)

DEMAK, DMNETWORK — Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia (TMI) Jawa Tengah, Wawan Pramono, menilai keberhasilan panen raya padi lebih dari 100 hektare di Desa Jatirejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, menjadi bukti bahwa sektor pertanian Jawa Tengah berada pada jalur yang positif menuju penguatan ketahanan pangan nasional.

Menurut Wawan, capaian produktivitas yang mencapai sekitar 8 ton per hektare tidak hanya menunjukkan keberhasilan petani dalam mengelola lahan, tetapi juga mencerminkan mulai efektifnya berbagai kebijakan pemerintah di sektor pertanian, mulai dari ketersediaan pupuk, dukungan alat mesin pertanian, hingga kepastian harga gabah.

“Yang patut disyukuri hari ini bukan hanya hasil panennya, tetapi juga meningkatnya optimisme petani. Ketika pupuk tersedia, harga gabah terjaga, dan hasil panen terserap pasar, petani memiliki kepastian untuk terus berproduksi,” kata Wawan di sela panen raya di Demak, Senin (9/6/2026).

- Iklan -
Ad imageAd image

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan panen saat ini tidak boleh membuat seluruh pemangku kepentingan lengah. Jawa Tengah, menurutnya, segera menghadapi tantangan musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produktivitas pada musim tanam berikutnya.

Karena itu, Wawan menilai persiapan infrastruktur pendukung seperti irigasi dan pompanisasi harus menjadi perhatian utama.

“Kita harus mulai memikirkan musim tanam berikutnya. Jangan sampai surplus yang kita nikmati hari ini justru mengalami penurunan karena kurang siap menghadapi kemarau. Irigasi, pompanisasi, dan pengelolaan sumber air harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Selain persoalan iklim, Wawan juga menyoroti tantangan regenerasi petani yang dinilainya semakin mendesak. Ia mengatakan sebagian besar petani saat ini berusia di atas 50 tahun, sementara modernisasi pertanian menuntut kemampuan mengoperasikan teknologi seperti combine harvester, drone pertanian, hingga sistem pertanian presisi.

“Pertanian masa depan membutuhkan generasi muda. Kita perlu melakukan reorganisasi dan edukasi agar anak-anak muda melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan dan modern, bukan pekerjaan yang ditinggalkan,” katanya.

- Iklan -
Ad image

Sementara itu, Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, menegaskan bahwa panen raya di Demak menunjukkan program penguatan sektor pangan yang dijalankan pemerintah mulai dirasakan langsung oleh petani.

Menurut Don, keberhasilan produksi harus diikuti dengan sistem penyerapan hasil panen yang baik agar petani memperoleh keuntungan yang layak.

“Produksi yang tinggi harus dibarengi kepastian pasar. Karena itu, Tani Merdeka terus mendorong kemitraan penyerapan gabah dan beras agar hasil panen petani terserap dengan harga yang menguntungkan,” ujar Don.

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, petani, dan berbagai pihak dalam rantai distribusi pangan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program swasembada pangan nasional yang ditargetkan pemerintah dalam beberapa tahun mendatang.

“Ketahanan pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana petani memperoleh kesejahteraan dari hasil kerjanya. Jika petani sejahtera, maka swasembada pangan akan lebih mudah diwujudkan,” kata Don. (Rist)

Share This Article