Jason W. Moore dalam bukunya _Capitalism in the Web of Life_ (2015) menyebut fenomena ini sebagai bagian dari metabolic rift atau keretakan metabolik. Siklus alami antara manusia dan alam diputus paksa.
BOGOR, DMNETWORK – Bogor Timur itu dulu daerah adem tempat pelarian orang kota yang penat. Sekarang? Isinya kalau bukan ruko kosong, ya pabrik yang cerobong asapnya batuk-batuk tiap hari. Tanah subur disulap jadi hutan beton. Sawah tempat bapak-bapak petani rasan-rasan sore hari berubah jadi perumahan kluster dengan nama kebarat-baratan.
Sengkarut ini kalau dibaca pakai kacamata sosiologi dan filsafat ternyata bukan cuma soal alih fungsi lahan biasa. Ini adalah hilangnya akal sehat akibat syahwat modal yang kelewat batas.
Dulu, manusia dan tanah itu seperti pasangan suami istri yang harmonis. Manusia merawat tanah, tanah memberi makan manusia. Sekarang, hubungan itu dirusak oleh pihak ketiga bernama kapitalisme properti.
Sosiolog Jason W. Moore dalam bukunya _Capitalism in the Web of Life_ (2015) menyebut fenomena ini sebagai bagian dari metabolic rift atau keretakan metabolik. Siklus alami antara manusia dan alam diputus paksa. Lahan Bogor Timur dipaksa menghasilkan cuan secepat mungkin tanpa diberi waktu bernapas.
Sialnya, alam tidak bisa diajak kompromi pakai uang pelicin. Ketika tanah ditutup semen dan air tidak punya jalan pulang, alam protes. Bentuk protesnya ya banjir musiman yang membuat penghuni perumahan elite terpaksa mengungsi sambil gigit jari.
Nasib Sungai Cileungsi lebih tragis lagi. Sungai yang dulunya tempat mandi dan memancing kini berubah warna-warni seperti pelangi, tapi baunya minta ampun akibat limbah pabrik.
Filsuf Jean Baudrillard dalam _Simulacra and Simulation_ (1981) mungkin akan tertawa getir melihat ini. Sungai Cileungsi sudah kehilangan hakikatnya sebagai air kehidupan.
Sungai di sini sudah beralih fungsi menjadi “simulakra” yaitu sebuah simbol kemajuan industri semu. Di atas kertas dan laporan amdal, daerah ini disebut “Kawasan Industri Potensial”. Padahal realitas aslinya? Itu genangan limbah cair yang baunya sanggup membuat pingsan seekor kerbau.
Sungai tidak lagi dipandang sebagai makhluk hidup, melainkan sebagai tempat pembuangan gratis demi menekan biaya produksi perusahaan. Tragis.
Lalu siapa yang menanggung semua kerusakan ini? Jawabannya jelas: warga lokal. Para pemilik modal setelah mengeruk keuntungan dari tanah Bogor Timur akan pulang ke rumah mewah mereka yang bebas polusi di Jakarta atau luar negeri.
Kondisi ini klop dengan teori Ulrich Beck dalam bukunya _Risk Society: Towards a New Modernity_ (1992). Beck menjelaskan bahwa modernisasi kapitalistik melahirkan sistem “komodifikasi risiko”.
Beck menjelaskan bahwa modernisasi kapitalistik melahirkan sistem “komodifikasi risiko”. Risiko lingkungan tidak dibagi rata. Korporasi memanen keuntungan finansial, sedangkan masyarakat pinggiran memanen penyakit saluran pernapasan dan air sumur yang berasa besi. Risiko ekologis telah didegradasi menjadi sekadar angka-angka statistik di meja birokrat.
Martin Heidegger dalam esai terkenalnya _The Question Concerning Technology_ (1954) sudah mewanti-wanti hal ini. Ketika teknologi dan industri dikendalikan penuh oleh cara pandang kapitalistik, alam hanya dipandang sebagai _standing reserve_ (persediaan siap pakai).
Pohon tidak dilihat sebagai oksigen, tapi sebagai sekian kubik kayu. Sungai tidak dilihat sebagai ekosistem, tapi sebagai saluran pembuangan efisien. Manusia modern kehilangan rasa hormat pada alam karena isi kepalanya sudah digantikan oleh kalkulator.
Mau sampai kapan Bogor Timur dijadikan tumbal keserakahan bursa saham? Menyelamatkan wilayah ini bukan lagi sekadar urusan menanam pohon saat hari bumi. Ini soal merebut kembali hak hidup warga dan menghentikan kegilaan beton yang terus merayap. Jika dibiarkan, anak cucu kita nanti mungkin hanya bisa melihat sungai yang bersih lewat tayangan dokumentasi sejarah di YouTube detikcom.
ANC, adalah aktifis Muhammadiyah tinggal di Cileungsi