Sebab menyebut Masalembo sebagai “Segitiga Bermuda Indonesia” boleh menjadi judul yang menarik, tetapi tidak boleh menggantikan penyelidikan.
DMNETWORK,- MASALEMBO tidak pernah meminta disebut Segitiga Bermuda Indonesia.
Ia hanya sekumpulan pulau dan laut di antara jalur pelayaran yang menghubungkan Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan timur Indonesia. Tetapi manusia punya kebiasaan memberi nama kepada tempat yang menyimpan terlalu banyak cerita.
Masalembo pun mendapat nama itu.
Bukan karena lautnya berwarna lain. Bukan karena kompas kapal tiba-tiba kehilangan akal. Apalagi karena ada kekuatan gaib yang secara khusus menunggu kapal lewat.
Nama itu lahir dari sejarah kecelakaan yang berulang.
Dan sejarah tersebut kembali terbuka setelah KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu, 13 September 2026.
Virgo membawa 243 orang, terdiri atas penumpang dan awak, dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal menghadapi cuaca buruk dengan gelombang yang dilaporkan mencapai sekitar tiga meter sebelum akhirnya terbalik. Hingga Senin, 14 September, sebanyak 108 orang telah diselamatkan, enam meninggal dunia, sedangkan 129 lainnya masih dalam pencarian. Operasi SAR berlangsung di tengah kondisi laut yang juga menyulitkan tim penyelamat.
Maka pertanyaan lama itu muncul kembali:
Ada apa dengan Masalembo?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana cerita tentang sebuah laut yang “misterius”.
Sebab jauh sebelum Virgo, ada Tampomas II.
Pada Januari 1981, kapal penumpang Tampomas II terbakar dan kemudian tenggelam di sekitar Kepulauan Masalembo. Ratusan orang menjadi korban. Tragedi itu begitu besar sehingga nama Tampomas kemudian melekat kuat dalam ingatan masyarakat Indonesia setiap kali Masalembo disebut.
Puluhan tahun berlalu, tetapi laut ternyata belum selesai dengan sejarahnya.
Pada 2007, dalam rentang waktu yang sangat berdekatan, KM Mutiara Indah tenggelam pada 19 Juli. Delapan hari kemudian, KM Fajar Mas menyusul pada 27 Juli. Sebulan berikutnya, KM Sumber Awal juga dilaporkan tenggelam di kawasan Masalembo.
Tiga kecelakaan kapal dalam rentang waktu yang berdekatan.
Kebetulan?
Bisa jadi.
Tetapi bagi orang yang bekerja di laut, rangkaian seperti itu tentu bukan sesuatu yang boleh ditertawakan.
Nama Masalembo semakin keras terdengar.
Kemudian pada 2017, KMP Mutiara Sentosa 1 terbakar di sekitar Pulau Masalembo. Peristiwa itu kembali menambah daftar panjang kecelakaan laut di kawasan tersebut.
Kini, sembilan tahun kemudian, Virgo masuk ke dalam daftar itu.
Seolah-olah laut sedang membuka kembali buku lama yang belum pernah benar-benar ditutup.
Tetapi di sinilah kita perlu berhati-hati.
Sebab menyebut Masalembo sebagai “Segitiga Bermuda Indonesia” boleh menjadi judul yang menarik, tetapi tidak boleh menggantikan penyelidikan.
Laut bukan makhluk yang mempunyai niat membunuh.
Laut hanya mempunyai hukum.
Angin bergerak menurut hukum alam. Gelombang mengikuti energi yang datang kepadanya. Arus bergerak karena perbedaan massa air, angin, pasang surut dan kondisi geografis. Cuaca berubah mengikuti sistem atmosfer.
Kapal yang berada di atasnya harus tunduk kepada semua itu.
Masalembo sendiri berada di kawasan laut yang penting bagi jalur pelayaran dan berada dalam lingkungan perairan yang dinamis. Karena itu, bagi pelaut, kawasan tersebut bukan sekadar titik pada peta.
Ia adalah kawasan yang harus dibaca.
Angin harus dibaca.
Gelombang harus dibaca.
Awan harus dibaca.
Arus harus diperhitungkan.
Dan yang paling penting, kondisi kapal harus dihitung dengan kepala dingin.
Pelaut berpengalaman biasanya memahami sesuatu yang kadang sulit dipahami orang di daratan.
Laut tidak pernah benar-benar tenang.
Ketika permukaannya tampak seperti kaca, di bawahnya tetap ada arus. Ketika matahari bersinar, perubahan cuaca tetap mungkin terjadi. Dan ketika kapal merasa aman karena sudah puluhan kali melewati jalur yang sama, laut tidak pernah menandatangani kontrak bahwa perjalanan berikutnya akan berjalan serupa.
Karena itu, pelaut tidak seharusnya merasa telah menaklukkan laut.
Ia hanya sedang diberi kesempatan untuk melewatinya.
Mungkin itulah yang membuat Masalembo terasa berbeda.
Bukan karena ada hantu di tengah laut.
Bukan karena ada segitiga gaib.
Melainkan karena sejarah kecelakaannya terlalu panjang untuk diabaikan.
Dan setiap kecelakaan seharusnya membuat manusia bertanya lebih serius.
Apakah kondisi cuaca sudah diperhitungkan?
Apakah kapal laik berlayar?
Bagaimana stabilitas kapal?
Bagaimana distribusi kendaraan dan muatan?
Bagaimana prosedur keselamatan dijalankan?
Apakah peringatan cuaca diterima dan ditindaklanjuti?
Seberapa cepat pertolongan bisa mencapai lokasi?
Pertanyaan-pertanyaan itu memang kurang menarik dibanding cerita tentang misteri.
Tetapi justru pertanyaan semacam itulah yang dapat menyelamatkan nyawa.
Dalam kasus Virgo, penyebab pasti kecelakaan belum boleh disimpulkan sebelum investigasi selesai. Yang sudah diketahui adalah kapal mengalami kecelakaan di tengah kondisi laut buruk dan gelombang tinggi. Tim penyelamat bahkan menghadapi laut bergelora ketika berusaha menjangkau kapal.
Maka jangan buru-buru menyalahkan Masalembo.
Laut tidak bisa membela diri.
Yang bisa dilakukan manusia adalah membaca tanda-tandanya dengan lebih baik.
Tampomas II telah memberikan peringatan dengan cara yang tragis.
Mutiara Indah, Fajar Mas, dan Sumber Awal mengulanginya.
Mutiara Sentosa 1 kembali mengingatkan.
Dan sekarang Virgo datang membawa pertanyaan yang sama.
Sampai kapan kita hanya menyebutnya misteri?
Barangkali sudah waktunya Masalembo tidak lagi diperlakukan sebagai cerita horor geografis.
Ia harus diperlakukan sebagai kawasan laut yang membutuhkan ilmu, disiplin, teknologi, informasi cuaca, kapal yang laik, awak yang terlatih, serta keputusan pelayaran yang tidak boleh tunduk kepada keberanian yang berlebihan.
Sebab laut tidak pernah meminta manusia menjadi pemberani.
Laut hanya meminta manusia tahu diri.
Di daratan, kita boleh berdebat tentang apakah Masalembo pantas disebut Segitiga Bermuda Indonesia.
Tetapi di atas kapal, perdebatan itu tidak banyak gunanya.
Di sana yang dibutuhkan hanya satu kesadaran:
laut bukan jalan raya yang kebetulan berisi air.
Ia adalah alam dengan hukumnya sendiri.
Dan di Masalembo, sejarah sudah terlalu sering mengajarkan hukum itu dengan harga yang sangat mahal.
Virgo hari ini menjadi bab terbaru.
Semoga menjadi bab terakhir.
Sebab yang kita butuhkan bukan cerita tentang kapal berikutnya yang hilang di Masalembo.
Kita membutuhkan cerita tentang kapal-kapal yang melewati Masalembo dengan selamat, membawa manusia pulang kepada keluarganya, dan membuat nama kawasan itu perlahan kehilangan alasan untuk disebut menakutkan.
Barangkali itulah cara terbaik mengalahkan sebuah “Segitiga Bermuda”.
Bukan dengan melawan misterinya, tetapi dengan memahami lautnya. (Redaksi/berbagai sumber)