Kami banyak belajar tentang pupuk organik, menjaga kesuburan tanah, sampai cara mengendalikan hama yang lebih ramah lingkungan.
BANYUMAS, DMNetwork – Lahan-lahan yang selama puluhan tahun dibiarkan dipenuhi semak belukar di wilayah adat Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, kini kembali hidup. Di tangan generasi muda masyarakat adat, hamparan tanah yang semula terbengkalai perlahan berubah menjadi lahan pertanian produktif.
Kebangkitan itu mulai terlihat sejak hadirnya Tani Merdeka Indonesia (TMI) yang melakukan pendampingan kepada masyarakat adat, khususnya para petani muda. Pendampingan tersebut tidak hanya menyentuh aspek budidaya pertanian, tetapi juga membangkitkan kembali semangat generasi muda untuk mengolah tanah warisan leluhur.
Hingga pertengahan Juli 2026, sedikitnya hampir 10 hektare lahan tidur telah berhasil dibuka kembali secara bergotong royong. Lahan-lahan itu kini ditanami berbagai komoditas yang relatif tahan terhadap musim kemarau, seperti sorgum, cabai, singkong, dan kacang hijau.
Di tengah terbatasnya ketersediaan air, para petani menerapkan sistem pengairan sederhana menggunakan selang dan pipa yang disambungkan dari sumber air di sekitar lokasi. Air dialirkan secara bergantian agar seluruh tanaman tetap mendapatkan pasokan yang cukup.
Ketua Pemuda Masyarakat Adat Banokeling, Ritam, mengatakan lahan yang kini ditanami sebelumnya hanya ditumbuhi rumput liar dan tidak lagi dimanfaatkan.
“Lahan-lahan ini dulu dibiarkan begitu saja. Sekarang setelah kami olah bersama, tanaman singkong, cabai, sorgum sampai kacang hijau tumbuh subur. Ini membuat kami semakin semangat untuk bertani,” ujar Ritam.
Ritam sendiri menggarap beberapa petak lahan, termasuk lahan yang berada di kawasan perbukitan. Di lokasi tersebut, ia memilih membudidayakan cabai karena dinilai memiliki nilai ekonomi yang baik meski membutuhkan perawatan lebih intensif.
Menurutnya, perubahan tidak hanya terjadi pada pemanfaatan lahan, tetapi juga pada cara bertani. Para pemuda kini mulai menerapkan pertanian yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan pupuk organik dan pengendalian hama secara alami.
“Kami banyak belajar tentang pupuk organik, menjaga kesuburan tanah, sampai cara mengendalikan hama yang lebih ramah lingkungan. Harapannya tanah tetap subur untuk jangka panjang,” katanya.
Desa Pekuncen selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah pertanian di Kecamatan Jatilawang. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian dengan komoditas utama padi, jagung, singkong, hortikultura, dan tanaman palawija. Namun, sebagian lahan tadah hujan sempat terbengkalai akibat keterbatasan air, minimnya regenerasi petani, serta menurunnya minat generasi muda untuk mengolah sawah dan ladang.
Di sisi lain, masyarakat adat Banokeling memiliki karakter sebagai komunitas agraris yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta berbagai tradisi adat seperti Perlon Unggahan, Perlon Turunan, hingga sedekah bumi masih menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bagi masyarakat Banokeling, tanah bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Berdasarkan pengamatan wartawan DMNetwork di wilayah adat Banokeling pada Minggu (19/7/2026), aktivitas para pemuda adat tampak berlangsung sejak pagi.
Sebagian membersihkan lahan yang baru dibuka, sementara kelompok lainnya menyiram tanaman menggunakan selang yang disambungkan dari sumber air di sekitar lokasi.
Hamparan lahan yang beberapa waktu lalu masih dipenuhi ilalang kini mulai didominasi tanaman muda yang tumbuh menghijau. Barisan cabai, sorgum, singkong, dan kacang hijau menjadi pemandangan baru di kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai lahan tidur.
Kebangkitan pertanian di wilayah adat Banokeling menunjukkan bahwa regenerasi petani dapat tumbuh ketika masyarakat memperoleh pendampingan, akses pengetahuan, dan semangat untuk kembali memanfaatkan potensi alam yang dimiliki. Dari lahan-lahan yang kembali dihidupkan, masyarakat adat Banokeling tidak hanya menanam pangan, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi masa depan pertanian di kampung leluhur mereka.***