Anak Belajar dari Kehidupan

5 Min Read
Anak belajar dari kehidupannya (foto: ilustrasi)

“If children live with encouragement, they learn confidence.” 

“If children live with honesty, they learn truthfulness.” 

“If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.”

— Dorothy Law Nolte, Children Learn What They Live

DMNETWORK – Ada nasihat yang tidak pernah benar-benar menjadi tua. Ia tetap hidup, meski zaman berganti, kurikulum berubah, dan teknologi berlari lebih cepat daripada kemampuan kita mengejarnya. Salah satunya datang dari Dorothy Law Nolte melalui puisinya Children Learn What They Live.
Puisi itu tidak mengajarkan cara membuat anak menjadi juara kelas. Tidak pula menawarkan rumus agar anak cepat sukses. Dorothy hanya menyampaikan sebuah kenyataan yang sering dilupakan orang dewasa: anak belajar dari kehidupan yang dijalaninya.

Ia belajar dari udara yang dihirup setiap hari di rumah.
Kalau setiap pagi yang didengarnya adalah bentakan, ia akan menganggap bentakan sebagai bahasa yang biasa. Bila yang diterimanya adalah celaan, ia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa merendahkan orang lain bukanlah persoalan. 

- Iklan -
Ad imageAd image

Sebaliknya, bila rumah menjadi tempat yang penuh penghargaan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang, semua itu akan menjadi bagian dari wataknya tanpa perlu diajarkan melalui ceramah panjang.

Di situlah kekuatan gagasan Dorothy Law Nolte. Pendidikan ternyata bukan pertama-tama soal buku, melainkan teladan. Bukan soal kata-kata, melainkan suasana. Anak-anak lebih tajam menangkap apa yang dilakukan orang tua daripada apa yang dinasihatkan.
Pepatah lama mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bukan karena buah memilih tempat jatuhnya, melainkan karena begitulah alam bekerja. Demikian pula seorang anak. Ia adalah cermin yang perlahan memantulkan wajah lingkungan tempat ia bertumbuh.
Ironisnya, pada zaman sekarang kita sering berharap anak berlaku santun, sementara orang dewasa mempertontonkan kemarahan di ruang publik. Kita meminta anak jujur, tetapi mereka menyaksikan kebohongan dianggap lumrah. Kita ingin mereka gemar membaca, padahal orang dewasa lebih sibuk menundukkan kepala kepada telepon genggam daripada membuka halaman buku.
Anak-anak memang memiliki telinga. Namun sesungguhnya mereka belajar lebih banyak dengan mata.
Mungkin itulah sebabnya puisi Dorothy Law Nolte tetap dikenang lebih dari setengah abad setelah ditulis. Isinya tidak dibatasi oleh negara, agama, ataupun budaya. Ia berbicara tentang hukum sederhana dalam kehidupan manusia: apa yang terus-menerus dilihat, didengar, dan dirasakan seorang anak, lambat laun akan menjadi bagian dari dirinya.
Karena itu, rumah sesungguhnya adalah sekolah pertama. Orang tua adalah guru pertama. 

Dan kehidupan sehari-hari adalah kurikulum yang paling sulit dipalsukan.

Kita boleh membeli buku-buku terbaik, menyekolahkan anak di tempat terbaik, bahkan menghadirkan guru-guru terbaik. Namun jika rumah dipenuhi amarah, penghinaan, dan ketidakjujuran, pelajaran itulah yang lebih dahulu meresap ke dalam jiwanya.
Dorothy Law Nolte tidak sedang menyalahkan orang tua. Ia hanya mengingatkan bahwa setiap ucapan meninggalkan gema, setiap perlakuan meninggalkan jejak, dan setiap kebiasaan meninggalkan warisan. Warisan itu tidak selalu berupa tanah, rumah, atau tabungan. Sering kali ia hadir dalam bentuk karakter yang kelak dibawa anak hingga akhir hayatnya.
Setelah membaca kembali puisi Children Learn What They Live karya Dorothy Law Nolte, kita menyadari bahwa dunia memang telah berubah.

Anak-anak hari ini lahir di tengah internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang nyaris tanpa batas. Namun, cara mereka belajar ternyata tidak banyak berubah. 

Mereka tetap belajar dari kehidupan yang mereka lihat setiap hari. Mereka belajar dari nada suara orang tuanya, dari cara ayah memperlakukan ibu, dari cara ibu menghargai tetangga, dari bagaimana keluarga menyikapi perbedaan, kegagalan, dan keberhasilan. Teknologi boleh berubah, tetapi watak manusia tetap dibentuk oleh teladan. Itulah sebabnya, lebih dari tujuh puluh tahun setelah ditulis, gagasan Dorothy Law Nolte masih terasa segar. Puisinya bukan sekadar rangkaian kalimat indah, melainkan cermin yang mengajak setiap orang tua bertanya: lingkungan seperti apa yang sedang kita wariskan kepada anak-anak kita?
Barangkali karena itulah puisi sederhana itu tidak pernah kehilangan relevansinya. Dunia berubah, tetapi cara seorang anak belajar tetap sama. Mereka belajar dari kehidupan yang kita jalani bersama mereka.
Maka, sebelum bertanya akan menjadi apa anak-anak kita kelak, mungkin lebih bijaksana jika kita lebih dahulu bertanya: kehidupan seperti apa yang sedang kita pertontonkan kepada mereka hari ini? ***

- Iklan -
Ad image

Penulis adalah petani yang gemar menulis

Share This Article
error: Content is protected !!