Trimakasih MBG

4 Min Read
Saat program MBG menyasar ke keluarga di jakarta (foto: rist)
Oleh: Sunano, Penulis buku “Lucunya Prabowo.”
DMNETWORK – Sebagai warga Jakarta, saya harus mengucapkan terimakasih adanya Makan Bergizi Gratis. Ini suara dari rakyat biasa. Sebagai ayah yang setiap hari selesai menjemput anak pulang sekolah TK dan SD, mengambil jatah MBG di kantor RW 08 Kelurahan Pondok Pinang. Keluarga kami mendapat jatah 2 paket MBG untuk balita dan ibu menyusui. 
Saya mengucapkan terimakasih untuk MBG bukan karena berhasil menjadi pejabat atau tim pendukung program pemerintah. Juga bukan karena saat ini MBG menjadi salah satu sebab hasil survei menjelaskan kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo terjun bebas. Salah satu sebab hasil survei SMRC mencatat kepuasan terhadap Presiden Prabowo turun dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026 adalah program prioritas MBG yang dinilai masyarakat tidak tepat sasaran dan menjadi ladang korupsi. 
Juga bukan karena sebagai salah satu pendukung Prabowo di Pilpres 2024 dengan menulis buku “Lucunya Prabowo” yang diterbitkan Kompas. Pilpres sudah selesai, dan sekarang kembali menjadi rakyat yang melihat program program strategis Presiden dijalankan.
Pada program MBG di Jakarta, awalnya memang melihat tata kelola dan pelaksanaan masih tidak terukur dengan baik. Seiring pergantian pimpinan BGN, manajemen MBG di DKI Jakarta khususnya semakin baik. 
Awalnya, sebelum ada pergantian kepemimpinan BGN, prioritas MBG untuk anak sekolah di sekolah dari PAUD-TK sampai SMA sederajat. Isu mega korupsi dan penahanan pimpinan BGN oleh Kejaksaan Agung merubah penyaluran MBG di sekolah. Khususnya di DKI Jakarta, alokasi ke SMA sederajat dihapus, digantikan dengan penyaluran untuk ibu hamil, menyusui, balita, dan lansia. Dengan alokasi penyaluran baru ini, keluarga kami dapat jatah 2 paket MBG. 
Penerima manfaat MBG berbasis RW ini tidak hanya yang ber KTP DKI, tetapi semua warga yang masuk kriteria. Meskipun mereka baru datang dan bekerja di DKI, tetapi masuk kategori kelompok rentan: ibu hamil, menyusui, balita, dan lansia, mereka mendapatkan alokasi pembagian MBG. 
Tepat Sasaran
MBG yang dibagikan ke keluarga dengan 4 kategori itu menurut saya sangat tepat sasaran. Hampir semua alasan kritik dan penolakan tidak terbukti. Misalnya banyaknya sisa makanan karena tidak habis, semua jatah MBG yang diterima keluarga, kalau anak tidak habis akan dibantu kakaknya yang menghabiskan. Bahkan saya selalu menggunakan jatah MBG untuk makan siang 2 anak saya. 
Sebelum istri berangkat mengajar di sekolah, selalu berpesan, “jangan lupa ambil MBG”. Ritinitas baru ini sangat baik, menu makan siang anak-anak jadi lebih bergizi dibandingkan menu sederhana kami setiap hari yang hanya pekerja serabutan. Menu andalan hanya telor yang sekarang lebih terjangkau.
Alasan mendasar di DKI Jakarta sebenarnya yang menjadi alasan tepat sasaran. Kasus stunting di DKI Jakarta yang sangat tinggi mencapai 17,2 persen. Dengan pembagian MBG untuk ibu hamil, menyusui, dan balita ikut mendorong percepatan penurunan angka stunting. Jika ini yang menjadi target, menu makan MBG perlu diatur sesuai kebutuhan gizi melawan stunting.
Yang perlu dikembangkan menjadi sasaran baru adalah kelompok miskin kota di DKI Jakarta. Mereka tidak masuk kategori kelompok rentan. Kelompok miskin kota itu seperti janda, panti asuhan, pemulung, pengangguran, dan pekerja serabutan yang tidak setiap hari dapat makan. Kategori ini membutuhkan kerjasama dengan RT/RW setempat untuk melakukan pendataan dan pengusulan peneriman MBG baru. 
Kategori kelompok miskin ini yang menurut Jumhur Hidayat yang mereka selalu kelaparan setiap hari. Jumlah mereka bisa cukup banyak di DKI Jakarta. Mereka perlu mendapat perhatian serius menjadi penerima MBG. 


Jakarta, 31 Juli 2026
Share This Article
error: Content is protected !!