Ia datang bukan ke meja makan yang rapi, melainkan ke dapur yang menurut banyak pengamat telah lebih dahulu dipenuhi persoalan tata kelola, kritik, dan kecurigaan.
DMNETWORK – Ada ungkapan lama: bila seekor kambing masuk kandang kambing, orang tak heran. Tetapi bila seekor kambing masuk sarang serigala, orang segera menghitung berapa lama tanduknya masih utuh.
Menjadi orang bersih di negara antah berantah bukan pekerjaan ringan. Yang lebih sering terjadi ialah orang pernah kotor lalu bertobat menjadi bersih, atau pernah bersih lalu pelan-pelan belajar menikmati lumpur. Negeri itu memang kaya akan air, termasuk air yang menggenang di halaman kekuasaan.
Dan politik, seperti pasar malam, selalu gaduh. Di sana ada lampu warna-warni, teriakan penjual obat, dan janji bahwa segala penyakit rakyat dapat sembuh dalam tiga kali tepuk tangan. Orang datang dengan niat mulia, pulang membawa kantong yang entah lebih berat oleh amanah atau oleh hal-hal lain yang tak tercantum dalam teks pidato.
Maka saya teringat seorang pangeran dalam cerita wayang. Ia dibesarkan dengan petuah para resi, diajari membedakan air bening dan air keruh. Suatu hari ia diminta memasuki sebuah gua yang sejak lama terkenal sebagai tempat para penyamun menyimpan barang rampasan. Pertanyaan orang kampung sederhana saja: apakah pangeran itu akan membersihkan gua, atau gua yang akan mengajari pangeran cara hidup di dalam gelap?
Kisah itulah yang terbayang ketika publik membicarakan figur baru di pucuk sebuah kerajaan yang mengurus urusan gizi rakyat. Ia datang bukan ke meja makan yang rapi, melainkan ke dapur yang menurut banyak pengamat telah lebih dahulu dipenuhi persoalan tata kelola, kritik, dan kecurigaan. Dalam keadaan seperti itu, jabatan bukan mahkota. Jabatan adalah sapu lidi yang disodorkan kepada orang yang baru saja masuk rumah berdebu.
Celakanya, dalam politik negara antah berantah, orang yang baru datang sering segera dianggap ikut memiliki seluruh isi rumah. Belum sempat membuka jendela, ia sudah ditanya mengapa genteng bocor. Belum sempat memeriksa lemari, ia sudah diminta menjelaskan siapa yang menghilangkan sendok perak.
Karena itu godaan terbesar seorang pejabat baru bukan sekadar bekerja, melainkan membuktikan bahwa ia tidak datang untuk menambah debu. Di sinilah muncul istilah yang terdengar garang: bumi hangus. Bukan membakar negeri, tentu saja, melainkan memutus mata rantai kebiasaan lama, menata ulang sistem, dan berani mengatakan bahwa tidak semua warisan harus dipertahankan hanya karena diwariskan.
Namun teori bumi hangus mempunyai bahaya lain. Terlalu bersemangat membakar, orang bisa lupa menanam. Setelah api padam, rakyat tidak membutuhkan abu; rakyat membutuhkan dapur yang kembali mengepul.
Saya tidak sedang mengadili figur tersebut. Saya hanya membaca kegelisahan publik. Setiap pejabat baru membawa dua koper: koper harapan dan koper prasangka. Yang pertama diantar oleh pendukung, yang kedua dititipkan oleh pengalaman bangsa ini yang terlalu sering kecewa.
Sang pangeran kini sudah masuk ke dalam gua. Pintu telah tertutup di belakangnya. Orang-orang di luar menunggu dengan berbagai tafsir. Ada yang berharap ia keluar membawa cahaya. Ada yang yakin ia akan pulang dengan pakaian berbau asap.
Waktu, seperti hakim tua yang jarang salah dengar, akan memeriksa mana yang lebih kuat: lumpur yang menempel pada sepatu kekuasaan atau tekad untuk tetap berjalan tanpa tenggelam.
Ya Tuhan jagalah pangeran itu, bentengi pangeran itu, dan kawal beliau sampai tuntas berperan menjadi sabun cuci piring atau sapu lidi yang setiap hari menyisir lantai dan sudut sudut ruangan yang sudah terlalu sangat kotor untuk dibersihkan.
Aris Munandar, editor