Lahan tersebut dipersiapkan untuk budidaya jagung, sorgum, cabai, dan kacang hijau sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan sekaligus peningkatan pendapatan petani.
BANYUMAS, DMNETWORK – Upaya memperkuat sektor pertanian di kawasan masyarakat adat Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, terus menunjukkan perkembangan. Dewan Pengurus Tani Merdeka Indonesia (TMI) Wilayah Khusus Komunitas Adat Banokeling kini membentuk Kelompok Petani Muda Banokeling yang saat ini tinggal menunggu proses registrasi melalui Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) Kementerian Pertanian.
Pembentukan kelompok tani tersebut melengkapi sejumlah kelembagaan yang sebelumnya telah dibangun masyarakat adat Banokeling. Di antaranya berdirinya PT Jangkar Bumi Banokeling yang telah resmi memperoleh akta notaris di Purwokerto, serta Yayasan Dharma Putra Banokeling yang telah lebih dahulu berbadan hukum melalui akta notaris.
Ketiga lembaga tersebut diharapkan menjadi wadah yang saling menguatkan dalam pengembangan pertanian, pemberdayaan masyarakat, hingga pengelolaan hasil pertanian di lingkungan komunitas adat Banokeling.

Saat ini, TMI Wilayah Khusus Komunitas Adat Banokeling juga mulai membuka lahan pertanian baru seluas sekitar 10 hektar yang merupakan gabungan tanah adat dan lahan milik masyarakat.
Lahan tersebut dipersiapkan untuk budidaya jagung, sorgum, cabai, dan kacang hijau sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan sekaligus peningkatan pendapatan petani.
Ketua TMI Wilayah Khusus Komunitas Adat Banokeling, Aris Munandar, mengatakan pengembangan kelembagaan pertanian merupakan langkah alami bagi masyarakat Banokeling yang sejak dahulu menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
“Masyarakat adat Banokeling sejak dulu adalah masyarakat agraris. Hampir 100 persen warga kami hidup dari bertani. Karena itu, keberadaan kelompok tani, yayasan, maupun perusahaan pertanian bukan sekadar membentuk organisasi, tetapi menjadi sarana agar petani memiliki akses yang lebih luas terhadap pembinaan, teknologi, permodalan, hingga pemasaran hasil panen. Kami ingin petani Banokeling semakin mandiri dan mampu bersaing tanpa meninggalkan nilai-nilai adat yang kami pegang,” ujar Aris.

Tokoh pemuda Banokeling, Edi Sudarnoto, menilai langkah tersebut menjadi momentum penting bagi regenerasi petani di lingkungan masyarakat adat.
Menurutnya, selama ini banyak generasi muda yang mulai menjauh dari dunia pertanian. Kehadiran Kelompok Petani Muda Banokeling diharapkan mampu mengubah pandangan tersebut.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bertani bukan lagi pekerjaan yang identik dengan keterbelakangan. Justru pertanian hari ini membutuhkan inovasi, manajemen yang baik, dan pemanfaatan teknologi. Anak-anak muda Banokeling harus menjadi pelaku utama pembangunan pertanian di wilayah adatnya sendiri,” kata Edi.
Sementara itu, Ketua Yayasan Dharma Putra Banokeling, Ritam, mengatakan pembangunan kelembagaan dilakukan agar pemberdayaan masyarakat adat berlangsung secara berkelanjutan.
Menurut dia, yayasan akan berperan dalam penguatan sumber daya manusia, pendidikan, pelestarian nilai budaya, hingga pendampingan masyarakat agar mampu mengembangkan usaha pertanian yang lebih produktif.

“Kami ingin pembangunan ekonomi masyarakat adat berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Pertanian bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Banokeling. Karena itu, seluruh lembaga yang telah dibentuk harus saling mendukung agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Ritam.
Dengan terbentuknya Kelompok Petani Muda Banokeling, berdirinya PT Jangkar Bumi Banokeling, serta Yayasan Dharma Putra Banokeling, masyarakat adat Banokeling berharap memiliki fondasi kelembagaan yang semakin kuat untuk mengembangkan sektor pertanian berbasis potensi lokal, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional tanpa meninggalkan kearifan adat yang selama ini menjadi ciri khas komunitas tersebut.