Editorial Selasa: Orang Dekat

4 Min Read
Ilustrasi "orang dekat"

Tentu tidak semua orang dekat demikian. Ada yang memang layak karena kemampuan dan integritasnya

DMNETWORK – Ada orang yang berjuang. Ada pula orang yang berada di dekat perjuangan.
Yang pertama menghabiskan tenaga. Yang kedua sering kali memetik cerita. Yang pertama hafal jalan berbatu, tahu kapan hujan datang, mengerti bagaimana sebuah gerakan dibangun dari rapat yang sepi, perjalanan yang panjang, dan ongkos yang kadang dibayar dengan harga diri. Yang kedua datang ketika jalan mulai rata, ketika tenda sudah berdiri, ketika panggung telah dipasang.
Anehnya, sejarah sering kali lebih ramah kepada mereka yang datang belakangan.
Perjuangan memang tidak selalu melahirkan harapan. Ia lebih sering melahirkan ketabahan. Sebab harapan, dalam kehidupan sosial maupun politik, kadang mempunyai jalannya sendiri yang tidak selalu melewati orang-orang yang telah menghamparkan jalan itu.
Di negeri ini, ada satu jabatan yang paling banyak peminatnya tetapi tidak pernah diumumkan dalam surat keputusan. Namanya “orang dekat”. Jabatan ini tidak mengenal seleksi administrasi, tidak membutuhkan rekam jejak, bahkan kadang tidak memerlukan riwayat pengabdian. Cukup berada di orbit yang tepat, maka pintu-pintu yang sebelumnya tertutup akan terbuka dengan sendirinya.
Sementara itu, para pejuang tetap sibuk mengangkat batu bata yang membangun rumah. Ketika rumah itu selesai, mereka justru berdiri di halaman, memandang tamu-tamu yang masuk melalui pintu depan.
Begitulah ironi.
1000957526.png
orang dekat adalah orang yang selalu menuntut ambisinya (foto: ilustrasi)
Orang-orang yang sejak awal menyusun barisan, menggalang dukungan, menghabiskan waktu dan tenaga, tetap berada di lapangan. Mereka menjadi saksi hidup dari sebuah perjalanan, tetapi bukan selalu menjadi penikmat hasil perjalanan itu.
Sebaliknya, mereka yang sekadar menempel sering kali ikut terbawa berkah. Seperti daun kering yang hanyut mengikuti arus sungai, ia tiba di muara tanpa pernah tahu dari mana mata air bermula.
Tentu tidak semua orang dekat demikian. Ada yang memang layak karena kemampuan dan integritasnya. Tetapi kita juga tidak dapat menutup mata bahwa kedekatan sering kali lebih cepat bekerja daripada pengorbanan. Kompetensi menunggu giliran. Kedekatan cukup memperkenalkan diri.
Maka jangan heran bila di banyak organisasi, slogan persaudaraan terdengar lantang ketika perjuangan sedang dibutuhkan. Namun setelah kemenangan datang, persaudaraan berubah menjadi daftar tamu. Ada yang dipersilakan masuk ruang utama, ada yang cukup berdiri di halaman sambil dikenang sebagai “pejuang sejak awal”.
Kalimat-kalimat heroik tetap dipasang di spanduk. Kata “merdeka” tetap diteriakkan. Kata “kawan seperjuangan” tetap diucapkan dalam pidato. Tetapi kata-kata, sebagaimana kita tahu, tidak selalu mempunyai alamat yang sama dengan kenyataan.
Yang paling tabah justru mereka yang tidak pernah masuk daftar orang dekat. Mereka bekerja tanpa tepuk tangan, hadir tanpa disebut namanya, mengabdi tanpa berharap dipanggil ke depan panggung. Mereka mungkin tidak memperoleh jabatan, tetapi merekalah yang membuat jabatan itu mempunyai arti.
Barangkali memang beginilah hukum kehidupan. Matahari setiap pagi menyinari seluruh bumi, tetapi bayangan hanya mengikuti mereka yang berdiri paling dekat dengannya.
Lalu, apakah perjuangan menjadi sia-sia?Tidak juga.
Perjuangan tidak selalu menghasilkan kedudukan, tetapi ia menghasilkan watak. Jabatan dapat berpindah tangan, kedekatan dapat berubah arah, kekuasaan dapat berganti wajah. Namun orang yang benar-benar ditempa oleh perjuangan akan tetap memiliki sesuatu yang tidak bisa diwariskan oleh kedekatan: harga diri.
Sebab sejarah yang paling panjang bukan ditulis oleh mereka yang paling dekat dengan kekuasaan, melainkan oleh mereka yang tetap setia berjalan, bahkan ketika jalan itu tidak lagi mengarah kepada dirinya sendiri.

Editor: Aris Munandar 
Share This Article
error: Content is protected !!