Wakili Masyarakat Adat Banokeling, Ritam dan Edi Sudarnoto Ikuti Kongres Kebudayaan Nusantara di Malang

3 Min Read
Perwakilan tani merdeka wilayah adat Banokeling, hadir di kongres kebudayaan Nusantara (foto: rist)
MALANG, DMNETWORK — Perwakilan Tani Merdeka Wilayah Adat Banokeling, Ritam dan Edi Sudarnoto, mengikuti **Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 yang digelar di Pendopo Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026). Keduanya hadir sebagai peserta yang mewakili masyarakat adat Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Kongres yang diselenggarakan Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu mengangkat tema penggalian jejak peradaban Nusantara sebagai fondasi nilai kearifan luhur bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Panitia juga menjadwalkan kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto, meski hingga pelaksanaan acara belum ada konfirmasi resmi dari Istana Kepresidenan.
Ritam mengaku bersyukur komunitas adat Banokeling mendapat ruang dalam forum kebudayaan berskala nasional tersebut. Menurut dia, keterlibatan masyarakat adat dalam kongres menjadi pengakuan penting terhadap keberadaan dan kontribusi budaya lokal dalam perjalanan peradaban Nusantara.
«“Kami merasa senang karena masyarakat adat Banokeling dapat hadir dan menjadi bagian dari percakapan besar tentang kebudayaan Nusantara. Ini menunjukkan bahwa warisan budaya yang kami jaga selama turun-temurun mendapat perhatian dan penghargaan,” kata Ritam di sela kegiatan kongres.»
Ia menilai pengakuan terhadap komunitas adat bukan semata soal seremoni, melainkan dorongan agar generasi muda tetap menjaga tradisi, tata nilai, dan hubungan harmonis dengan alam yang diwariskan leluhur Banokeling.
1000983740.jpg
suasana menjelang pembukaan kongres kebudayaan Nusantara di Malang (foto: rist)

Sementara itu, Edi Sudarnoto menyatakan kehadiran delegasi Banokeling membawa amanat masyarakat adat untuk memperkenalkan nilai-nilai lokal yang hidup di tengah masyarakat Banyumas. Menurut dia, kebudayaan tidak boleh dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber etika sosial dan pedoman hidup bersama.
«“Banokeling mengajarkan kesederhanaan, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta keseimbangan antara manusia dan alam. Nilai-nilai itu masih hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Edi.»
Edi berharap kongres menghasilkan rekomendasi yang berpihak pada pelestarian masyarakat adat, termasuk perlindungan ruang budaya, tradisi pertanian, ritus adat, dan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat adat dalam penyusunan kebijakan kebudayaan nasional.
«“Kami ingin masyarakat adat tidak hanya menjadi objek dokumentasi, tetapi juga menjadi subjek yang didengar suaranya dalam perumusan kebijakan kebudayaan,” katanya.»
Menurut Edi, masyarakat adat Banokeling selama ini berupaya menjaga tradisi melalui kegiatan adat, pertanian berbasis kearifan lokal, dan pendidikan nilai budaya di lingkungan keluarga maupun komunitas. Upaya tersebut, lanjut dia, menjadi modal penting dalam memperkuat identitas kebangsaan di tengah arus modernisasi.
Kehadiran delegasi Banokeling dalam Kongres Kebudayaan Nusantara dinilai menjadi momentum untuk memperluas jejaring antarkomunitas adat dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui forum itu, para peserta diharapkan dapat saling bertukar pengalaman mengenai pelestarian tradisi, penguatan kelembagaan adat, dan pemberdayaan masyarakat berbasis budaya.
Bagi masyarakat Banokeling, partisipasi dalam kongres tersebut bukan sekadar menghadiri pertemuan kebudayaan, melainkan penegasan bahwa warisan leluhur tetap memiliki tempat dalam narasi besar kebudayaan Indonesia. (Darno)
Share This Article
error: Content is protected !!