Mengenang Tokoh Gerakan Indonesia: AMT dan PPM: Jejak Seorang Perintis Peranserta Masyarakat

6 Min Read
Ali Musthofa Trajutisna bersama isteri saat itu (foto: istimewa)

Saya mungkin murid yang murtad, tetapi saya mendapatkan keilmuan yang banyak dari beliau. 

DMNETWORK – Nama lengkapnya Ali Musthofa Trajutisna, tetapi bagi kami yang tumbuh dalam lingkaran gerakan pemberdayaan masyarakat, beliau lebih akrab dipanggil AMT. Ia lahir di Bojonegoro pada 15 Mei 1953, dan berpulang ke rahmatullah pada Rabu, 14 Mei 2014. Keesokan harinya, Kamis, 15 Mei 2014, beliau dimakamkan tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-61. Seakan hidupnya ditutup persis pada lingkar usia yang utuh: lahir dan dimakamkan pada tanggal yang sama.
Saya menulis catatan ini bukan sebagai peneliti yang berdiri jauh dari peristiwa, melainkan sebagai orang yang ikut berjalan di belakang beliau selama bertahun-tahun. Saya bergabung dalam pergerakan PPM (Pusat Peranserta Masyarakat) sejak awal tahun 1990-an, dan sejak itulah saya mendampingi AMT dalam suka dan duka kehidupan gerakan.
Rumah-rumah kontrakan yang menjadi sekolah pergerakan
Masa itu bukan masa kantor megah atau ruang rapat berpendingin udara. Kami berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain: dari Depok, Bogor, hingga Pasar Minggu. Di ruang sempit itulah para aktivis berkumpul. Tikar digelar, kopi diseduh, rokok mengepul, dan malam-malam panjang dipenuhi diskusi tentang nasib rakyat, pendidikan, pertanian, ekonomi kerakyatan, dan masa depan Indonesia.
Bagi kami, kontrakan-kontrakan itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah sekolah kader, tempat ide-ide diuji, diperdebatkan, lalu dibawa ke lapangan. Banyak orang datang dan pergi: mahasiswa, aktivis kampus, pegiat LSM, guru, petani, hingga tokoh masyarakat. Semua disambut sebagai kawan seperjalanan.
Di tengah keramaian itu, AMT sering duduk tenang sambil mendengarkan. Ia tidak banyak berbicara pada awal diskusi, tetapi ketika mulai menyampaikan pandangan, ruangan mendadak hening. Kalimat-kalimatnya sederhana, namun memaksa kami berpikir lebih jauh daripada zamannya.
PPM: Dari gagasan menjadi gerakan
PPM lahir pada pertengahan 1980-an sebagai ikhtiar membangun peranserta masyarakat dalam pembangunan bangsa. Pada fase awal organisasi, AMT tercatat sebagai salah satu pimpinan nasional bersama tokoh-tokoh gerakan sosial lain. Namun bagi saya, yang paling penting bukan jabatan beliau, melainkan cara beliau memandang masyarakat.
AMT selalu mengatakan bahwa perubahan tidak mungkin lahir dari negara semata. Masyarakat harus menjadi pelaku, bukan penonton. Karena itu PPM bergerak di bidang pendidikan rakyat, ekonomi kerakyatan, koperasi, pertanian, dan penguatan organisasi masyarakat.
Beliau menolak pola bantuan yang membuat rakyat bergantung. “Tugas kita bukan memberi ikan,” katanya suatu malam, “tetapi membangunkan kesadaran agar orang mampu mengelola lautnya sendiri.”
Pikiran yang mendahului zamannya
Salah satu hal yang paling saya ingat adalah keterlibatan diskusi-diskusi yang kemudian berkaitan dengan gagasan link and match antara pendidikan dan dunia kerja. Pada masa itu istilah tersebut belum populer seperti sekarang. Namun AMT sudah berkali-kali menekankan bahwa sekolah tidak boleh terputus dari realitas sosial dan kebutuhan hidup masyarakat.
Dalam berbagai pertemuan, beliau mendorong agar pendidikan menghasilkan manusia yang memiliki keterampilan nyata, mampu bekerja, berwirausaha, dan membangun komunitasnya. Kami ikut merumuskan berbagai gagasan pendidikan yang lebih membumi, yang kemudian sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional pada masa berikutnya.
Ketika kini generasi muda berbicara tentang relevansi pendidikan dengan dunia kerja, kewirausahaan, kompetensi, dan keterampilan praktis, saya sering teringat percakapan-percakapan panjang di kontrakan Pasar Minggu puluhan tahun lalu. Apa yang dulu tampak terlalu jauh ternyata baru sekarang dirasakan manfaatnya oleh generasi sekarang.
Kesederhanaan seorang pemimpin gerakan
AMT hidup sederhana. Ia tidak mengejar kekuasaan, apalagi kemewahan. Banyak keputusan penting organisasi justru lahir saat kami makan seadanya. Beliau lebih bangga melihat kader muda berani turun ke desa daripada melihat dirinya tampil di panggung.
Kesederhanaan itu yang membuat banyak orang betah berada di sekitarnya. Ia tidak membangun pengikut, tetapi membangun sahabat seperjuangan. Ia percaya bahwa gerakan sosial hanya akan hidup bila hubungan antarmanusianya dilandasi rasa percaya dan keikhlasan.
Warisan yang tidak tampak
Sesudah beliau wafat pada 2014, saya sering bertanya: apa sebenarnya warisan terbesar AMT? Bukan gedung, bukan jabatan, dan bukan pula organisasi semata. Warisan itu adalah cara berpikir.
Beliau mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat; bahwa pendidikan harus berpihak pada kehidupan nyata; bahwa aktivisme bukan romantisme demonstrasi, melainkan kerja panjang mendampingi rakyat; dan bahwa masa depan harus dipikirkan jauh sebelum orang lain menyadarinya.
Kini, ketika saya mengenang perjalanan dari Depok, Bogor, hingga Pasar Minggu, saya merasa sedang membuka kembali lembaran sejarah kecil yang ikut membentuk sebagian wajah gerakan masyarakat sipil Indonesia. Nama Ali Musthofa Trajutisna mungkin tidak selalu tercatat besar dalam buku sejarah nasional, tetapi bagi kami yang pernah hidup bersama gagasannya, beliau adalah perintis peranserta masyarakat yang menyalakan api berpikir ke depan.
Dan selama masih ada orang yang percaya bahwa rakyat harus menjadi subjek pembangunan, selama masih ada aktivis yang mau tinggal sederhana demi mendampingi masyarakat, selama itu pula jejak AMT dan PPM akan tetap hidup dalam ingatan dan kerja-kerja sosial bangsa ini.

Aris Munandar, murid yang masih mengaku AMT guru sejati

- Iklan -
Ad imageAd image
Share This Article
error: Content is protected !!