Pedang Zulfikar yang Ditanggalkan

8 Min Read
Ilustrasi naskah kang Ubed (foto: DMNetwork)

Mungkin karena itulah kajian mengenai perang, persenjataan dan teknologi pertahanan tidak menjadi bagian yang kuat dalam kesadaran kebudayaan kita.

DMNetwork – Kita ini bangsa yang rajin membaca. Kitab dibaca, hadis dibaca, sejarah dibaca. Bahkan tulisan yang belum tentu kita pahami pun kadang dibaca dengan penuh keyakinan. Tetapi ada satu kebiasaan yang agak mengherankan: kita membaca peristiwa, tetapi jarang mengkaji bagaimana peristiwa itu terjadi.

Sejarah Nabi Muhammad SAW di Madinah, misalnya. Kalau sejarah itu dibaca sepintas, yang tertangkap sering kali adalah kisah peperangan. Ada Badar, Uhud, Khandaq, dan sederet peristiwa lain. Dari sana kemudian tumbuh semangat jihad, semangat berkorban, bahkan keyakinan bahwa mati syahid merupakan kematian yang sangat mulia.

Tidak ada yang keliru dengan itu.

Yang mungkin keliru adalah kalau kita berhenti pada semangatnya, lalu lupa mempelajari perangkat yang membuat sebuah perjuangan berhasil.

- Iklan -
Ad imageAd image

Sebab perang, betapapun mulianya alasan yang kita kemukakan, tetaplah perang. Orang yang maju ke medan perang tanpa senjata bukan sedang menunjukkan keberanian. Ia sedang mempercepat kekalahan.

Pada zaman itu pedang adalah teknologi. Bukan sekadar sebilah besi yang digantung di pinggang. Ia adalah hasil dari pengetahuan tentang logam, api, tempaan, bentuk, ketajaman, kekuatan, dan cara menggunakannya.

Di sinilah saya kira pedang Zulfikar perlu dibaca dengan cara yang sedikit berbeda.

Zulfikar jangan hanya dibaca sebagai nama pedang yang terkenal dalam sejarah Islam. Ia dapat dibaca sebagai lambang penguasaan teknologi. Lambang bahwa ilmu tidak berhenti di kepala. Ilmu harus menjelma menjadi alat yang menghasilkan daya.

Kita terlalu sering mengatakan, “Berilmulah.”

- Iklan -
Ad image

Tetapi setelah berilmu, membuat apa?

Itu pertanyaan yang jarang diajukan.

Sejarah kemudian bergerak. Kekuasaan Islam meluas dari Jazirah Arab menuju Persia, Konstantinopel, Afrika Utara, hingga Spanyol. Di dalam perjalanan panjang itu terdapat peperangan, tetapi juga terdapat perdagangan, administrasi, ilmu pengetahuan, pertanian, arsitektur, teknologi dan pengembangan peradaban.

Sementara ketika Islam datang ke Asia Tenggara, wajah sejarahnya relatif berbeda. Islam berkembang terutama melalui perdagangan, jaringan ulama, perkawinan, pendidikan dan kebudayaan. Karena itu pengalaman masyarakat Muslim di kawasan ini tidak terlalu banyak dibentuk oleh pengalaman perang.

Mungkin karena itulah kajian mengenai perang, persenjataan dan teknologi pertahanan tidak menjadi bagian yang kuat dalam kesadaran kebudayaan kita.

Kita mewarisi semangatnya, tetapi tidak selalu mewarisi teknologinya.

Pedangnya ditanggalkan.

Yang tinggal kemudian adalah cerita tentang pedang.

Padahal Al-Qur’an sendiri memberi contoh yang menarik mengenai hubungan antara wahyu, ilmu dan teknologi.

Nabi Daud AS disebut diberi kemampuan melunakkan besi. Besi itu kemudian menjadi baju perang. Pesannya sederhana, tetapi barangkali terlalu sederhana sehingga kita sering melewatinya.

Besi jangan hanya dipuji.

Pelajari.

Kuasai.

Olah.

Jadikan sesuatu yang berguna.

Baju besi bukan sekadar benda pertahanan. Ia adalah hasil dari pengetahuan. Ada ilmu mengenai bahan, ukuran, bentuk, sambungan, kekuatan dan cara membuatnya.

Dengan kata lain, mukjizat Nabi Daud AS bukan hanya untuk membuat kita kagum kepada kemampuan seorang nabi. Di dalamnya terdapat pintu untuk bertanya: mengapa manusia tidak mempelajari ilmu yang ditunjukkan oleh peristiwa tersebut?

Begitu pula senjata yang dikaitkan dengan Nabi Daud. Yang penting bukan semata-mata bentuk senjatanya, melainkan kemampuan manusia memahami bagaimana sebuah alat dapat memberikan daya jangkau dan daya lindung.

Ilmu membuat alat perang kemudian dapat berkembang menjadi ilmu membuat alat kehidupan.

Sebab orang yang mampu mengolah logam untuk pedang juga dapat membuat cangkul.

Yang mampu membuat perisai dapat membuat perkakas.

Yang mampu membuat senjata dapat membuat mesin.

Dan masyarakat yang mampu menguasai logam pada akhirnya mempunyai kemungkinan besar untuk meningkatkan produktivitasnya.

Jadi, teknologi perang kadang mempunyai anak cucu yang bernama teknologi sipil.

Kemakmuran sebuah kerajaan tidak hanya lahir dari banyaknya emas di gudang.

Ia lahir dari kemampuan membuat.

Membuat alat pertanian. Membuat alat transportasi. Membuat perkakas. Membuat bangunan. Membuat sistem irigasi. Membuat senjata. Membuat mesin.

Masyarakat yang hanya bisa membeli semua itu akan menjadi masyarakat konsumen.

Masyarakat yang mampu membuatnya sendiri mempunyai pilihan.

Dan pilihan adalah salah satu bentuk kemerdekaan.

Barangkali di sinilah kita perlu membaca kembali kisah Nabi Sulaiman AS. Kemakmuran sebuah kerajaan bukan hanya perkara kekuasaan, tetapi juga kemampuan mengorganisasi sumber daya, tenaga manusia dan pengetahuan sehingga menghasilkan peradaban.

Ilmu pengetahuan yang tidak pernah turun menjadi keterampilan akhirnya hanya menjadi koleksi kepala.

Seperti perpustakaan yang pintunya selalu terkunci.

Buku-bukunya banyak.

Tetapi tidak ada yang bisa masuk.

Hari ini kita menyaksikan paradoks yang agak pahit.

Banyak negara Muslim mempunyai semangat yang besar untuk membela diri, tetapi teknologi pertahanannya bergantung kepada negara lain.

Senjatanya dibeli.

Suku cadangnya dibeli.

Teknologinya dibeli.

Amunisinya dibeli.

Bahkan kadang keputusan politiknya ikut dihitung berdasarkan kemungkinan: kalau membeli dari negara A, apakah negara A akan tetap mau memasok ketika terjadi perang?

Di titik itu, senjata yang seharusnya menjadi alat kedaulatan justru dapat berubah menjadi tali ketergantungan.

Embargo kemudian menjadi senjata yang tidak kalah tajam daripada rudal.

Negara yang menguasai teknologi dapat menentukan siapa yang boleh memiliki daya pertahanan dan siapa yang harus menunggu izin.

Maka persoalannya bukan lagi sekadar memiliki pedang.

Persoalannya adalah siapa yang mampu membuat pedang.

Dan siapa yang harus membeli pedang dari orang lain.

Kita sering berbicara tentang jihad dengan sangat bersemangat. Ayat-ayat tentang perjuangan dikutip. Keutamaan syahid diterangkan. Semangat pengorbanan digelorakan.

Tetapi mungkin ada satu pertanyaan yang lebih sunyi dan justru lebih penting:

Dengan ilmu apa kita akan berjuang?

Sebab dunia tidak berhenti pada keberanian.

Dunia juga mengenal teknologi.

Ia mengenal industri.

Ia mengenal logistik.

Ia mengenal produksi.

Ia mengenal riset.

Ia mengenal kemampuan mengubah bahan mentah menjadi alat yang berguna.

Pedang Zulfikar, kalau hendak dijadikan simbol, barangkali bukan simbol untuk mengajak manusia gemar berperang.

Ia justru dapat menjadi simbol agar kita tidak menanggalkan ilmu yang membuat manusia mampu mempertahankan diri dan membangun kehidupan.

Pedang itu sebaiknya tidak diangkat untuk mencari musuh.

Tetapi juga jangan ditanggalkan sebagai pengetahuan.

Sebab bangsa yang tidak mampu membuat alatnya sendiri, pada akhirnya akan hidup dengan alat buatan orang lain.

Dan orang yang memegang gagang alat itu tentu lebih leluasa menentukan ke mana alat tersebut diarahkan.

Kita boleh menjadi bangsa yang rajin membaca.

Tetapi sesudah membaca, barangkali ada baiknya kita mulai bertanya:

Bagaimana cara membuatnya?

Di situlah ilmu mulai berubah menjadi kekuatan.

Dan mungkin, di situlah pedang Zulfikar yang lama kita tanggalkan mulai kita temukan kembali.

Kang Ubed adalah seorang pensiunan, tinggal di Semarang.

Share This Article
error: Content is protected !!