Cerpen Aris Munandar: Almari Jam Tua

10 Min Read
Ilustrasi cerpen "Almari Jam Tua" (foto: DMNetwork)

Sekarang, setelah enam puluh tahun hidup, aku justru lebih sering memikirkan “diamnya” bapak daripada uang yang pernah kuambil.

DMNETWORK – Umurku sudah enam puluh tahun.
Pada umur seperti ini, membersihkan almari bukan lagi pekerjaan membersihkan debu. Setiap kali kain lap menyentuh permukaan kayunya yang mulai kusam, ada sesuatu yang ikut terangkat dari sana: masa lalu.
Almari itu sekarang menjadi almari pakaian anak-anak.
Baju sekolah. Sarung. Jaket. Seragam yang sebentar lagi kekecilan. Beberapa buku yang sudah tidak dibaca, tetapi belum juga dibuang karena selalu ada alasan untuk menyimpannya.
Aku membuka pintunya pelan-pelan. Bau kayu tua masih sama.
Barangkali benda-benda memang mempunyai cara sendiri untuk menyimpan waktu. Manusia lupa, tetapi kayu tidak.
Dulu, almari itu milik bapak.
Bukan sekadar almari. Itulah almari rahasia bapak.
Di dalamnya ada dokumen keluarga, surat-surat, ijazah, buku-buku lama, dan uang yang disimpan dengan keyakinan bahwa anak-anak tidak akan mengetahuinya.
Tetapi anak-anak selalu mempunyai cara untuk mengetahui rahasia orang tua.
Aku pernah mencongkel pintunya.
Tidak besar congkelnya. Hanya cukup untuk membuat sebuah lubang kecil yang kemudian menjadi pintu masuk menuju dosa masa muda.
Aku mengambil uang dari sana.
Waktu itu aku tidak berpikir tentang dosa. Aku hanya berpikir tentang kebutuhan. Atau mungkin keinginan.
Pada umur muda, kebutuhan dan keinginan sering memakai baju yang sama.
Bapak tentu tahu. Atau mungkin tidak tahu. Atau tahu tetapi memilih diam.
Orang tua sering begitu. Mereka mengetahui banyak hal tentang anak-anaknya, tetapi tidak semuanya harus dikatakan.
Sekarang, setelah enam puluh tahun hidup, aku justru lebih sering memikirkan “diamnya” bapak daripada uang yang pernah kuambil.
Di dalam almari itu juga ada keris. Sebuah pusaka keluarga.
Aku tidak tahu persis sejak kapan keris itu berada di sana. Sejak aku kecil, ia sudah menjadi bagian dari cerita rumah kami. Tidak pernah dikeluarkan sembarangan. Tidak pernah dibicarakan panjang-panjang.
Keris itu seperti orang tua yang pendiam. Ada, tetapi tidak ikut campur.
Sampai suatu hari bapak sakaratul maut.
Ketika rumah dipenuhi orang, doa, bau minyak kayu putih, dan suara orang-orang yang berbicara lebih pelan daripada biasanya, datang seseorang yang mengaku kiai.
Entah bagaimana, keris itu kemudian dibawa olehnya.
Setelah bapak meninggal, keris itu tidak pernah kembali.
Begitulah sebagian benda pusaka meninggalkan sebuah keluarga.
Tidak melalui upacara. Tidak melalui musyawarah.
Kadang hanya melalui tangan seseorang yang datang ketika semua orang sedang sibuk menghadapi kematian.
Kini aku membersihkan almari itu. Aku mengusap bagian yang dulu pernah kucungkil. Bekasnya masih ada. Kecil.
Hampir tidak terlihat. Tetapi aku tahu persis di mana letaknya.
Mungkin begitulah dosa-dosa masa muda. Ia tidak perlu berteriak. Cukup menjadi sebuah bekas kecil pada kayu, lalu menunggu seseorang berusia enam puluh tahun untuk mengingatnya.
Dulu, kata bapak, almari itu bukan almari baju.
Ia adalah almari jam.
Ketika nenek masih hidup, jam di dalamnya berbunyi setiap jam.
Dentangnya keras. Sangat keras.
Seolah-olah seluruh kampung harus tahu bahwa waktu telah bergerak satu langkah.
Dua belas kali kalau tengah malam.
Aku sering terbangun karenanya. Dari kamar, aku mendengar:
Dung.
Lalu hening.
Dung.
Kemudian hening lagi.
Sampai dua belas kali.
Pada masa itu aku membenci bunyi jam tersebut.
Aku merasa jam itu mengganggu tidur.
Sekarang aku justru merindukannya.
Aneh memang.
Ketika muda, kita ingin waktu berjalan cepat.
Ketika tua, kita ingin mendengar kembali bunyi waktu yang dulu kita benci.
Barangkali karena sekarang kita sadar, waktu tidak pernah benar-benar berjalan.
Kitalah yang ditinggalkannya.
Jam itu akhirnya rusak. Mesinnya berhenti. Dentangnya hilang.
Almari itu kemudian berubah menjadi tempat menyimpan macam-macam barang, lalu menjadi almari pakaian anak-anak.
Tetapi dalam ingatanku, ia tetap menjadi almari jam.
Setiap kali kubuka, aku seperti mendengar dentang dari masa yang sudah lama mati.
Bapak mempunyai sepuluh anak. Ya sepuluh.
Kalau semuanya berkumpul dahulu, rumah terasa seperti pasar kecil.
Ada yang menangis. Ada yang berlari. Ada yang bertengkar. Ada yang mencari sandal. Ada yang meminta uang. Ada yang diam-diam mengambil lauk dari dapur.
Bapak dan ibu seperti dua penjaga stasiun yang tidak pernah mendapat kesempatan duduk.
Kini kami semua sudah tua. Kami mempunyai rumah masing-masing.
Pekerjaan masing-masing.
Anak-anak masing-masing.
Dan kesibukan masing-masing.
Dari sepuluh anak itu, mungkin hanya satu atau dua yang masih sering bertanya, “Bapak atau ibu bagaimana?”
Yang lain bukan tidak sayang.
Mungkin hanya terlalu sibuk menjadi manusia.
Begitulah hidup.
Anak-anak meninggalkan rumah bukan karena tidak mencintai orang tuanya.
Mereka pergi karena kehidupan memang meminta mereka pergi.
Aku sendiri pernah menjadi anak yang pergi. Kini aku menjadi bapak yang ditinggalkan.
Dan baru sekarang aku memahami sesuatu yang dulu tidak pernah kupahami:
Orang tua sebenarnya tidak pernah benar-benar melepas anak.
Mereka hanya belajar hidup bersama ruang kosong.
Anak-anakku sekarang juga mulai pergi. Ada yang sekolah di luar kota. Ada yang tinggal jauh.
Rumah yang dahulu ramai mulai belajar mengenal kesunyian.
Tinggal satu. Si bungsu, paling bontot, perempuan, namanya Bening.
Satu anak yang masih ada di rumah.
Setahun lagi, barangkali ia juga pergi.
Katanya hendak mencari ilmu.
Mondok.
Belajar mengaji.
Aku senang.
Tentu saja aku senang.
Bukankah setiap orang tua ingin anaknya mempunyai bekal untuk berjalan?
Tetapi ada bagian kecil dari diriku yang diam-diam merasa kehilangan.
Aku tahu, setelah itu rumah akan lebih lengang.
Tidak ada suara pintu kamar dibuka.
Tidak ada sandal berserakan.
Tidak ada suara anak bertanya sesuatu dari ruang tengah.
Tidak ada seseorang yang memanggil dari belakang ketika aku sedang membersihkan almari.
Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan kembali berdiri di depan almari ini sendirian.
Membersihkan debunya.
Mengusap kayunya.
Membuka pintunya.
Lalu menemukan baju-baju yang sudah tidak dipakai.
Aku akan memindahkannya satu per satu.
Mungkin ada seragam sekolah.
Mungkin ada sarung.
Mungkin ada sebuah buku mengaji yang tertinggal.
Dan mungkin aku akan bertanya kepada almari itu:
“Ke mana semua orang pergi?”
Tentu saja almari tidak menjawab.
Ia hanya menyimpan.
Seperti dulu.
Ia menyimpan dokumen bapak.
Menyimpan uang.
Menyimpan keris.
Menyimpan jam.
Menyimpan rahasia.
Dan sekarang menyimpan pakaian anak-anak.
Barangkali memang itulah tugas benda-benda tua: menyimpan sesuatu yang tidak sanggup kita simpan di kepala.
Aku pernah membaca bahwa lelaki, melalui perkawinan, bergerak dari kesendirian menuju kesendirian.
Kalimat itu terdengar seperti lelucon ketika kita masih muda.
Kita menikah.
Rumah penuh.
Anak-anak lahir.
Kita bekerja.
Mencari uang.
Membeli rumah.
Membeli sepeda motor.
Mengantar anak sekolah.
Membayar uang kuliah.
Mengejar banyak hal.
Kita mengira kesendirian telah selesai.
Padahal tidak.
Ia hanya menunggu.
Istri mempunyai kesibukannya.
Anak-anak mempunyai kehidupannya.
Dan pada akhirnya seorang lelaki kembali berhadapan dengan dirinya sendiri.
Dari kesendirian menuju kesendirian.
Mungkin benar seperti kata orang Jawa: bata, bre, redana.
Aku tidak lagi terlalu peduli apakah kalimat itu tepat secara bahasa atau tidak.
Yang kutahu, kehidupan seperti tembok yang dibangun dari bata demi bata.
Kita menyusunnya sepanjang umur.
Rumah.
Keluarga.
Pekerjaan.
Anak.
Harapan.
Kemudian suatu hari kita berdiri di depannya dan baru sadar bahwa tembok itu sekaligus memisahkan kita dari semua yang pernah kita bangun.
Sore itu aku selesai membersihkan almari.
Kain lap kugantungkan di belakang pintu.
Aku menutup almari perlahan.
Entah mengapa aku menunggu sesuatu.
Mungkin dentang.
Mungkin suara bapak.
Mungkin suara nenek.
Mungkin suara anak-anak ketika mereka masih kecil.
Tidak ada.
Hanya suara burung dari halaman.
Aku duduk di kursi.
Enam puluh tahun.
Ternyata usia bukan angka.
Ia adalah kumpulan suara yang semakin jauh.
Aku memejamkan mata.
Dan untuk sesaat aku mendengar jam tua itu kembali.
Dung.
Satu kali.
Seperti dari kejauhan.
Aku tersenyum.
Mungkin jam itu memang tidak pernah rusak.
Mungkin ia hanya pindah tempat.
Dari almari ke dalam ingatan.
Dan selama masih ada seseorang yang mengingat bunyinya, jam itu belum benar-benar berhenti.
Aku membuka mata.
Rumah tetap sepi.
Anak-anak tetap jauh.
Bapak tetap sudah lama pergi.
Keris itu entah berada di mana.
Dan aku masih di sini.
Menunggu tahun depan.
Menunggu anak terakhir pergi mencari ilmu.
Menunggu rumah menjadi lebih sunyi.
Menunggu sesuatu yang tidak pernah kita ketahui namanya.
Aku kemudian berdiri dan sekali lagi mengusap pintu almari.
Bekas congkelanku masih ada.
Kecil.
Nyaris tak terlihat.
Tetapi aku tidak menghapusnya.
Biarlah.
Ada hal-hal yang memang tidak perlu diperbaiki.
Sebab dari situlah kita tahu:
pernah ada seorang anak muda,
pernah ada seorang bapak,
pernah ada sebuah rumah yang ramai,
pernah ada jam yang berdentang sampai satu kampung mendengarnya,
dan pernah ada sebuah keluarga yang percaya bahwa mereka akan selalu bersama.
Padahal waktu, sejak awal, hanya sedang meminjamkan kita satu sama lain.
Kemudian mengambilnya kembali.
Dung.
Satu kali.
Lalu sunyi. ***

Mertoyudan, 31 Agustus 2026

Share This Article
error: Content is protected !!