Guru boleh tidak mengakuinya, tetapi murid mengakuinya. Guru boleh menutup pintu, tetapi murid menemukan pintu lain di dalam dirinya sendiri.
DMNETWORK – Ada kisah-kisah wayang yang rupanya tidak pernah benar-benar selesai. Ia bisa dipentaskan berulang kali, dengan pemain berbeda, panggung berbeda, zaman berbeda, tetapi pertanyaannya tetap mengendap di kepala penonton.
Salah satunya adalah kisah Bambang Ekalaya.
Teater Alam kembali membawa lakon klasik itu ke panggung. Kali ini naskah karya Agus Leyloor disutradarai Meritz Hindra, dengan Nano Asmorodono sebagai asisten sutradara. Pertunjukan berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta dan kemudian dipentaskan kembali di Gedung Concert Hall, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Selasa, 15 September 2026, pukul 19.30 WIB.
Di tangan Teater Alam, Ekalaya tidak semata-mata menjadi cerita tentang seorang pemanah yang kehilangan ibu jarinya. Ia menjadi cerita tentang seseorang yang ingin belajar, tentang guru yang merasa memiliki hak atas murid, tentang kesetiaan yang berubah menjadi beban, dan tentang kekuasaan yang kadang bekerja tanpa perlu berteriak.
Ekalaya datang kepada Resi Drona dengan keinginan yang sederhana: belajar.
Tetapi dunia tempat ia hidup tidak sesederhana keinginannya.
Drona menolak. Ada janji yang harus dijaga. Ada batas yang tidak boleh dilewati. Ada Arjuna yang harus tetap menjadi pemanah nomor satu. Di situlah kisah ini mulai terasa seperti kisah manusia, bukan sekadar cerita dari dunia wayang.
Ekalaya kemudian membuat patung Drona dari tanah. Ia belajar sendiri di hadapan patung itu. Guru boleh tidak mengakuinya, tetapi murid mengakuinya. Guru boleh menutup pintu, tetapi murid menemukan pintu lain di dalam dirinya sendiri.
Dan ia berhasil.
Bahkan kemampuan memanahnya melampaui Arjuna.
Di sini panggung menemukan persoalan yang menarik: apa sebenarnya yang membuat seseorang disebut murid? Apakah pengakuan guru? Ataukah kesungguhan orang yang belajar?
Tetapi cerita Ekalaya memang tidak memberi kita kesempatan untuk menikmati kemenangan terlalu lama.
Arjuna merasa terusik. Drona datang menemui Ekalaya. Sang murid menyambutnya dengan penuh hormat. Ia tetap menganggap Drona sebagai gurunya, meskipun Drona tidak pernah secara resmi menerimanya sebagai murid.
Lalu datanglah permintaan itu.
Guru dakshina.
Ibu jari tangan kanan.
Sebuah permintaan yang secara harfiah hanya membutuhkan satu bagian tubuh, tetapi secara simbolik mengambil seluruh masa depan seorang pemanah.
Ekalaya memotong ibu jarinya sendiri.
Adegan tersebut adalah jantung pertunjukan. Sebab di sana kepatuhan dan ketidakadilan berdiri berdampingan. Pengabdian dan kekuasaan saling bertatapan. Kita bahkan dibuat tidak nyaman oleh pertanyaan yang sederhana: apakah setiap permintaan guru harus ditaati hanya karena ia seorang guru?
Pertanyaan semacam itu membuat lakon klasik selalu mempunyai umur panjang. Zaman berubah, tetapi relasi antara guru dan murid, senior dan junior, penguasa dan yang dikuasai, tetap melahirkan persoalan yang kurang lebih sama.
Ekalaya juga mengingatkan kita bahwa tidak semua pengorbanan otomatis menjadi kebajikan. Ada pengorbanan yang lahir dari ketulusan. Ada pula pengorbanan yang terjadi karena seseorang terlalu percaya kepada otoritas.
Maka menarik apabila Teater Alam memilih kembali mementaskan lakon ini.
Pertunjukan pertama berlangsung pada 5 Agustus 2026. Lebih dari sebulan kemudian, lakon tersebut kembali hadir di Surakarta. Perpindahan panggung dari Yogyakarta ke Surakarta memberi kesempatan kepada pertunjukan untuk bertemu dengan penonton dalam dua ruang kebudayaan yang sama-sama mempunyai sejarah panjang dalam seni pertunjukan Jawa.
Di panggung, tentu saja, Ekalaya bukan hanya tokoh yang kehilangan ibu jari.
Ia adalah orang yang datang dari luar lingkaran kekuasaan.
Ia tidak memiliki akses kepada guru yang hendak ditujunya. Ia tidak memperoleh tempat yang sama dengan Arjuna. Namun justru karena pintu resmi tertutup, ia menemukan jalan lain: belajar dengan ketekunan.
Ada sesuatu yang terasa sangat kontemporer di situ.
Hari ini orang dapat belajar dari mana saja. Pengetahuan tidak lagi sepenuhnya tinggal di ruang kelas. Guru bisa berada di buku, layar komputer, video, pengalaman orang lain, bahkan di kegagalan sendiri. Tetapi persoalan lama belum hilang: siapa yang berhak menentukan siapa boleh belajar dan siapa tidak?
Karena itu Ekalaya terasa lebih dekat daripada yang kita kira.
Pementasan Teater Alam juga tidak hanya bertumpu pada para pemeran. Ada tubuh-tubuh penari yang ikut membangun suasana, musik yang menjadi lapisan bunyi, tata artistik dan properti yang memperkuat ruang dramatik, serta tata cahaya yang membantu memindahkan penonton dari satu suasana ke suasana lain.
Di balik panggung ada pekerjaan yang barangkali tidak pernah mendapatkan tepuk tangan sepanjang pertunjukan: stage manager, penata kostum, penata cahaya, pemusik, penata tari, dokumentasi, penerima tamu, hingga manajemen produksi. Teater memang selalu demikian. Yang terlihat di panggung hanyalah ujung dari sebuah pekerjaan kolektif yang panjang.
Nama-nama yang terlibat pun memperlihatkan bahwa pertunjukan ini dibangun sebagai kerja bersama Teater Alam. Dr Drs Hajar Pamadi, Anastasia, Nano Asmorodono, Novi Pristianti Dewi, Oka Swastika Mahendra, Sutra Fidana, Jamilan, Eko Pamulihono, Wiji Jhoe, Anto Azis, Buteng Swami Ahimsa, serta para penari dan pemusik menjadi bagian dari tubuh pertunjukan.
Dan mungkin memang demikian hakikat teater. Ia tidak pernah hanya tentang seorang aktor.
Ia adalah peristiwa ketika banyak orang menyatukan tenaga untuk membuat sebuah cerita hidup selama kira-kira dua jam, kemudian menyerahkannya kepada penonton.
Setelah lampu padam dan tepuk tangan selesai, yang tersisa justru pertanyaan.
Apakah Ekalaya bodoh karena menyerahkan ibu jarinya?Apakah Drona semata-mata jahat?
Apakah Arjuna hanya seorang murid yang takut kehilangan keunggulan?
Atau jangan-jangan kita sedang melihat sesuatu yang lebih rumit: manusia yang terjebak dalam sistem nilai yang membuat setiap orang merasa sedang menjalankan kewajiban masing-masing?
Pertunjukan yang baik tidak selalu menyediakan jawaban. Kadang ia justru meninggalkan penonton dengan pertanyaan yang ikut pulang.
Ekalaya pulang tanpa ibu jari.
Penonton pulang membawa persoalan.
Dan mungkin itulah sebabnya kisah yang berusia sangat tua itu masih layak dipanggungkan hari ini.
Sebab ibu jari Ekalaya memang sudah hilang dari tubuhnya.
Tetapi persoalan tentang siapa yang berhak menentukan masa depan seseorang belum pernah benar-benar hilang dari kehidupan kita.
Aris Munandar, petani berbudaya tinggal di Magelang