37 Hotspot Terdeteksi di Inhu, TNI-Polri Perkuat Penanganan Karhutla

5 Min Read
Kapolda Riau dan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai meninjau penanganan karhutla serta hotspot di Indragiri Hulu, Riau. (Hendra/Dmnetwork)

DMNETWORK.COM — Indragiri Hulu — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, diperkuat dengan pengecekan langsung terhadap titik panas dan evaluasi kondisi lapangan.

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo meninjau penanganan karhutla di Desa Pulau Jumat, Kecamatan Kuala Cenaku, Rabu (16/9/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan ketika Indragiri Hulu menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi hotspot cukup tinggi di Riau. Berdasarkan Dashboard Lancang Kuning pada 15 September 2026 hingga pukul 21.00 WIB, tercatat 48 hotspot di seluruh Provinsi Riau.

Dari jumlah tersebut, 37 titik berada di Indragiri Hulu, termasuk tiga titik dengan kategori kepercayaan tinggi.

- Iklan -
Ad imageAd image

Hotspot High dan Medium Harus Diverifikasi

Kapolda Riau meminta jajarannya tidak hanya mengandalkan data titik panas, tetapi segera melakukan pengecekan langsung di lapangan.

Verifikasi diperlukan untuk memastikan apakah hotspot tersebut menunjukkan api aktif, bara yang masih tersimpan, atau sekadar anomali panas.

“Hotspot kategori High dan Medium kami perintahkan untuk segera dilakukan ground check dan verifikasi di lapangan,” ujar Herry.

Indragiri Hulu kini menjadi salah satu fokus penanganan karhutla Polda Riau. Sedikitnya sembilan lokasi kebakaran menjadi perhatian di kabupaten tersebut.

Selain Desa Pulau Jumat, penanganan juga dilakukan di Desa Sipang, Pauh Ranap, Paya Rumbai, Talang Lakat, dan sejumlah lokasi lain yang sudah memasuki tahap pendinginan.

150 Hektare Terbakar di Pulau Jumat

Di Desa Pulau Jumat, kebakaran terdeteksi sejak 7 September 2026. Api telah membakar sekitar 150 hektare lahan, sementara sekitar 100 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan.

- Iklan -
Ad image

Karakteristik lokasi menjadi tantangan tersendiri. Area yang terbakar berupa semak belukar dan lahan gambut, sementara angin kencang serta akses menuju lokasi yang sulit dijangkau memperlambat penanganan.

Sebanyak 157 personel gabungan diterjunkan. Mereka berasal dari unsur TNI, Polri, BPBD, perusahaan, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

Kapolda mengatakan peninjauan dilakukan untuk memastikan pemadaman dan pendinginan berjalan sesuai kebutuhan sekaligus mengevaluasi dukungan personel maupun peralatan.

“Kami melakukan pengecekan langsung untuk memastikan kondisi di lapangan serta memastikan proses pemadaman dan pendinginan berjalan dengan baik,” kata Herry.

Pendinginan Jadi Tahap Kritis

Penanganan karhutla di lahan gambut tidak berhenti setelah api di permukaan terlihat padam. Bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali memicu kebakaran apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Karena itu, Herry meminta personel tidak terburu-buru meninggalkan lokasi yang telah memasuki tahap pendinginan.

“Pendinginan harus dipastikan benar-benar tuntas, kemudian dilanjutkan dengan patroli dan pemantauan secara berkala,” tegasnya.

Untuk mendukung operasi, tim menggunakan cairan formula X-Fire dan mendirikan posko. Tiga alat berat juga dikerahkan untuk membuat sekat bakar sekaligus membuka akses jalan.

Tim gabungan turut membangun embung yang dapat digunakan sebagai sumber air untuk mendukung pemadaman.

Kapolda dan Pangdam Gelar Salat Istisqa

Di sela peninjauan, Kapolda Riau bersama rombongan melaksanakan salat istisqa setelah salat Zuhur. Salat tersebut dilakukan sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kondisi kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah Riau.

Peninjauan turut diikuti Tenaga Ahli Kepala BNPB, Kepala Pelaksana BPBD Riau Edy Afrizal, serta jajaran Forkopimda Indragiri Hulu.

Sementara itu, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo menekankan bahwa pengendalian karhutla membutuhkan kecepatan dan koordinasi lintas sektor.

Menurut Agus, TNI, Polri, pemerintah daerah, perusahaan, serta unsur lainnya harus menjaga sinergi agar api tidak meluas dan lokasi yang telah ditangani tidak kembali terbakar.

“Kita harus bergerak cepat dan bekerja bersama. Jangan berikan ruang bagi api untuk meluas,” kata Agus.

Agus juga meminta keselamatan personel tetap menjadi perhatian karena operasi dilakukan di tengah medan yang sulit dan kondisi kebakaran yang dinamis.

Namun, aspek keselamatan tersebut harus berjalan beriringan dengan penyelesaian tugas hingga pemadaman dan pendinginan benar-benar tuntas.

“Utamakan keselamatan personel, tetapi tugas harus tetap dilaksanakan secara maksimal. Kita hadir di sini untuk melindungi masyarakat, lingkungan, dan memastikan penanganan Karhutla dilakukan sampai benar-benar tuntas,” tegasnya.***

Share This Article
error: Content is protected !!