Editorial Sore: Tiba-Tiba Sakit

3 Min Read
Ilustrasi "tiba tiba sakit"

Dokter pun mengakui, ada penyakit yang lahir dari tekanan batin. Tetapi ada pula keadaan ketika yang sakit bukan tubuhnya terlebih dahulu, melainkan keberanian mentalnya. 

DMNETWORK – Ada satu gejala yang menarik dalam kehidupan kita. Sakit, yang semula merupakan urusan tubuh, pelan-pelan menjelma menjadi urusan sosial. Ia bukan lagi sekadar demam yang menaikkan suhu badan atau tekanan darah yang melonjak tanpa permisi. Sakit bisa menjadi ruang yang paling sopan ketika segala penjelasan telah kehilangan tenaga.
Manusia memang memiliki batas. Tidak semua beban sanggup dipanggul. Tidak semua pertanyaan mempunyai jawaban. Tetapi ada saat ketika sakit terasa terlalu tepat waktunya. Persis ketika tanggung jawab menagih, ketika keputusan menunggu, ketika kesalahan meminta pertanggungjawaban, tubuh mendadak mengajukan keberatan.
Dalam keadaan demikian, tidak ada yang tega berdebat dengan orang sakit. Kita diajarkan untuk mendoakan, bukan menginterogasi. Tempat tidur rumah sakit lebih mudah membangkitkan belas kasihan daripada meja pemeriksaan yang dipenuhi pertanyaan. Maka sakit, disadari atau tidak, kadang berubah menjadi benteng terakhir yang paling menakjubkan.
Barangkali tubuh memang mempunyai bahasa sendiri. Pikiran yang kusut dapat menjalar menjadi kepala yang berat. Beban yang menumpuk dapat menggerogoti tenaga. Dokter pun mengakui, ada penyakit yang lahir dari tekanan batin. Tetapi ada pula keadaan ketika yang sakit bukan tubuhnya terlebih dahulu, melainkan keberanian mentalnya. Tubuh hanya datang belakangan sebagai penerjemah.
Masyarakat akhirnya belajar membaca gejala dengan cara yang berbeda. Bila seseorang jatuh sakit di tengah musim panen, orang menganggap itu musibah.
Namun bila sakit datang tepat ketika tanggung jawab mengetuk pintu, orang mulai bertanya dalam hati, apakah ini kebetulan, atau kebetulan yang terlalu rapi?
Tentu kita tidak berhak menghakimi siapa pun. Penyakit adalah rahasia yang bahkan dokter pun hanya bisa mendekatinya dengan ilmu, bukan kepastian.
Namun sejarah kehidupan publik telah berkali-kali memperlihatkan bahwa tubuh sering dijadikan tempat berlindung terakhir ketika alasan sudah habis dipakai.
Mungkin itulah sebabnya orang-orang tua dahulu lebih suka mengatakan, “Jangan berharap sakit untuk menyelesaikan persoalan.” Sebab penyakit hanya bisa menghindarkan seseorang dari kewajiban untuk sementara, tetapi tidak pernah mampu menyembuhkan kenyataan. Tanggung jawab memiliki ingatan yang lebih panjang daripada masa rawat inap. Ketika tubuh pulih, ia akan kembali mengetuk pintu yang sama.
Dan di situlah kita belajar bahwa yang benar-benar menyehatkan bukanlah kesempatan untuk menghindar, melainkan keberanian untuk tetap berdiri, sekalipun badan gemetar dan keadaan tidak lagi bersahabat. 

Editor: Aris Munandar 

Share This Article
error: Content is protected !!