Hari Santri 2026: Kemenag Dorong Pesantren Perkuat Aspirasi, Inovasi dan Kemandirian

6 Min Read
Rangkaian Hari Santri 2026 Kemenag mendorong aspirasi, inovasi, pendidikan dan kemandirian pesantren. (sna/DMnetwork)

DMNETWORK.COM – JAKARTA — Peringatan Hari Santri 2026 tidak hanya diarahkan untuk mengenang kontribusi ulama dan santri dalam sejarah Indonesia. Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan rangkaian agenda yang memberi ruang lebih luas bagi santri dan pesantren untuk menunjukkan gagasan, inovasi, hingga potensi ekonomi.

Rangkaian tersebut resmi dimulai dengan peluncuran logo dan tema Hari Santri pada Selasa (22/9/2026). Tahun ini menjadi momentum satu dekade peringatan Hari Santri sejak tanggal 22 Oktober ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Tema yang diusung Kemenag adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.”

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan kehadiran negara dalam penyelenggaraan Hari Santri memberikan dimensi tersendiri terhadap peringatan yang selama ini juga telah dilakukan masyarakat.

- Iklan -
Ad imageAd image

“Kita sebetulnya sudah setiap tahun memperingati Hari Santri, tetapi nanti secara formal kan berbeda ya. Karena negara hadir,” ujar Nasaruddin dalam Media Gathering Hari Santri 2026 di Jakarta.

Dari Aspirasi Santri hingga Peta Jalan Pesantren

Salah satu agenda yang disiapkan Kemenag adalah Surat Santri untuk Presiden yang berlangsung 22 September hingga 8 Oktober 2026.

Melalui program tersebut, santri dapat menyampaikan gagasan, harapan, dan pesan mengenai masa depan Indonesia. Tiga tema yang disiapkan mencakup pendidikan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesejahteraan rakyat. Surat terbaik akan disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Agenda tersebut menjadi salah satu ruang partisipasi santri dalam rangkaian Hari Santri tahun ini.

Pada Oktober, Kemenag juga akan menggelar Halaqah Penguatan Ditjen Pesantren pada 8–9 Oktober. Forum tersebut diarahkan untuk menyusun peta jalan pengembangan pesantren ke depan.

- Iklan -
Ad image

Nasaruddin menyebut forum itu akan menjadi ruang bagi kalangan pesantren untuk membicarakan arah pengembangan pesantren. Pemerintah daerah juga akan dilibatkan dalam proses tersebut.

Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said mengatakan pemerintah akan mengundang gubernur, bupati, dan wali kota, terutama daerah yang telah memiliki peraturan daerah tentang pesantren.

Ditjen Pesantren Hadir di Momentum Satu Dekade

Kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren menjadi salah satu konteks baru dalam peringatan Hari Santri 2026.

Nasaruddin menyebut keberadaan Ditjen Pesantren sebagai bagian dari momentum kebangkitan santri. Menurut dia, penguatan kelembagaan tersebut dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap dunia pesantren.

“Betul yang dikatakan ini adalah hari kebangkitan santri dengan launching dengan hadirnya Ditjen Pesantren,” kata Nasaruddin.

Basnang Said yang baru dilantik sebagai Direktur Jenderal Pesantren juga disebut memiliki latar belakang yang dekat dengan lingkungan pesantren.

Kemenag kemudian memasukkan sejumlah agenda yang berkaitan dengan penguatan kapasitas dan eksistensi pesantren dalam rangkaian peringatan tahun ini.

Salah satunya Mu’tamad Santri pada 14–15 Oktober. Forum tersebut diarahkan untuk memperkuat mutu pendidikan pesantren, memperluas kerja sama internasional, serta mendorong pesantren agar memiliki daya saing lebih luas.

Kemandirian Ekonomi Pesantren Ikut Disorot

Aspek lain yang mendapat perhatian adalah kemandirian ekonomi pesantren.

Kemenag menyiapkan Expo Kemandirian Pesantren pada 16–24 Oktober di Lapangan Banteng. Agenda ini akan menampilkan berbagai produk yang dikembangkan pesantren.

Basnang menyebut sebanyak 4.185 pesantren memperoleh bantuan program inkubasi sepanjang 2021–2025. Sebagian di antaranya kemudian berkembang menjadi Badan Usaha Milik Pesantren atau BUMPES.

Produk yang akan ditampilkan dalam expo antara lain makanan dan minuman, buku, pakaian khas Nusantara, serta produk lainnya.

Dengan agenda tersebut, Kemenag ingin memperlihatkan bahwa aktivitas pesantren juga memiliki dimensi ekonomi dan kewirausahaan, selain fungsi pendidikan keagamaan.

Teknologi dan Budaya Masuk Rangkaian

Kemenag juga menyiapkan Santri Vision pada 2–20 Oktober. Program tersebut mencakup karya di bidang naskah, kebijakan dan komunikasi ilmiah, audio-visual, seni visual, media digital, serta inovasi digital dan teknologi pesantren.

Di sisi lain, unsur tradisi tetap mendapat tempat melalui Festival Sarung dan Peci Santri pada 16 Oktober.

Menteri Agama Nasaruddin menekankan bahwa perkembangan pesantren tidak harus berarti meninggalkan identitas budaya. Sarung dan peci tetap ditempatkan sebagai bagian dari identitas pesantren sekaligus budaya Indonesia.

Rangkaian lainnya meliputi Perkemahan Pramuka Santri Nusantara pada 30 September–6 Oktober serta Pesantren Award yang berlangsung sepanjang 22 September–24 Oktober.

Puncak Hari Santri 24 Oktober

Hari Santri tetap diperingati setiap 22 Oktober. Dasarnya adalah Keppres Nomor 22 Tahun 2015 yang ditetapkan pada 15 Oktober 2015. Keppres tersebut menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri dengan mempertimbangkan peran ulama dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan serta pembangunan bangsa.

Pada 22 Oktober 2026, Kemenag akan menggelar Upacara Hari Santri.

Sementara penutupan rangkaian dijadwalkan melalui Malam Bakti Santri untuk Negeri pada 24 Oktober di Istora Senayan, Jakarta.

Basnang Said mengatakan Kemenag berencana mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri agenda tersebut. Undangan akan disampaikan melalui Menteri Agama.

Memasuki satu dekade, rangkaian Hari Santri 2026 dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” memperlihatkan cakupan peringatan yang lebih luas: dari refleksi sejarah hingga ruang bagi aspirasi, pendidikan, teknologi, budaya, dan kemandirian ekonomi pesantren.***

Share This Article
error: Content is protected !!