Cerpen Aris Munandar: Kiai

8 Min Read
Ilustrasi naskah cerpen Aris Munandar (DMNetwork)

Sejak pulang dari Muktamar, telepon genggamnya tak berhenti berdering. Ada pengurus partai. Ada calon pejabat. Ada orang kementerian. 

DMNETWORK – Pagi itu, setelah Muktamar selesai, Kiai Mustajab masih duduk di serambi masjid.
Di depannya ada dua gelas teh. Satu sudah dingin. Satu lagi belum disentuh.
Dari pengeras suara masjid terdengar suara anak-anak mengaji. Terbata-bata membaca Alif Lam Mim. Sesekali suara ustaz muda membetulkan bacaan mereka.
“Kiai.”
Kiai Mustajab menoleh.
Yang datang Pak Lurah, mengenakan batik dan peci hitam. Di belakangnya ada seorang anak muda bernama Rasyid, santri yang baru pulang dari Muktamar NU.
“Ada apa?”
Pak Lurah duduk tanpa dipersilakan. Rasyid berdiri.
“Kiai sudah dengar hasil Muktamar?”
“Sudah.”
“Bagaimana?”
Kiai Mustajab mengangkat gelas teh yang dingin.
“Teh ini juga sudah ada hasilnya.”
Pak Lurah tertawa kecil. Rasyid ikut tersenyum.
“Jadi?”
“Ya begitu. Yang menang bersyukur. Yang kalah mencari hikmah. Besok semua kembali ke rumah masing-masing.”
“Kalau politik?”
Kiai Mustajab diam.
Pertanyaan itu sebenarnya sudah ia tunggu sejak semalam.
Sejak pulang dari Muktamar, telepon genggamnya tak berhenti berdering. Ada pengurus partai. Ada calon pejabat. Ada orang kementerian. Ada pula wartawan yang ingin tahu apakah Kiai Mustajab akan memberikan dukungan kepada tokoh tertentu.
Padahal ia hanya ingin tidur.
Di Muktamar, orang-orang berbicara tentang masa depan umat.
Di hotel, orang-orang berbicara tentang masa depan kursi.
Keduanya sama-sama menggunakan kata “umat”.
Bedanya, yang satu memakai sorban, yang lain memakai jas.
“Kiai,” kata Pak Lurah, “bukankah kiai juga perlu masuk politik?”
Kiai Mustajab tersenyum.
“Perlu.”
Pak Lurah tampak lega.
“Tapi…”
“Kenapa, Pak?”
“Politik itu perlu kiai. Kiai tidak selalu perlu politik.”
Rasyid menundukkan kepala supaya tidak terlihat sedang tersenyum.
Kiai Mustajab memandang halaman pesantren.
Di sana seorang santri sedang menjemur sarung. Di sebelahnya, dua anak berebut sandal.
“Begini, Sid,” katanya.
Rasyid mendekat.
“Orang sering mengira kehidupan kiai itu hanya mengaji, menerima tamu, memberi nasihat, lalu tidur.”
Rasyid mengangguk.
“Padahal?”
“Padahal kiai juga manusia.”
Kiai Mustajab tertawa pendek.
“Kalau lapar ya makan. Kalau sakit ya minum obat. Kalau anaknya sekolah ya bayar uang sekolah. Kalau genteng bocor ya mencari tukang. Kalau istrinya marah, ya diam.”
Pak Lurah tertawa.
“Dan kalau ditawari jabatan?”
Kiai Mustajab tidak tertawa.
“Nah. Itu yang susah.”
Angin bergerak pelan membawa bau tanah basah dari belakang pesantren.
Kiai Mustajab teringat ayahnya.
Ayahnya dahulu juga seorang kiai. Tidak pernah menjadi anggota partai. Tidak pernah memasang baliho. Tidak pernah naik panggung kampanye.
Tetapi hampir setiap malam rumahnya didatangi orang.
Petani datang membawa persoalan pupuk.
Pedagang datang meminta nasihat utang.
Guru datang meminta bantuan.
Orang miskin datang hanya untuk makan.
Dan orang politik datang meminta doa.
Ayahnya selalu menerima semuanya.
Suatu malam, ketika Kiai Mustajab masih remaja, ia pernah bertanya.
“Kenapa Bapak tidak masuk politik?”
Ayahnya sedang memperbaiki sandal.
“Siapa bilang Bapak tidak berpolitik?”
“Kan Bapak tidak punya partai.”
Ayahnya tertawa.
“Politik itu bukan hanya partai.”
“Lalu?”
“Ketika Bapak membela orang yang tidak punya suara, itu politik.”
Kiai Mustajab mengingat kalimat itu sampai sekarang.
Tetapi zaman telah berubah.
Kini politik datang ke pesantren dengan mobil hitam.
Membawa proposal. Membawa kamera. Membawa salam. Kadang membawa amplop. Dan selalu membawa senyum yang sangat lebar.
“Kiai,” kata Rasyid, “kalau kiai masuk politik, apa salah?”
“Tidak.”
“Kalau mendukung calon?”
“Tidak.”
“Kalau menjadi pengurus partai?”
“Tidak.”
“Kalau menjadi pejabat?”
“Tidak.”
Rasyid terdiam.
“Lalu yang salah apa?”
Kiai Mustajab menatapnya.
“Kalau setelah masuk politik, kiai lupa mengapa dulu orang datang kepadanya.”
Rasyid tidak menjawab. Pak Lurah juga diam.
Dari dalam masjid terdengar suara azan Magrib. Kiai Mustajab berdiri. Ia merapikan sarungnya. Sebelum masuk masjid, ia berkata kepada Rasyid.
“Jangan terlalu kagum kepada kiai.”
Rasyid terkejut.
“Kenapa?”
“Karena kiai juga manusia. Kalau terlalu dikagumi, ia bisa lupa bahwa dirinya manusia.”
Ia berjalan menuju tempat wudhu.
“Dan jangan terlalu membenci kiai yang berpolitik.”
Rasyid mengikuti.
“Kenapa?”
“Karena ia juga manusia.”
Kiai Mustajab berhenti sebentar.
“Tetapi jangan pula membiarkan kiai memakai agama untuk menutupi kepentingannya sendiri.”
Keduanya kemudian mengambil wudhu.
Malam itu, selepas Isya, seorang tamu datang. Mobil hitam berhenti di depan pesantren.
Seorang lelaki turun. Jasnya rapi. Pecinya baru. Ia membawa sebuah map cokelat.
“Kiai, saya datang membawa amanah.”
Kiai Mustajab memandang map itu.
“Amanah dari siapa?”
Lelaki itu tersenyum.
“Ya… dari teman-teman.”
“Teman-teman siapa?”
“Teman-teman perjuangan.”
Kiai Mustajab tersenyum.
Ia tidak membuka map itu.
“Mas, kalau memang amanah, jangan diberikan kepada saya.”
“Lalu?”
“Berikan kepada orang yang membutuhkan.”
Lelaki itu terdiam.
Di luar, seorang santri berlari mengejar ayam.
Ayam itu masuk ke halaman dan menabrak kaki lelaki berjas tadi.
Kiai Mustajab tertawa.
Untuk pertama kalinya malam itu, lelaki tersebut ikut tertawa.
“Begini saja,” kata Kiai Mustajab. “Besok datang lagi.”
“Untuk apa, Kiai?”
“Kita ngopi.”
“Tanpa membawa map?”
“Tanpa map.”
“Kalau membawa uang?”
“Untuk ngopi boleh.”
Lelaki itu tertawa.
“Tapi jangan untuk membeli doa.”
Kiai Mustajab masuk ke rumah.
Di ruang tamu, istrinya sudah menunggu.
“Siapa?”
“Orang politik.”
“Memberi apa?”
“Map.”
“Iisinya?”
“Belum tahu.”
“Kenapa tidak dibuka?”
Kiai Mustajab melepas pecinya.
“Takut.”
Istrinya memandang heran.
“Takut apa?”
“Takut isinya sedikit.”
Istrinya tertawa.
“Kalau banyak?”
“Lebih takut lagi.”
Mereka tertawa bersama.
Di luar, lampu pesantren menyala satu per satu.
Muktamar sudah selesai.
Orang-orang kembali ke rumah.
Para elite kembali ke Jakarta.
Partai-partai mulai menyusun strategi. Koran-koran menulis tentang masa depan organisasi.
Tetapi di sebuah pesantren kecil, seorang kiai tetap harus memikirkan beras untuk makan pagi.
Ia tetap harus membayar listrik.
Ia tetap harus mengurus santri yang demam.
Ia tetap harus menenangkan seorang petani yang sawahnya kekeringan.
Dan besok pagi, seperti biasa, ia akan duduk di serambi masjid.
Membuka hape, scroll tiktok, buka web portal berita.
Menyeruput teh.
Sambil sesekali bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah menjadi kiai berarti harus menjauh dari politik?
Ataukah justru seorang kiai harus masuk ke dalam politik agar politik tidak kehilangan hati?
Ia belum menemukan jawabannya.
Barangkali memang tidak ada jawaban yang selesai.
Sebab politik selalu berubah.
Manusia juga.
Sedangkan pesantren, dengan segala kesederhanaannya, tetap menunggu orang-orang pulang.
Termasuk para kiai yang kadang terlalu jauh berjalan mengejar kekuasaan.
Dan mungkin, pikir Kiai Mustajab pagi itu, tugas seorang kiai bukan menjadi orang paling berkuasa, melainkan menjadi orang yang masih berani mengatakan kepada penguasa bahwa ia sedang salah jalan.
Ia menurup hapenya masukkan di saku jas lusuhnya.
Tehnya sudah dingin. Tetapi kali ini ia meminumnya juga.

29 Agustus 2026,

Aris Munandar adalah seorang petani, tinggal di Magelang 

- Iklan -
Ad imageAd image
Share This Article
error: Content is protected !!