Amanah Manusia dan Ukuran Sebuah Pengabdian

5 Min Read
Ilustrasi gambar atas naskah Ngubaedi Achmad (DMNetwork)

Banyak orang memilih pekerjaan, tetapi tidak memahami amanah yang terkandung di dalam pekerjaan itu. 

DMNETWORK – Ada satu amanah yang sering kita ucapkan, tetapi jarang kita pikirkan sampai ke ujungnya: manusia adalah khalifah.

Khalifah bukan sekadar gelar yang indah untuk disebut dalam pengajian. Ia adalah pekerjaan. Dan setiap pekerjaan, kalau memang pekerjaan, tentu mempunyai ukuran keberhasilan.

Manusia diturunkan ke dunia bukan untuk sekadar memenuhi dunia dengan kehadirannya. Ia mempunyai tugas yang lebih berat: menciptakan suasana yang layak bagi kehidupan.

Kalimat ini sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia sering dilewati begitu saja.

- Iklan -
Ad imageAd image

Kita lebih senang bertanya, “Saya bekerja sebagai apa?” daripada bertanya, “Untuk apa pekerjaan saya?”

Padahal kedua pertanyaan itu berbeda jauh.

Seorang dokter, misalnya. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata berapa banyak pasien yang datang ke ruang praktik atau berapa banyak resep yang ditulis. Ukuran yang lebih besar adalah: apakah masyarakat menjadi lebih sehat?

Guru juga begitu. Ia bukan sekadar orang yang masuk kelas, menulis di papan tulis, lalu pulang membawa daftar hadir. Ukuran pekerjaannya adalah kualitas manusia yang lahir dari pendidikan yang ia berikan.

Polisi tidak cukup hanya hadir dengan seragam dan kewenangan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah masyarakat merasa aman?

- Iklan -
Ad image

Petani tidak cukup dinilai dari luas sawah yang digarap. Pertanyaan pokoknya: apakah bahan makanan tersedia?

Pedagang tidak cukup hanya dihitung dari besarnya omzet. Ada pertanyaan sosial yang lebih penting: apakah kebutuhan pokok masyarakat dapat diperoleh secara merata dan wajar?

Hakim pun demikian. Ukuran pekerjaannya bukan sekadar banyaknya perkara yang diputus, melainkan apakah keadilan benar-benar tumbuh di tengah masyarakat.

Dan pemerintah?

Pemerintah barangkali mempunyai ukuran yang paling rumit. Sebab ia berurusan dengan hampir seluruh kehidupan manusia. Masyarakat harus menjadi produktif, tertib, hak dan kewajibannya terjamin, dan negara tidak berubah menjadi mesin yang hanya pandai membuat peraturan.

Begitulah seharusnya sebuah pekerjaan dibaca.

Bukan hanya dari jabatan, gaji, seragam, kantor, atau papan nama.

Melainkan dari apa yang dihasilkan pekerjaan itu bagi kehidupan manusia.

Di sinilah persoalannya.

Banyak orang memilih pekerjaan, tetapi tidak memahami amanah yang terkandung di dalam pekerjaan itu. Akibatnya, pekerjaan hanya menjadi aktivitas untuk memperoleh penghasilan. Ilmu dipakai sekadarnya. Keahlian berjalan tanpa arah. Karya dibuat karena tuntutan, bukan karena kesadaran akan tugas.

Padahal kalau manusia memahami dirinya sebagai khalifah, setiap bidang pekerjaan mempunyai tanggung jawab sosial.

Teknisi, misalnya, bukan sekadar orang yang memperbaiki mesin. Ukuran keberhasilannya adalah tersedianya peralatan yang membuat pekerjaan manusia menjadi mungkin dan lebih baik.

Demikian pula pekerjaan-pekerjaan lain.

Ada hubungan yang sangat sederhana antara profesi dan kehidupan: setiap profesi seharusnya membuat kehidupan sedikit lebih layak daripada sebelumnya.

Kalau tidak, kita perlu bertanya ulang: sebenarnya untuk apa ilmu itu diperoleh?

Untuk apa keahlian itu dikuasai?

Untuk apa jabatan itu diberikan?

Dalam pengertian seperti ini, pekerjaan manusia di dunia dapat dipahami sebagai fardlu kifayah. Masyarakat membutuhkan dokter, guru, petani, pedagang, polisi, hakim, teknisi, dan berbagai pekerjaan lain agar kehidupan dapat berlangsung dengan baik.

Namun ada pula kewajiban yang lain: manusia hidup untuk mengabdi kepada Allah.

Ini wilayah fardlu ‘ain.

Menariknya, kewajiban yang satu ini sering lebih mudah kita ucapkan daripada kewajiban yang lain. Kita tahu manusia harus mengabdi kepada Tuhan. Tetapi kita kadang lupa bahwa pengabdian itu seharusnya mempunyai jejak dalam kehidupan.

Sebab pengabdian yang tidak pernah menyentuh kehidupan manusia akhirnya hanya tinggal sebagai kata.

Di situlah barangkali letak persoalan kita.

Kita terlalu sering mengukur keberhasilan dari aktivitasnya, bukan dari akibatnya.

Dokter merasa sudah bekerja karena membuka praktik.

Guru merasa sudah bekerja karena mengajar.

Petani merasa sudah bekerja karena menanam.

Pedagang merasa sudah bekerja karena berdagang.

Pejabat merasa sudah bekerja karena mengeluarkan kebijakan.

Tetapi pertanyaan khalifah jauh lebih sederhana dan sekaligus lebih mengganggu:

Setelah saya bekerja, apakah kehidupan menjadi lebih layak?

Kalau jawabannya ya, pekerjaan itu menemukan maknanya.

Kalau jawabannya tidak, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya cara bekerja, tetapi juga cara memahami amanah.

Sebab manusia tidak hanya diberi hidup.

Ia diberi tugas.

Dan ukuran tugas itu bukan seberapa sibuk kita menjalankannya, melainkan seberapa besar kehidupan menjadi lebih baik karena kita pernah berada di dalamnya.

Ngubaedi Achmad, mantan dosen tinggal di Semarang 

Share This Article
error: Content is protected !!