DMNETWORK.COM — Tidak ada manusia yang benar-benar tanpa cela. Di balik kehidupan yang terlihat baik di mata orang lain, selalu ada sisi yang mungkin sedang diperjuangkan: kesalahan yang ingin ditebus, kekurangan yang berusaha diperbaiki, hingga luka yang belum siap dibagikan.
Kesadaran tersebut semestinya membuat seseorang lebih berhati-hati dalam menilai orang lain. Dalam ajaran Islam, memperbaiki diri jauh lebih utama daripada sibuk membongkar kekurangan sesama.
Menjadi baik bukan berarti memiliki hak untuk merasa paling baik. Kualitas seorang manusia tidak diukur dari seberapa banyak kesalahan orang lain yang dapat ditemukan, tetapi dari kesungguhannya membersihkan hati, memperbaiki perilaku, serta merendahkan diri di hadapan Allah Swt.
Setiap Orang Menjalani Ujian yang Tidak Sama
Kehidupan manusia merupakan perjalanan menuju Allah Swt. Dalam perjalanan itu, setiap orang menghadapi persoalan yang berbeda.
Ada yang diuji melalui kekurangan materi, sementara yang lain diuji dengan kelimpahan harta. Ada yang harus menghadapi sakit, sedangkan sebagian lainnya mendapatkan kesehatan. Ada yang terlihat tekun menjalankan agama, tetapi masih berjuang menghadapi hawa nafsu.
Di sisi lain, seseorang yang terlihat biasa saja mungkin menyimpan keikhlasan dan ketakwaan yang tidak diketahui orang lain.
Manusia hanya mampu melihat bagian luar. Sementara Allah Swt. mengetahui seluruh keadaan hamba-Nya, termasuk isi hati dan perjuangan yang tidak terlihat.
Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa dirinya lebih mulia dibandingkan sesama.
Ketika Kekurangan Orang Lain Lebih Mudah Terlihat
Kecenderungan memperhatikan kesalahan orang lain dapat muncul tanpa disadari. Kita mudah melihat apa yang salah dari perilaku orang lain, tetapi sering kali membutuhkan keberanian lebih besar untuk mengakui kekurangan diri sendiri.
Padahal, semakin seseorang memahami dirinya, seharusnya semakin banyak waktu yang digunakan untuk memperbaiki diri.
Al-Qur’an memberikan peringatan agar orang-orang beriman tidak terjebak dalam prasangka, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
QS. Al-Hujurat: 12
Larangan tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga kehormatan manusia.
Kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain bukan hanya dapat merusak hubungan sosial. Jika terus dilakukan, hati juga dapat kehilangan kelembutannya. Seseorang menjadi terbiasa menilai, mencela, dan akhirnya merasa lebih tinggi daripada orang yang dinilainya.
Kesombongan Tidak Selalu Terlihat dari Luar
Kesombongan sering kali dianggap identik dengan sikap angkuh atau gemar memamerkan sesuatu. Padahal, penyakit hati ini dapat muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus.
Merasa paling benar, merendahkan orang yang berbeda, menganggap amal sendiri lebih baik, atau memandang rendah orang yang dianggap kurang berilmu juga dapat menjadi tanda kesombongan.
Rasulullah saw. bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar zarah.”
HR. Muslim
Pesan tersebut mengingatkan bahwa persoalan kesombongan berada di dalam hati.
Seseorang dapat terlihat sederhana di hadapan manusia, tetapi tetap harus waspada terhadap perasaan yang membuat dirinya menganggap orang lain lebih rendah.
Muhasabah Mengajarkan Kita untuk Berkaca
Seorang muslim seharusnya memiliki kebiasaan melakukan muhasabah atau mengevaluasi diri.
Sebelum menilai orang lain, tanyakan kepada diri sendiri apakah kita sudah memperbaiki kekurangan yang ada. Sebelum mengkritik kesalahan sesama, periksa kembali ucapan dan perbuatan kita.
Allah Swt. berfirman:
بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan berbagai alasan.”
QS. Al-Qiyamah: 14-15
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap orang pada dasarnya mengetahui kondisi dirinya.
Maka, waktu yang digunakan untuk memperbaiki diri tidak seharusnya kalah banyak dibandingkan waktu yang dihabiskan untuk membicarakan kesalahan orang lain.
Ketika melihat kekurangan sesama, jadikan itu sebagai cermin. Bisa jadi, kesalahan tersebut juga menjadi peringatan agar kita lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Menjaga Ucapan, Menjaga Kehormatan
Ucapan yang keluar dari lisan tidak selalu dapat ditarik kembali. Karena itu, seorang muslim diajarkan untuk mempertimbangkan manfaat dan dampak sebelum berbicara.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
Banyak hubungan yang rusak karena ucapan yang tidak dijaga. Sebuah komentar tentang kekurangan seseorang dapat berkembang menjadi gunjingan, sementara perkataan yang dianggap bercanda bisa meninggalkan luka.
Karena itu, tidak semua hal yang diketahui perlu disampaikan.
Ada kalanya diam merupakan pilihan yang lebih bijaksana daripada mengatakan sesuatu yang hanya akan mempermalukan atau menyakiti orang lain.
Menutup Aib Adalah Bentuk Menjaga Sesama
Islam juga mengajarkan umatnya untuk menjaga aib saudara.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.”
HR. Muslim
Menutup aib tentu bukan berarti membiarkan kemaksiatan atau kezaliman. Jika ada tindakan yang merugikan atau membahayakan orang lain, diperlukan langkah yang benar untuk menghentikannya.
Namun, membongkar kekurangan pribadi seseorang hanya untuk mempermalukan, merendahkan, atau mendapatkan perhatian bukanlah perilaku yang mencerminkan akhlak Islam.
Setiap manusia memiliki sisi yang ingin dijaga. Sebagaimana kita berharap Allah Swt. menutupi kekurangan dan kesalahan kita, demikian pula kita seharusnya belajar menjaga kehormatan orang lain.
Berbuat Baik Tanpa Menunggu Pujian
Kebaikan yang tulus tidak membutuhkan pengakuan manusia.
Seseorang yang ikhlas akan tetap melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat atau memberikan penghargaan. Ia tidak menjadikan amal sebagai sarana untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya terhadap keterbatasan diri. Semakin kuat keimanannya, semestinya semakin lembut sikapnya kepada sesama.
Sebab, hidayah adalah karunia Allah Swt.
Orang yang hari ini belum memahami agama dengan baik bisa saja memperoleh petunjuk pada masa mendatang. Dengan izin Allah, ia dapat berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Karena itu, keadaan seseorang hari ini tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk meremehkannya.
Jangan Menganggap Diri Sudah Selesai
Menjadi baik merupakan proses seumur hidup.
Tidak ada manusia yang boleh merasa telah selesai memperbaiki dirinya. Setiap hari selalu ada kesempatan untuk belajar, bertobat, memperbaiki ucapan, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Ketika mendapatkan ilmu, jangan menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain. Ketika mendapatkan kesempatan berbuat baik, jangan menggunakannya untuk mencari pengakuan.
Dan ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, jangan buru-buru merasa lebih suci.
Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan seseorang.
Bisa jadi orang yang hari ini kita pandang rendah justru kelak menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah daripada diri kita sendiri.
Memperbanyak Muhasabah, Mengurangi Penghakiman
Menjadi baik tanpa merasa paling baik membutuhkan latihan hati.
Kita dapat memulainya dengan memperbanyak muhasabah, menjaga lisan, mengurangi prasangka, serta menahan diri dari kebiasaan mencari-cari kekurangan orang lain.
Jika melihat kesalahan seseorang, ambillah pelajaran. Jika melihat kebaikan orang lain, jadikan motivasi. Jika mendapatkan kelebihan, tumbuhkan rasa syukur.
Tidak perlu membuktikan bahwa diri kita lebih baik.
Sebab, manusia tidak mengetahui secara sempurna kedudukan dirinya di hadapan Allah Swt.
Mari memperbanyak introspeksi daripada menghakimi, istighfar daripada menyalahkan, doa daripada mencela, serta kasih sayang daripada membuka kekurangan sesama.
Semoga Allah Swt. membersihkan hati kita dari sifat sombong, menjaga lisan kita dari perkataan yang menyakitkan, serta menjadikan kita pribadi yang senantiasa mau belajar dan memperbaiki diri.
Pada akhirnya, menjadi baik bukan tentang bagaimana kita terlihat di hadapan manusia. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ketakwaan, keikhlasan, dan kerendahan hati terus tumbuh dalam diri hingga kita mampu menjalani kehidupan sebagai hamba yang mencari ridha Allah Swt.***