Di Balik Kecanggihan AI, Kebutuhan Air Pusat Data Perlu Diawasi, Petani Jangan Terpinggirkan

6 Min Read

Penghitungan juga harus membedakan air yang diambil dari sumber dengan air yang benar-benar dikonsumsi, misalnya melalui penguapan.

JAKARTA, DARMEDIANETWORK – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya membawa perubahan dalam dunia teknologi, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang kebutuhan energi dan air untuk menopang operasionalnya.

Pusat data (data center) yang menjalankan layanan AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Di dalam fasilitas tersebut, ribuan server memproses data dan menghasilkan panas sehingga memerlukan sistem pendinginan. Pada sejumlah pusat data, proses pendinginan menggunakan air, termasuk melalui sistem yang membuang panas dengan cara penguapan.

Kebutuhan air tersebut menjadi perhatian karena sumber daya yang sama juga dibutuhkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan peternakan. Di wilayah yang mengalami keterbatasan air, penggunaan air untuk keperluan industri perlu dikelola dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kondisi lingkungan setempat.

Meski demikian, tidak semua pusat data memiliki tingkat konsumsi air yang sama. Besarnya kebutuhan bergantung pada teknologi pendinginan, kapasitas komputasi, kondisi iklim, serta sumber energi yang digunakan.

- Iklan -
Ad imageAd image

Pendinginan Server dan Jejak Air AI

Server dengan beban komputasi tinggi menghasilkan panas yang harus dikendalikan agar perangkat tetap beroperasi dengan baik. Untuk itu, pusat data dapat menggunakan berbagai teknologi, mulai dari pendinginan berbasis udara, sistem pendingin cair, hingga menara pendingin yang memanfaatkan penguapan air.

Perbedaan teknologi tersebut berpengaruh terhadap jumlah air yang digunakan. Sistem yang mengandalkan penguapan dapat mengonsumsi air secara langsung, sedangkan sistem lain dapat dirancang untuk menekan kebutuhan air, meskipun tetap memiliki kebutuhan energi dan infrastruktur pendinginan.

Selain penggunaan langsung di pusat data, kebutuhan air juga dapat muncul secara tidak langsung melalui produksi listrik. Sejumlah pembangkit listrik menggunakan air untuk proses pendinginan, tetapi besarnya penggunaan bergantung pada jenis pembangkit dan teknologi yang diterapkan.

Karena itu, penilaian terhadap jejak air AI perlu mencakup penggunaan air di pusat data maupun penggunaan air yang berkaitan dengan pasokan listriknya.

Penghitungan juga harus membedakan air yang diambil dari sumber dengan air yang benar-benar dikonsumsi, misalnya melalui penguapan. Perbedaan ini penting agar dampak lingkungan tidak dibesar-besarkan ataupun diremehkan.

- Iklan -
Ad image

Petani dan Masyarakat Perlu Mendapat Perlindungan

Bagi petani, ketersediaan air berkaitan langsung dengan keberhasilan usaha tani. Kekurangan air dapat menghambat pengolahan lahan, mengganggu pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan risiko penurunan hasil panen.

Ketika pusat data dibangun di wilayah yang memiliki keterbatasan air, pengambilan air untuk kebutuhan operasional perlu diperhitungkan bersama kebutuhan warga, pertanian, dan ekosistem.

Namun, pembangunan pusat data tidak serta-merta menyebabkan berkurangnya pasokan air untuk sawah atau sumur warga. Risiko tersebut harus dinilai berdasarkan lokasi fasilitas, sumber air yang digunakan, besarnya pengambilan, kondisi air tanah, serta ketersediaan air pada musim kemarau.

Oleh sebab itu, persoalan utamanya bukan mempertentangkan kemajuan teknologi dengan kepentingan pertanian, melainkan memastikan bahwa pengembangan industri digital tidak mengabaikan daya dukung lingkungan dan hak masyarakat atas sumber daya air.

Transparansi Penggunaan Air Menjadi Kunci

Pembangunan pusat data perlu disertai informasi yang jelas mengenai kebutuhan air dan energi. Informasi tersebut penting bagi pemerintah, masyarakat, serta pihak yang berkepentingan untuk menilai apakah kegiatan operasional fasilitas sesuai dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Sejumlah hal yang perlu diperhatikan meliputi sumber air yang digunakan, volume pengambilan dan konsumsi air, teknologi pendinginan, penggunaan air daur ulang, serta dampak yang mungkin timbul terhadap sumber air setempat.

Pengawasan juga perlu mempertimbangkan kondisi pada musim kemarau. Ketersediaan air yang terlihat mencukupi pada musim hujan belum tentu menjamin kebutuhan masyarakat dan industri dapat dipenuhi secara bersamaan sepanjang tahun.

Penggunaan teknologi pendinginan yang lebih hemat air dan pemanfaatan air daur ulang dapat menjadi bagian dari upaya efisiensi, sepanjang penerapannya sesuai dengan kebutuhan teknis dan kondisi lingkungan setempat.

Pemerintah dan pengelola fasilitas juga perlu memastikan bahwa informasi mengenai penggunaan air dapat diakses sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui manfaat investasi, tetapi juga memahami konsekuensi lingkungannya.

Kemajuan Teknologi Harus Sejalan dengan Ketahanan Air

AI menawarkan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan layanan publik, dan memperkuat ekonomi digital. Namun, perkembangan tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur yang menggunakan energi dan sumber daya alam.

Karena itu, keberhasilan pembangunan pusat data tidak cukup dinilai dari nilai investasi, kapasitas server, atau kecepatan pemrosesan informasi. Efisiensi energi, pengelolaan air, dan perlindungan lingkungan juga perlu menjadi bagian dari penilaian.

Bagi daerah yang mengandalkan pertanian, ketersediaan air merupakan bagian penting dari ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat. Kepentingan tersebut perlu diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan, tanpa menganggap bahwa setiap pusat data pasti menjadi penyebab kekurangan air.

Pada akhirnya, tantangan Indonesia bukan memilih antara teknologi dan pertanian. Keduanya dapat berkembang bersama apabila pemanfaatan air direncanakan secara transparan, efisien, dan sesuai dengan daya dukung lingkungan.

Kemajuan teknologi semestinya berjalan beriringan dengan perlindungan sumber daya air. Sebab, di tengah perkembangan AI, air tetap menjadi kebutuhan mendasar bagi kehidupan masyarakat, keberlangsungan pertanian, dan masa depan lingkungan. Redaksi

Share This Article
error: Content is protected !!