Salah seorang peserta yang masih saya ingat adalah Zuly Qodir.
DARMEDIANETWORK | Pada tahun 1993, di Bambang Lipuro, Bantul, saya belum menjadi instruktur lokal.
Saya masih observer nomor satu.
Dalam Batra PII, rupanya ada urut-urutan yang tidak bisa dilompati, bahkan oleh orang yang merasa sudah cukup tahu untuk berdiri di depan kelas. Seseorang harus menjadi observer sekurang-kurangnya dua kali sebelum berhak menjadi instruktur lokal. Setelah itu, barulah ia boleh mendampingi peserta, memandu diskusi, dan menghadapi mahasiswa yang pertanyaannya kadang-kadang lebih panjang daripada jawaban yang tersedia.
Di setiap lokal, ada seorang instruktur dan dua orang observer. Masing-masing mempunyai tugas. Instruktur memimpin proses, sedangkan observer mengamati. Setidaknya begitu pembagian yang tertulis dalam tata kerja.
Dalam praktiknya, mengamati manusia jauh lebih rumit daripada mengamati papan tulis.
Saya mendampingi Muhammad Arifin, mahasiswa UPN waktu itu. Di lokal kami ada 21 peserta. Hampir semuanya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Mereka mahasiswa, bukan pelajar. Perbedaannya bukan semata-mata umur, melainkan cara mereka menghadapi sebuah pertanyaan.
Pelajar biasanya bertanya untuk memperoleh jawaban.
Mahasiswa bisa bertanya untuk memeriksa jawaban, mempertanyakan pertanyaan, lalu mempertanyakan mengapa pertanyaan itu perlu dipertanyakan.
Kadang-kadang, setelah diskusi berlangsung cukup lama, saya merasa kami telah berjalan jauh sekali, tetapi ternyata masih berdiri di tempat semula.
Mereka kritis. Mereka suka mendebat. Jawaban yang diberikan dengan penuh keyakinan bisa dibongkar menjadi beberapa pertanyaan baru. Sebuah kesimpulan yang tampak kokoh pada menit pertama dapat berubah menjadi persoalan yang belum selesai pada menit berikutnya.
Saya mengamati semua itu dari tempat duduk seorang observer nomor satu.
Ada kalanya saya ingin ikut bicara. Ada kalanya saya merasa jawaban seorang peserta sudah berputar terlalu jauh sehingga perlu ditarik kembali ke pangkal persoalan. Tetapi saya sedang belajar mengamati. Maka saya menahan diri.
Ternyata menahan diri juga membutuhkan latihan.
Salah seorang peserta yang masih saya ingat adalah Zuly Qodir.
Waktu itu ia mahasiswa semester satu.
Semester satu. Sebuah masa ketika seseorang baru mulai mengenali dunia kampus, mencoba memahami buku-buku yang belum pernah dibacanya, dan mungkin belum tahu bahwa kelak namanya akan ditulis bersama gelar-gelar akademik yang panjang.
Dalam penilaian peserta Batra saat itu, Zuly bukan termasuk peserta dengan nilai yang menonjol. Kalau saya tidak salah mengingat, ia bukan peserta yang berada di kelompok atas.
Namun, ada sesuatu yang sulit dimasukkan ke dalam lembar penilaian.
Rasa ingin tahu.
Saya masih mengingatnya sebagai anak muda yang ingin mengetahui banyak hal. Ia tidak selalu tampil sebagai orang yang paling menguasai persoalan. Ia juga tidak harus menjadi orang yang paling cepat menyusun jawaban. Tetapi rasa ingin tahunya seperti mempunyai pintu yang tidak mudah ditutup.
Barangkali saya terlalu jauh menafsirkan ingatan yang sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun. Ingatan manusia memang suka menambahkan cahaya pada masa lalu, terutama setelah kita mengetahui apa yang terjadi kemudian.
Tetapi begitulah yang saya ingat.
Waktu itu, saya tidak pernah membayangkan bahwa mahasiswa semester satu tersebut kelak akan menjadi Prof. Dr. Zuly Qodir.
Saya juga tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, orang yang dahulu saya amati dalam sebuah kegiatan Batra akan duduk di hadapan saya sebagai penguji doktor di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Waktu rupanya mempunyai cara sendiri untuk mengatur tempat duduk manusia.
Pada 1993, saya berada di sisi kelas, mencatat, mengamati, dan belajar memahami para peserta. Zuly berada di antara 21 mahasiswa yang sedang menjalani proses perkaderan. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi tiga puluh tahun kemudian. Tidak ada seorang pun yang membawa daftar masa depan ke Bambang Lipuro.
Tidak ada pula sertifikat yang menyebutkan siapa kelak akan menjadi profesor, siapa akan menjadi petani, siapa akan menulis, siapa akan menguji disertasi, dan siapa yang akan duduk di hadapan seorang penguji sambil berusaha menjelaskan mengapa penelitiannya layak dipertanggungjawabkan.
Kalau saja ada sertifikat seperti itu, barangkali kegiatan Batra akan kehilangan sebagian kegunaannya.
Sebab, untuk apa berdiskusi kalau masa depan sudah diumumkan?
Tiga puluh tiga tahun kemudian, pada 2026, saya bertemu lagi dengan Zuly Qodir dalam sebuah ruangan di UMY.
Kali ini, ia menguji gelar doktor saya.
Saya tidak tahu apakah ia masih mengingat Batra di Bambang Lipuro. Mungkin ia mengingatnya, mungkin juga tidak. Bagi saya, peristiwa itu sudah lama tersimpan di suatu tempat dalam ingatan, di antara nama-nama peserta, wajah-wajah muda, dan percakapan yang sebagian besar telah hilang.
Tetapi ketika saya mengetahui bahwa dialah yang menguji saya, ingatan itu seperti membuka pintu yang selama ini tertutup.
Tiba-tiba saya kembali menjadi observer nomor satu.
Saya kembali melihat 21 mahasiswa di sebuah lokal Batra. Saya kembali menyaksikan anak-anak muda yang menganggap setiap jawaban layak diperiksa. Saya kembali melihat Zuly sebagai mahasiswa semester satu, sebelum gelar profesor melekat pada namanya, sebelum ia duduk sebagai penguji, sebelum saya sendiri sampai pada tahap harus mempertanggungjawabkan sebuah penelitian di hadapan orang lain.
Saya membayangkan, kalau saja saya membawa lembar penilaian Batra tahun 1993 itu ke ruang ujian doktor, lalu meletakkannya di atas meja, apa yang akan terjadi?
Mungkin kami akan tertawa.
Mungkin saya akan bertanya kepadanya, apakah ia masih ingat pernah menjadi peserta yang nilainya tidak termasuk kelompok atas.
Mungkin ia akan menjawab bahwa penilaian itu memang benar.
Atau mungkin ia akan membantah, lalu mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat saya harus memeriksa kembali ingatan sendiri.
Saya tidak tahu.
Yang saya tahu, lembar penilaian hanya mencatat seseorang pada suatu waktu. Ia tidak sanggup mencatat seluruh kemungkinan yang bersembunyi di dalam diri seseorang.
Di Batra, kami menilai peserta berdasarkan apa yang terlihat selama kegiatan. Cara menjawab, keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan memahami persoalan, dan kesanggupan mengikuti proses. Semua itu diperlukan. Sebuah perkaderan tentu membutuhkan ukuran agar prosesnya tidak berjalan tanpa arah.
Namun, manusia bukan angka yang selesai dihitung ketika kegiatan berakhir.
Ada sesuatu yang tumbuh setelah pelatihan selesai. Ada pertanyaan yang baru menemukan jawabannya bertahun-tahun kemudian. Ada buku yang baru dibaca ketika seseorang sudah dewasa. Ada pengalaman yang mengubah cara berpikir. Ada kegagalan yang justru membuka pintu menuju pengetahuan baru.
Dan ada rasa ingin tahu yang tidak pernah selesai.
Saya sendiri, yang ketika itu masih observer nomor satu, akhirnya menempuh perjalanan hidup yang membawa saya ke ruang ujian doktor. Sementara Zuly, mahasiswa semester satu yang dahulu saya kenal di Bambang Lipuro, berdiri sebagai profesor dan menguji penelitian saya.
Kami bertukar posisi tanpa pernah merencanakannya.
Barangkali begitulah pendidikan bekerja. Ia tidak selalu memberikan hasil yang bisa dilihat pada hari terakhir sebuah kegiatan. Kadang-kadang hasilnya baru tampak ketika para peserta sudah berjalan jauh, melewati jalan yang berbeda-beda, dan tiba di tempat yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Seorang instruktur mungkin lupa apa yang pernah diajarkannya.
Seorang peserta mungkin lupa apa yang pernah ditanyakannya.
Seorang observer mungkin lupa apa yang pernah dicatatnya.
Tetapi kehidupan melanjutkan pelajaran itu dengan caranya sendiri.
Saya teringat lagi pada istilah observer.
Orang yang mengamati.
Selama ini saya mengira tugas seorang observer adalah melihat apa yang sedang berlangsung, mencatat apa yang terjadi, lalu memberikan penilaian berdasarkan pengamatan tersebut.
Ternyata, ada yang tidak saya pahami ketika itu.
Mengamati manusia berarti menyadari bahwa apa yang kita lihat hari ini bukanlah keseluruhan dirinya. Seorang mahasiswa semester satu bukan hanya mahasiswa semester satu. Seorang peserta dengan nilai biasa-biasa saja bukan berarti akan menjadi orang biasa-biasa saja. Seorang anak muda yang pertanyaannya belum tersusun rapi belum tentu akan berhenti bertanya ketika usianya bertambah.
Mungkin justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang kelak membawanya ke tempat yang lebih jauh.
Dan mungkin tugas seorang pendidik bukan memastikan siapa yang paling hebat di dalam kelas, melainkan menjaga agar mereka yang masih ingin tahu tidak kehilangan keberanian untuk terus mencari.
Tahun 1993, di Bambang Lipuro, saya belum menjadi instruktur lokal.
Saya baru observer nomor satu.
Tiga puluh tiga tahun kemudian, saya mulai memahami bahwa dalam pendidikan, kita semua sesungguhnya masih menjadi observer nomor satu.
Kita mengamati orang lain, mengamati perubahan, mengamati kehidupan. Kita membuat penilaian berdasarkan apa yang terlihat, lalu suatu hari menemukan bahwa kenyataan jauh lebih luas daripada catatan kita.
Bahkan seorang profesor pun tidak bisa diringkas dalam nilai Batra ketika ia masih mahasiswa semester satu.
Dan seorang doktor, setelah melewati perjalanan panjang untuk mempertanggungjawabkan pengetahuannya, masih bisa duduk di hadapan seorang penguji yang dahulu pernah ia amati dari sudut sebuah lokal pelatihan.
Mungkin, pada akhirnya, gelar hanya mengubah cara orang memanggil kita.
Yang menentukan ke mana kita pergi adalah apa yang terus kita tanyakan.
Di luar ruangan ujian, waktu berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang mengumumkan bahwa sejarah kecil baru saja berputar kembali. Tidak ada tepuk tangan untuk seorang observer lama. Tidak ada pula pengumuman bahwa mahasiswa semester satu dari 1993 telah menjadi profesor.
Semua berlangsung biasa saja.
Hanya saya yang membawa pulang sebuah ingatan dari Bambang Lipuro.
Sebuah ingatan tentang 21 mahasiswa, Muhammad Arifin, seorang peserta bernama Zuly Qodir, dan seorang observer nomor satu yang ternyata masih harus banyak belajar.
Saya tidak tahu apakah pada 1993 saya berhasil mengamati Zuly dengan tepat.
Tetapi sekarang saya tahu satu hal.
Kadang-kadang, orang yang kita nilai hari ini sedang menyiapkan jawaban yang baru akan kita pahami tiga puluh tiga tahun kemudian.
Dan ketika jawaban itu akhirnya datang, kita hanya bisa tersenyum, menyadari betapa terbatasnya penilaian manusia.
Saya pernah mengamati seorang mahasiswa.
Kini, mahasiswa itu menguji saya.
Barangkali itulah pelajaran Batra yang paling panjang.
Pelajaran yang tidak selesai ketika kegiatan ditutup, tidak selesai ketika sertifikat dibagikan, bahkan tidak selesai ketika seseorang berhasil meraih gelar doktor.
Sebab, dalam kehidupan, tidak seorang pun benar-benar lulus dari kewajiban untuk terus belajar.
Termasuk seorang observer nomor satu.
Aris Munandar, seorang petani dan tinggal di Magelang.