tembakau dapat diperkenalkan bukan semata-mata sebagai produk konsumsi, melainkan juga sebagai bagian dari sejarah pertanian dan keterampilan masyarakat.
MAGELANG, DARMEDIANETWORK – Panorama pegunungan, hamparan kebun sayur bertingkat, dan permukiman yang menempel di lereng menjadi daya tarik wisata di kawasan Gunung Sumbing, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun, di balik pemandangan yang menarik wisatawan, terdapat kehidupan petani yang menyimpan potensi pengalaman wisata lebih dekat dengan keseharian masyarakat.
Negeri Sayur Sukomakmur di Kecamatan Kajoran dan Nepal Van Java di Kecamatan Kaliangkrik menjadi dua contoh destinasi yang berkembang dengan memanfaatkan karakter alam serta kehidupan desa di lereng Sumbing.
Di Sukomakmur, lahan pertanian sayur membentuk terasering yang menjadi daya tarik pengunjung. Sementara itu, Nepal Van Java dikenal dengan permukiman bertingkat di Dusun Butuh yang menawarkan panorama pegunungan sekaligus gambaran kehidupan warga di kawasan berketinggian.
Potensi wisata di kawasan ini tidak harus berhenti pada panorama dan kegiatan berfoto. Pengetahuan petani mengenai tanaman, pengolahan hasil pertanian, hingga keterampilan tradisional dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Salah satu yang menarik untuk ditelusuri adalah tradisi pengolahan tembakau, termasuk kegiatan ngelinting atau melinting tembakau secara manual.
Tembakau dan kehidupan petani
Tembakau merupakan salah satu komoditas pertanian penting di kawasan sekitar Gunung Sumbing. Tanaman ini berkaitan dengan siklus musim, pengetahuan lokal, serta penghidupan keluarga petani.
Pemerintah Kabupaten Magelang pada Oktober 2025 memperkirakan luas tanaman tembakau pada musim tersebut mencapai sekitar 3.500 hektare, meningkat dibandingkan dengan sekitar 3.250 hektare pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menggambarkan besarnya peran komoditas tembakau dalam pertanian daerah, meskipun belum menjadi data luas tanam terbaru untuk 2026.
Dalam konteks pariwisata, tembakau dapat diperkenalkan bukan semata-mata sebagai produk konsumsi, melainkan juga sebagai bagian dari sejarah pertanian dan keterampilan masyarakat.
Kegiatan pengenalan dapat mencakup penjelasan tentang jenis tembakau, proses penanganan daun setelah panen, pengolahan rajangan, serta demonstrasi keterampilan melinting oleh warga yang menguasainya.
Pengalaman semacam itu berpotensi melengkapi wisata alam dengan pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat setempat. Namun, pelaksanaannya memerlukan keterlibatan petani dan persetujuan warga, serta tidak boleh dianggap sebagai paket wisata yang sudah tersedia apabila belum ada konfirmasi dari pengelola.
Dari ritual budaya hingga pengalaman wisata
Hubungan masyarakat dengan tembakau juga memiliki dimensi budaya.
Pada 29 Juli 2025, warga Dusun Gopaan, Desa Genito, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, menggelar tradisi Manten Tembakau. Ritual tersebut berkaitan dengan doa dan harapan masyarakat terhadap kelancaran musim tembakau serta penghidupan petani.
Tradisi ini menunjukkan bahwa tembakau tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi. Dalam kehidupan sebagian masyarakat, tanaman tersebut juga memiliki hubungan dengan pengetahuan lokal, harapan terhadap hasil panen, dan praktik budaya yang diwariskan.
Meski demikian, Manten Tembakau dan ngelinting tembakau merupakan dua hal berbeda. Manten Tembakau merupakan ritual budaya, sedangkan ngelinting adalah kegiatan meracik dan menggulung tembakau. Keduanya tidak dapat diperlakukan sebagai satu tradisi yang sama.
Jika dikembangkan secara hati-hati, pengenalan budaya pertanian dapat menjadi bagian dari wisata edukasi. Pengunjung tidak hanya melihat hasil akhir berupa panorama kebun, tetapi juga memahami proses produksi dan kehidupan orang-orang yang merawat lahan tersebut.
Menghubungkan wisata dengan pendapatan petani
Pengembangan wisata berbasis pertanian menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana peningkatan kunjungan wisata dapat memberikan tambahan pendapatan bagi warga yang menjadi bagian dari daya tarik destinasi?
Kehadiran wisatawan berpotensi membuka peluang bagi penjualan hasil pertanian, kuliner lokal, jasa pemandu, serta kegiatan edukasi yang dikelola masyarakat. Namun, manfaat tersebut tidak terjadi secara otomatis. Diperlukan pengaturan kerja sama antara pengelola wisata, petani, kelompok sadar wisata, dan pelaku usaha kecil.
Gagasan menggabungkan panorama terasering, kehidupan petani, dan pengenalan pengolahan tembakau juga perlu mempertimbangkan kondisi lahan pertanian. Aktivitas wisata seharusnya tidak mengganggu pekerjaan petani, merusak tanaman, atau menghambat akses menuju kebun.
Selain itu, pengenalan tembakau perlu ditempatkan sebagai edukasi pertanian dan budaya, bukan promosi konsumsi rokok. Risiko kesehatan akibat penggunaan produk tembakau tetap perlu diperhatikan.
Sampai saat ini, belum ada konfirmasi yang cukup untuk menyatakan bahwa paket wisata ngelinting tembakau telah beroperasi secara rutin di Negeri Sayur Sukomakmur maupun Nepal Van Java.
Karena itu, pengembangan gagasan tersebut perlu diawali dengan pemetaan warga yang masih memiliki keterampilan melinting tembakau, kesediaan petani untuk menerima pengunjung, serta kesiapan pengelola wisata dalam menyusun kegiatan yang aman dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, wisata lereng Sumbing berpeluang menawarkan pengalaman yang lebih beragam. Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan dari kejauhan, tetapi juga mengenal pengetahuan, pekerjaan, dan kebudayaan masyarakat yang membentuk lanskap pegunungan itu sendiri.
Editor: Aris Munandar