Editorial Pagi: Pajak, dan Lubang yang Tak Pernah Penuh

4 Min Read
Ilustrasi gambar judul "Pajak"

Ironinya, di negeri yang demikian kaya, rakyat masih terus diyakinkan bahwa anggaran selalu kurang.

DMNETWORK – Ada kalanya negara terasa seperti tangan yang selalu datang lebih dulu daripada pelukan. Ia hadir ketika gaji diterima, ketika sebungkus beras dibeli, ketika sepeda motor dihidupkan, ketika rumah diwariskan, bahkan ketika seseorang mencoba membuka usaha kecil. Di setiap simpang kehidupan, ada satu kata yang selalu menyertai: pajak.

Pajak lahir dari sebuah gagasan yang sederhana sekaligus luhur. Rakyat menyerahkan sebagian miliknya agar negara dapat menjaga milik bersama. Jalan dibangun, sekolah didirikan, rumah sakit dibuka, sawah diairi, hutan dijaga, laut dipelihara. Pajak, dalam pengertian itu, adalah bentuk gotong royong yang paling modern.

Tetapi gotong royong selalu mensyaratkan kepercayaan.

Ketika rakyat merasa terus diminta menyumbang sementara hasilnya tak kunjung tampak, yang tumbuh bukan lagi kebanggaan sebagai warga negara, melainkan pertanyaan yang menggantung di langit-langit kesadaran. Ke mana semua itu mengalir? Mengapa sekolah masih roboh, sungai tetap keruh, petani masih mengeluh pestisida mahal, dan nelayan pulang membawa hasil yang semakin sedikit?

- Iklan -
Ad imageAd image

Pertanyaan itu menjadi lebih nyaring ketika negeri ini berdiri di atas kekayaan yang tak sedikit. Gunung-gunung menyimpan mineral. Laut membentang dengan ikan yang melimpah. Hutan menyediakan kayu, udara, dan kehidupan. Tanah mengandung nikel, emas, batu bara, tembaga, gas, serta minyak yang sejak lama diperebutkan banyak pihak.

Ironinya, di negeri yang demikian kaya, rakyat masih terus diyakinkan bahwa anggaran selalu kurang.

Di sinilah kegelisahan itu bermula. Pajak terus dinaikkan atau diperluas, sementara sumber daya alam seolah menjadi kisah yang berjalan di lorong-lorong gelap. Kita mendengar angka investasi, nilai ekspor, pertumbuhan ekonomi, tetapi jarang benar-benar memahami berapa besar kekayaan alam yang keluar dari perut bumi, siapa yang menikmatinya, dan berapa bagian yang kembali menjadi kesejahteraan rakyat.

Sumber daya alam memiliki sifat yang berbeda dari pajak. Pajak selalu bisa dipungut lagi tahun depan. Tetapi emas yang telah diambil tak akan tumbuh kembali. Batu bara yang dibakar tak akan kembali menjadi gunung. Hutan yang hilang memerlukan puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih, jika memang masih mungkin.

Karena itu, setiap tetes minyak, setiap bongkah mineral, setiap batang kayu sesungguhnya adalah tabungan lintas generasi. Ia bukan hanya milik pemerintah hari ini, bukan pula milik perusahaan yang mengelolanya. Ia juga milik anak-anak yang belum lahir.

Maka persoalannya bukan sekadar berapa besar pajak dipungut. Persoalannya adalah apakah negara telah mengelola seluruh kekayaannya dengan bijaksana. Sebab rakyat akan lebih mudah menerima kewajiban apabila melihat bahwa seluruh sumber pendapatan negara dikelola secara jujur, transparan, dan berpihak pada kepentingan bersama.

- Iklan -
Ad image

Negara tidak boleh menjadi penagih yang rajin tetapi pengelola yang lalai.

Barangkali yang dibutuhkan bukan sekadar tambahan penerimaan, melainkan tambahan kepercayaan. Sebab kepercayaan adalah mata uang yang nilainya jauh melampaui rupiah. Ketika kepercayaan hadir, membayar pajak terasa sebagai partisipasi. Ketika kepercayaan hilang, pajak berubah menjadi beban yang dipikul dengan gigi terkatup.

Negeri ini terlalu kaya untuk terus merasa miskin. Dan rakyat terlalu sabar untuk terus diminta mengerti tanpa pernah diajak mengetahui.

Mungkin, pada akhirnya, persoalan pajak bukan terutama soal uang. Ia adalah soal hubungan antara negara dan warganya. Tentang apakah keduanya masih duduk di meja yang sama sebagai sesama pemilik republik, atau telah saling memandang dari balik kaca yang semakin tebal.

Di situlah sebuah bangsa diuji. Bukan pada seberapa besar ia mampu menarik pajak, melainkan pada seberapa adil ia menjaga kekayaan yang telah diwariskan bumi kepadanya. (Redaksi)

Share This Article
error: Content is protected !!