Hari ini tembakau bisa bagus, besok belum tentu bagus. Makanya petani tembakau harus terus belajar setiap tahun
TEMANGGUNG, DMNETWORK – Hari kedua Pelatihan Budidaya Tembakau di Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Soropadan, Pringsurat, Temanggung, Selasa (14/7/2026), menghadirkan praktisi tembakau Yuda Sudharmaji, petani asal Dusun Jlumprit, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.
Mengawali materinya sekitar pukul 10.30 WIB, Yuda memperkenalkan dirinya sebagai orang yang lahir, besar, dan hidup dari keluarga petani tembakau.
“Saya belajar tembakau secara otodidak. Sampai sekarang pun masih belajar. Dalam tembakau sebenarnya tidak ada ahli. Yang ada adalah orang yang mau belajar setiap musim tanam,” ujarnya.
Menurut Yuda, karakter tembakau selalu berubah mengikuti musim, cuaca, kondisi lahan, hingga perlakuan budidaya. Karena itu pengalaman tahun lalu belum tentu berlaku pada musim berikutnya.
“Hari ini tembakau bisa bagus, besok belum tentu bagus. Makanya petani tembakau harus terus belajar setiap tahun,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap varietas akan menyesuaikan karakter wilayah tempat tumbuhnya. Tembakau Muntilan yang ditanam di Temanggung, misalnya, akan menunjukkan karakter berbeda dibanding ketika ditanam di daerah asalnya. Begitu pula varietas dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki ciri khas tersendiri sesuai kondisi geografis setempat.
Menurutnya, kualitas tembakau sangat dipengaruhi oleh indikasi geografis, yakni perpaduan antara tanah, iklim, ketinggian tempat, curah hujan, hingga budaya budidaya masyarakat setempat.
Selain menjadi petani, Yuda juga aktif dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) serta tergabung dalam Komite Pertembakauan. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian budaya tembakau, termasuk Festival Tembakau Lembutan di Temanggung.
Sejarah Panjang Tembakau
Dalam sesi literasi, Yuda mengajak peserta memahami bahwa tembakau memiliki sejarah yang sangat panjang.
Tanaman tembakau berasal dari benua Amerika dan telah digunakan masyarakat adat selama ribuan tahun, terutama sebagai tanaman ritual dan obat tradisional. Ketika penjelajah Eropa datang ke Amerika pada abad ke-15, mereka membawa tanaman tersebut ke Eropa.
Nama ilmiah tembakau, Nicotiana tabacum, diambil dari nama Jean Nicot, diplomat Prancis pada abad ke-16 yang memperkenalkan tembakau ke istana Prancis sebagai tanaman obat. Dari nama Nicot pula kemudian dikenal istilah nikotin, senyawa alkaloid alami yang terdapat pada daun tembakau.
Dalam perkembangannya, tembakau menyebar ke Asia, termasuk Nusantara, dan menjadi salah satu komoditas perkebunan penting yang menopang ekonomi masyarakat di berbagai daerah, seperti Temanggung, Madura, Lombok, Deli, Jember, hingga Besuki.
Yuda juga menjelaskan adanya beragam kelas penggunaan tembakau. Pada segmen premium, tembakau digunakan sebagai bahan baku cerutu yang membutuhkan standar mutu sangat tinggi. Sementara pada tingkat konsumsi rakyat, tembakau banyak digunakan untuk rokok linting tradisional.
Mengapa Tembakau Kini Menjadi Kontroversi?
Dalam penjelasannya, Yuda mengakui bahwa tembakau kini menjadi salah satu komoditas yang paling banyak diperdebatkan.
Di satu sisi, tembakau menjadi sumber penghidupan jutaan petani, buruh tani, pedagang, hingga pekerja industri hasil tembakau. Negara juga memperoleh penerimaan besar dari cukai hasil tembakau.
Namun di sisi lain, berbagai penelitian medis menunjukkan bahwa konsumsi produk tembakau, terutama melalui kebiasaan merokok, meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti kanker paru, penyakit jantung, stroke, dan gangguan pernapasan. Karena alasan kesehatan masyarakat inilah banyak negara menerapkan pengendalian konsumsi rokok melalui pembatasan iklan, kenaikan cukai, kawasan tanpa rokok, hingga edukasi kesehatan.
Menurut Yuda, di tengah perdebatan tersebut, petani tetap perlu meningkatkan kualitas budidaya agar tembakau Indonesia memiliki daya saing tinggi di pasar sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani yang telah diwariskan turun-temurun.
“Petani tidak bisa mengendalikan cuaca, tetapi bisa mengendalikan cara belajar. Itulah sebabnya setiap musim tanam adalah sekolah baru bagi petani tembakau,” tutupnya.***