Hari Pertama Pelatihan, Peserta Bapeltan Jateng Belajar Mengenali Tanah Sehat dan Tanah Subur

3 Min Read
Hendy Nursetyo, sedang memaparkan materinya di kelas c budidaya tembakau (foto: rist)
TEMANGGUNG, DMNETWORK – Hari pertama Pelatihan Budidaya Tembakau di Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Senin (13/7/2026), diisi dengan materi dasar mengenai kesuburan tanah dan tanah sehat sebagai fondasi utama dalam menghasilkan tanaman tembakau yang berkualitas.
Pelatihan yang berlangsung hingga 16 Juli 2026 itu dibagi menjadi empat kelas, terdiri atas dua kelas Budidaya Tembakau dan dua kelas Agribisnis Milenial. Setiap kelas diikuti 30 peserta dari tiga kabupaten di Jawa Tengah.
Materi hari pertama disampaikan oleh Hendy Nurseto dan Sofyan, petani milenial yang mengembangkan usaha pertanian di Banjarnegara dan kawasan Kopeng. Keduanya mengajak peserta memahami pentingnya mengenali kondisi tanah sebelum memulai budidaya.
Dalam pemaparannya, Hendy Nurseto menegaskan bahwa keberhasilan budidaya tidak dimulai dari pemberian pupuk, melainkan dari pemahaman terhadap kondisi lahan.
“Banyak petani berpikir hasil panen ditentukan oleh pupuk. Padahal langkah pertama adalah mengenali tanahnya. Kalau tanahnya sehat, akar berkembang dengan baik, unsur hara mudah diserap, dan tanaman akan tumbuh lebih optimal,” ujar Sofyan.
Ia menjelaskan, tanah sehat memiliki struktur yang gembur, kaya bahan organik, memiliki aktivitas mikroorganisme yang tinggi, mampu menyimpan air dan udara secara seimbang, serta bebas dari pencemaran akibat penggunaan bahan kimia secara berlebihan.
Sementara itu, tanah subur adalah tanah yang mampu menyediakan unsur hara esensial, air, dan oksigen dalam jumlah yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Kesuburan tanah dipengaruhi oleh sifat fisik, kimia, dan biologinya sehingga harus dijaga secara berkelanjutan melalui pengelolaan yang tepat.
Sofyan menambahkan, petani saat ini perlu mengubah pola pikir dari sekadar bercocok tanam menjadi mengelola lahan berdasarkan data dan kondisi nyata di lapangan.
“Pertanian modern bukan berarti semuanya menggunakan mesin. Yang paling penting adalah cara berpikirnya. Petani harus mampu membaca kondisi tanah, menghitung kebutuhan pupuk, menjaga bahan organik, dan menggunakan teknologi secara tepat agar biaya produksi lebih efisien,” kata Sofyan.
Menurutnya, penggunaan pupuk yang berlebihan tanpa mengetahui kondisi tanah justru dapat menurunkan kesuburan lahan dalam jangka panjang. Karena itu, petani perlu membiasakan diri melakukan pengamatan terhadap struktur tanah, warna tanah, kelembapan, hingga keberadaan organisme seperti cacing sebagai indikator kesehatan tanah.
Suasana kelas berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai cara memperbaiki lahan yang mulai mengalami penurunan kesuburan, penggunaan pupuk organik, hingga teknik menjaga keseimbangan unsur hara untuk budidaya tembakau.
Pelatihan Budidaya Tembakau di Bapeltan Soropadan akan berlangsung selama empat hari dengan materi yang mencakup teknik budidaya, pengendalian organisme pengganggu tanaman, penanganan pascapanen, serta pengembangan agribisnis. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di daerah masing-masing dan menjadi agen perubahan dalam meningkatkan produktivitas serta kualitas komoditas tembakau di Jawa Tengah.***
Share This Article
error: Content is protected !!