MTQ Nasional Kembali ke Jawa Tengah Setelah 47 Tahun

4 Min Read
Masjid Baiturrahman simpang lima Semarang, akan menjadi pusat perhatian dalam perhelatan MTQ Nasional di Jawa tengah, pertengahan September 2026 ini (foto: istimewa)

SEMARANG, DMNETWORK — Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 akan kembali digelar di Jawa Tengah setelah 47 tahun. Kota Semarang dipercaya menjadi pusat penyelenggaraan ajang nasional tersebut pada 11–20 September 2026.

Keputusan menjadikan Jawa Tengah sebagai tuan rumah bukan sekadar agenda rutin. Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan Jawa Tengah sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXI melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 715 Tahun 2025. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kemudian membentuk panitia penyelenggara melalui Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/61 Tahun 2026.
Semarang terakhir menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada 1979. Dengan demikian, penyelenggaraan tahun ini menjadi kali kedua Jawa Tengah dipercaya menggelar MTQ Nasional sejak ajang tersebut pertama kali diselenggarakan di Makassar pada 1968.
Rentang waktu 47 tahun itu membuat penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI memiliki bobot historis tersendiri. Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah Saiful Mujab menyebut kembalinya MTQ nasional ke Jawa Tengah sebagai momentum besar setelah puluhan tahun.
“Kita sepakat mengusung semangat sukses prestasi, bukan hanya sukses pelaksanaan,” kata Saiful.
Persiapan pun dilakukan sejak jauh hari. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kanwil Kemenag, LPTQ dan berbagai perangkat daerah menyiapkan venue, akomodasi, transportasi, pelayanan kafilah, hingga rangkaian kegiatan pendukung.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno pada Agustus lalu menyatakan persiapan MTQ Nasional telah mencapai sekitar 90 persen. Penataan venue pembukaan di kawasan Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, juga telah dimulai.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan kedatangan dan registrasi kafilah pada 11–12 September. Pembukaan dijadwalkan berlangsung 12 September di Lapangan Pancasila, Simpang Lima. Perlombaan berlangsung 13–19 September, kemudian penutupan pada 19 September dan kepulangan kafilah pada 20 September.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tidak ingin keberhasilan Jawa Tengah hanya diukur dari kemampuan menyelenggarakan acara. Ia juga memasang target prestasi bagi kafilah Jawa Tengah.
“Kita ini sebagai tuan rumah harus berhasil. Tetapi jangan penyelenggaraannya saja yang berhasil, kafilahnya juga harus berhasil. Itu baru jagoan,” ujar Luthfi pada 2 September 2026.
Target tersebut sejalan dengan pembinaan yang dilakukan LPTQ dan Kanwil Kemenag Jawa Tengah. Sebanyak 104 calon peserta telah mengikuti pelatihan peningkatan mutu dan kualitas kafilah. Sekretaris Umum LPTQ Jawa Tengah Imam Buchori bahkan menegaskan target pembinaan diarahkan untuk meraih juara, bukan sekadar menembus peringkat 15 besar.
Dari pemerintah pusat, Kementerian Agama juga membawa agenda pembaruan. Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI Muchlis Muhammad Hanafi mengatakan penyelenggaraan MTQ di Jawa Tengah akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sistem perhakiman. Salah satunya melalui pembentukan Majelis Kode Etik Dewan Hakim, yang disebut sebagai langkah baru dalam sejarah penyelenggaraan MTQ Nasional.
Dengan demikian, MTQ Nasional XXXI di Semarang bukan hanya peristiwa keagamaan yang mempertemukan kafilah dari berbagai daerah. Pemerintah Jawa Tengah melihatnya sebagai momentum syiar Al-Qur’an sekaligus ajang menunjukkan kemampuan daerah menjadi tuan rumah kegiatan nasional.
Setelah 47 tahun, Semarang kembali menjadi panggung tempat suara tilawah, hafalan, tafsir, kaligrafi dan karya ilmiah Al-Qur’an bertemu. Bedanya, kali ini Jawa Tengah tidak hanya membawa nostalgia 1979, tetapi juga membawa target baru: sukses sebagai tuan rumah dan berprestasi sebagai peserta. Redaksi

Share This Article
error: Content is protected !!