DMNETWORK – JAKARTA, – Erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu lalu lintas penerbangan. Kementerian Perhubungan menutup sementara enam bandar udara akibat sebaran abu vulkanik pada Minggu (6/9/2026).
Enam bandara tersebut ialah Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Pondok Cabe, Budiarto Curug, Radin Inten II Bandar Lampung, dan Husein Sastranegara Bandung.
Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan setelah sebaran abu vulkanik memasuki wilayah ruang udara yang berpengaruh terhadap operasional penerbangan.
Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu titik yang mengalami penghentian operasional. Pada Minggu pagi, abu vulkanik bahkan terpantau di sejumlah area Terminal 3. Otoritas bandara memperpanjang penghentian operasional penerbangan seiring perkembangan kondisi.
Dampaknya menjalar ke sejumlah penerbangan.
Reuters melaporkan sedikitnya 301 penerbangan terdampak, termasuk 58 penerbangan internasional. Sejumlah maskapai membatalkan penerbangan menuju dan dari Jakarta.
Abu vulkanik menjadi persoalan serius bagi penerbangan karena dapat membahayakan mesin dan sistem pesawat. Karena itu, keputusan menutup bandara bukan semata-mata persoalan administratif, melainkan bagian dari prosedur keselamatan penerbangan.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk mengantisipasi gangguan operasional.
Penutupan bandara menunjukkan bagaimana erupsi sebuah gunung di Selat Sunda dapat berdampak pada sistem transportasi udara dalam radius yang jauh dari sumber erupsi.
Abu vulkanik dibawa angin dan dapat mencapai ketinggian yang digunakan pesawat untuk terbang. BMKG mencatat sebaran abu Anak Krakatau mencapai lapisan atmosfer hingga puluhan ribu kaki.
Karena itu, pemulihan penerbangan tidak cukup hanya dengan menunggu abu menghilang dari landasan.
Otoritas penerbangan harus memastikan ruang udara berada dalam kondisi yang aman sebelum operasional kembali normal.
Bagi penumpang, konsekuensinya jelas: jadwal penerbangan berubah, penerbangan dibatalkan, dan sebagian perjalanan harus dialihkan.
Gunung Anak Krakatau kali ini bukan hanya menutup sebagian langit.
Ia juga memaksa sistem transportasi udara Indonesia untuk berhenti sejenak, menunggu alam kembali memberikan ruang aman bagi pesawat.***